Akurat Logo

Walau Komisi Gojek Jadi 8 Persen, GoTo Tetap Yakin Capai Target Laba Operasional

Idham Nur Indrajaya | 30 Juli 2026, 15:23 WIB
Walau Komisi Gojek Jadi 8 Persen, GoTo Tetap Yakin Capai Target Laba Operasional
Komisi Gojek menjadi 8%, tetapi GoTo tetap mempertahankan target laba operasional. Simak strategi dan alasan di balik optimisme perusahaan. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Ketika pemerintah menetapkan komisi aplikasi transportasi online maksimal menjadi 8%, banyak pihak memperkirakan perusahaan ride hailing akan menghadapi tekanan terhadap pendapatan dan profitabilitasnya. Kekhawatiran itu cukup beralasan mengingat komisi merupakan salah satu sumber pendapatan utama platform digital. Namun, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (BEI: GOTO) justru mengambil sikap berbeda. Meski aturan baru mulai berlaku, perusahaan tetap mempertahankan target laba operasional atau EBITDA yang disesuaikan sepanjang 2026.

Optimisme tersebut menjadi salah satu pesan terpenting dalam laporan kinerja kuartal II-2026. Alih-alih berfokus pada potensi penurunan pendapatan akibat pembatasan komisi, GoTo menilai kekuatan ekosistem bisnis yang dimilikinya mampu menjaga pertumbuhan perusahaan. Dengan kata lain, perubahan regulasi memang memberikan tantangan, tetapi bukan ancaman yang cukup besar untuk mengubah arah bisnis perusahaan.

Ringkasan

Singkatnya, GoTo tetap mempertahankan target EBITDA sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun karena bisnis transportasi roda dua hanya menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup. Selain itu, pertumbuhan pesat bisnis fintech diperkirakan mampu mengimbangi penurunan kontribusi dari layanan transportasi.

Beberapa faktor yang menjadi dasar optimisme GoTo antara lain:

  • Aturan komisi baru hanya berlaku untuk bisnis transportasi roda dua.

  • Kontribusi bisnis tersebut sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup.

  • Target EBITDA Grup 2026 tetap dipertahankan di kisaran Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun.

  • Proyeksi laba operasional bisnis fintech justru dinaikkan.

  • GoTo memiliki ekosistem yang terdiri atas layanan transportasi, pengantaran, pembayaran digital, hingga pembiayaan yang saling menopang.

Artinya, perusahaan tidak lagi bergantung pada satu lini bisnis untuk menghasilkan keuntungan. Ketika salah satu sektor menghadapi tekanan akibat regulasi, sektor lain dapat mengambil peran yang lebih besar.

Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan perubahan komisi memang akan mulai tercermin pada laporan keuangan kuartal III-2026. Namun, hingga satu bulan setelah kebijakan diberlakukan, kondisi operasional perusahaan masih berjalan stabil.

"Pada 1 Juli 2026, struktur komisi baru mulai diberlakukan sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil," ujar Hans Patuwo melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 30 Juli 2026.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa GoTo tidak melihat kebijakan komisi 8% sebagai faktor yang akan mengganggu kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Apa Dampak Aturan Komisi 8% terhadap Bisnis GoTo?

Bagi masyarakat umum, pembatasan komisi aplikasi sering kali dipahami sebagai kabar buruk bagi perusahaan ride hailing. Logikanya sederhana, jika persentase komisi turun, maka pendapatan perusahaan juga ikut berkurang.

Namun, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu.

Regulasi terbaru memang membatasi komisi aplikasi pada layanan transportasi roda dua. Akan tetapi, struktur bisnis GoTo saat ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu ketika perusahaan masih sangat bergantung pada layanan transportasi.

Kini, GoTo memiliki berbagai sumber pendapatan lain, mulai dari layanan pengantaran makanan dan barang, pembayaran digital melalui GoPay, hingga bisnis pembiayaan (lending). Diversifikasi inilah yang membuat perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk menyerap dampak dari perubahan regulasi.

Dalam laporan keuangannya, GoTo bahkan secara terbuka mengubah proyeksi kontribusi masing-masing lini bisnis. Perusahaan menaikkan target EBITDA bisnis fintech menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Sebaliknya, target EBITDA bisnis On-demand Services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa GoTo tidak berusaha menutup-nutupi dampak regulasi. Perusahaan mengakui bisnis transportasi akan menghadapi tekanan, tetapi pada saat yang sama telah menyiapkan sumber pertumbuhan lain yang dinilai mampu menjaga kinerja Grup.

Ketahanan Ekosistem Menjadi Kunci Strategi GoTo

Salah satu informasi yang paling menarik dari laporan keuangan GoTo justru bukan soal naik atau turunnya komisi, melainkan bagaimana perusahaan memanfaatkan kekuatan ekosistemnya.

Selama bertahun-tahun, banyak orang mengenal GoTo sebagai perusahaan transportasi online. Akibatnya, setiap perubahan kebijakan yang menyangkut layanan Gojek sering dianggap akan langsung memengaruhi kondisi keuangan perusahaan.

Padahal, struktur bisnis GoTo saat ini sudah jauh berbeda.

Pendapatan Grup berasal dari berbagai layanan yang saling terhubung. Pengguna yang memesan perjalanan menggunakan Gojek juga dapat menggunakan GoPay untuk membayar transaksi, membeli pulsa, membayar tagihan, hingga mengakses layanan pinjaman digital. Semakin banyak layanan yang digunakan dalam satu ekosistem, semakin kecil ketergantungan perusahaan terhadap satu sumber pendapatan.

Karena itu, ketika pemerintah menetapkan batas komisi baru, dampaknya tidak otomatis menggerus seluruh bisnis GoTo.

Hans Patuwo menegaskan bahwa keyakinan perusahaan mempertahankan target EBITDA tidak lepas dari kekuatan ekosistem tersebut.

"Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar."

Pernyataan tersebut mengandung pesan penting. Fokus GoTo kini bukan lagi mempertahankan dominasi satu lini bisnis, melainkan memastikan seluruh ekosistem dapat saling menopang ketika salah satu unit usaha menghadapi tantangan.

Pendekatan ini sekaligus menunjukkan perubahan strategi perusahaan teknologi di Indonesia. Jika beberapa tahun lalu pertumbuhan pengguna dan volume transaksi menjadi indikator utama, kini kemampuan membangun ekosistem yang mampu bertahan terhadap perubahan regulasi justru menjadi faktor yang semakin menentukan.

Baca Juga: Cara Daftar Gojek Driver 2026: Syarat, Langkah Pendaftaran, Penghasilan, dan Tips Agar Cepat Diterima

Baca Juga: Gojek Perluas Program Apresiasi Mitra, Driver Kini Berpeluang Dapat Umrah hingga Beasiswa

Bisnis Fintech Menjadi Penopang Baru di Tengah Tekanan Regulasi

Keputusan GoTo mempertahankan target EBITDA bukan muncul tanpa dasar. Jika dicermati lebih jauh, laporan keuangan kuartal II-2026 menunjukkan perusahaan memiliki "penyeimbang" yang mampu mengurangi tekanan terhadap bisnis transportasi, yakni lini Fintech melalui GoPay.

Justru ketika bisnis transportasi harus bersiap menghadapi dampak pembatasan komisi, layanan keuangan digital menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat.

Pada kuartal II-2026, bisnis Fintech membukukan:

  • EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp481 miliar, naik 447% yoy.

  • Pendapatan bersih lebih dari Rp2,07 triliun, meningkat 53% yoy.

  • GTV inti mencapai Rp157 triliun, tumbuh 91% yoy.

  • Jumlah transaksi melonjak 91% yoy menjadi 2,4 miliar transaksi.

  • Nilai buku pinjaman mencapai Rp11 triliun, meningkat 58% yoy.

Sebaliknya, bisnis On-demand Services memang masih bertumbuh, tetapi lajunya jauh lebih moderat.

Pendapatan bersih ODS naik 20% yoy menjadi Rp3,59 triliun, sementara EBITDA yang disesuaikan meningkat 41% yoy menjadi Rp464 miliar. Namun, GTV hanya bertambah 2% yoy menjadi Rp16,7 triliun.

Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa mesin pertumbuhan GoTo kini semakin beragam. Ketika satu bisnis menghadapi perlambatan akibat faktor eksternal seperti regulasi, bisnis lain justru mampu mengambil peran yang lebih besar.

Inilah yang membedakan kondisi GoTo saat ini dengan beberapa tahun lalu. Dulu, tekanan terhadap bisnis transportasi hampir selalu dianggap sebagai ancaman terhadap keseluruhan perusahaan. Kini, ekosistem yang lebih matang membuat dampaknya menjadi lebih terukur.

Mengapa Target Fintech Dinaikkan, tetapi ODS Diturunkan?

Salah satu sinyal paling jelas mengenai arah strategi GoTo terlihat dari perubahan pedoman (guidance) kinerja masing-masing lini bisnis.

Perusahaan menaikkan target EBITDA bisnis Fintech menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Di sisi lain, target EBITDA On-demand Services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.

Sekilas, revisi tersebut bisa dianggap sebagai konsekuensi langsung dari aturan komisi 8%. Namun, jika ditelaah lebih dalam, perubahan ini juga mencerminkan strategi perusahaan yang lebih realistis.

GoTo tidak mencoba mempertahankan proyeksi lama ketika kondisi pasar berubah. Sebaliknya, perusahaan mengakui bahwa regulasi baru akan memengaruhi kontribusi bisnis transportasi, sembari mengoptimalkan peluang pertumbuhan dari layanan keuangan digital yang masih memiliki ruang ekspansi besar.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan teknologi saat ini tidak lagi bergantung pada satu produk unggulan, melainkan pada kemampuannya mengalokasikan sumber daya ke bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.

Ilustrasi Sederhana: Mengapa Ekosistem Membuat GoTo Lebih Tahan?

Bayangkan sebuah pusat perbelanjaan yang memiliki puluhan penyewa.

Jika satu toko mengalami penurunan penjualan, bukan berarti seluruh pusat perbelanjaan ikut merugi. Masih ada restoran, bioskop, supermarket, hingga toko elektronik yang tetap ramai dan menghasilkan pendapatan.

Kondisi serupa terjadi di GoTo.

Layanan transportasi memang merupakan salah satu "tenant" terbesar dalam ekosistem perusahaan. Namun, GoTo juga memiliki bisnis pembayaran digital, layanan keuangan, pengantaran makanan, pengiriman barang, dan berbagai layanan lain yang saling terhubung.

Ketika satu unit usaha menghadapi tekanan akibat perubahan regulasi, unit lain masih mampu menjaga pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan.

Inilah alasan mengapa Hans Patuwo menyebut kekuatan ekosistem sebagai fondasi utama strategi GoTo.

Bahkan, perusahaan tetap melanjutkan berbagai investasi untuk mendukung mitra pengemudi sebagai bagian dari ekosistem tersebut.

"Seiring dengan berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan kami, termasuk mendukung Mitra Driver Gojek, di antaranya melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Beasiswa, hingga Umrah gratis. Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo," kata Hans.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa strategi GoTo tidak hanya berfokus menjaga profitabilitas jangka pendek, tetapi juga mempertahankan keberlanjutan ekosistem yang menjadi fondasi bisnisnya.


Investor Kini Punya Alasan Baru Melihat GoTo

Selama beberapa tahun terakhir, investor kerap menilai perusahaan teknologi dari jumlah pengguna atau nilai transaksi yang berhasil dibukukan.

Namun, tren tersebut mulai berubah.

Pasar kini lebih memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara konsisten, menjaga margin, serta memiliki model bisnis yang mampu bertahan menghadapi perubahan regulasi.

Dalam konteks ini, keputusan GoTo mempertahankan target EBITDA meski komisi Gojek dipangkas menjadi 8% mengirimkan pesan penting kepada pasar.

Artinya, perusahaan merasa memiliki fondasi bisnis yang cukup kuat untuk menyerap tekanan eksternal tanpa harus mengubah target operasionalnya.

Kepercayaan diri tersebut diperkuat oleh capaian EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp1,01 triliun, naik 137% yoy dan menjadi yang pertama kali menembus level Rp1 triliun dalam satu kuartal.

Pendapatan bersih juga meningkat 31% yoy menjadi Rp5,7 triliun, sementara GTV inti melonjak 83% yoy menjadi Rp164 triliun.

Bagi investor, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan GoTo tidak hanya bergantung pada layanan transportasi, tetapi juga ditopang oleh diversifikasi bisnis yang semakin matang.

Apa Dampaknya bagi Mitra Gojek dan Pengguna?

Bagi mitra pengemudi, pembatasan komisi tentu menjadi salah satu isu yang paling diperhatikan.

Meski demikian, laporan keuangan GoTo belum menunjukkan adanya perubahan signifikan terhadap kondisi operasional setelah satu bulan aturan tersebut diterapkan.

Sebaliknya, perusahaan justru menegaskan komitmennya untuk terus mendukung mitra melalui berbagai program kesejahteraan.

Di sisi pengguna, perubahan strategi ini juga membuka peluang hadirnya lebih banyak inovasi layanan digital.

Dengan semakin besarnya kontribusi bisnis fintech, pengguna berpotensi memperoleh layanan pembayaran, pembiayaan, maupun transaksi digital yang semakin terintegrasi dengan berbagai layanan lain dalam ekosistem GoTo.

Artinya, arah pengembangan perusahaan tidak hanya berfokus pada layanan transportasi, tetapi juga memperkuat pengalaman pengguna dalam aktivitas keuangan sehari-hari.

Regulasi Tidak Lagi Menjadi Penentu Tunggal Masa Depan GoTo

Salah satu pelajaran penting dari laporan keuangan kuartal II-2026 adalah bahwa perubahan regulasi tidak selalu berujung pada penurunan prospek bisnis.

Dalam kasus GoTo, pembatasan komisi memang mengurangi potensi kontribusi bisnis transportasi roda dua.

Namun, karena perusahaan telah membangun ekosistem yang lebih beragam, dampaknya dapat diimbangi oleh pertumbuhan bisnis lain, khususnya layanan keuangan digital.

Ini menjadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi Indonesia mulai memasuki fase yang lebih matang.

Persaingan tidak lagi hanya soal siapa yang memiliki pengguna terbanyak, tetapi siapa yang mampu membangun model bisnis yang lebih tangguh ketika menghadapi perubahan kebijakan maupun dinamika pasar.

Dengan kata lain, kekuatan utama GoTo saat ini bukan terletak pada satu layanan, melainkan pada kemampuan seluruh ekosistem untuk saling menopang.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa perusahaan tetap percaya diri mempertahankan target EBITDA meski aturan komisi Gojek berubah menjadi 8%.

Pada akhirnya, tantangan terbesar GoTo bukan sekadar beradaptasi dengan kebijakan baru, melainkan memastikan setiap lini bisnis mampu menciptakan nilai yang saling melengkapi.

Selama strategi tersebut berjalan efektif, perubahan regulasi kemungkinan hanya akan menjadi salah satu variabel bisnis, bukan ancaman yang menentukan arah pertumbuhan perusahaan.

Pantau terus perkembangan strategi GoTo dan kebijakan transportasi online di Indonesia untuk memahami bagaimana perusahaan teknologi beradaptasi di tengah perubahan regulasi yang terus berkembang.

Baca Juga: Rumah Mitra Gojek Jadi Fasilitas Unik, Kini Bisa Dipakai Khitanan hingga Pernikahan

Baca Juga: Aturan Baru Gojek: Biaya Pembatalan GoCar Berlaku Mulai 3 Juli, Segini Tarifnya!


FAQ

Apa itu aturan komisi Gojek 8%?

Aturan komisi Gojek 8% mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 yang membatasi komisi aplikasi pada layanan transportasi roda dua. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan berpotensi memengaruhi pendapatan perusahaan ride hailing dari layanan tersebut.

Mengapa GoTo tetap mempertahankan target EBITDA meski komisi turun?

GoTo menilai dampak aturan komisi dapat diimbangi oleh pertumbuhan bisnis lain, terutama fintech. Selain itu, transportasi roda dua hanya menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup sehingga perusahaan tetap mempertahankan target EBITDA sebesar Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun.

Apa dampak aturan komisi 8% terhadap bisnis Gojek?

Perusahaan memperkirakan kontribusi bisnis On-demand Services akan berkurang setelah aturan baru berlaku. Karena itu, target EBITDA bisnis tersebut diturunkan menjadi Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun. Meski demikian, GoTo menyatakan kondisi bisnis tetap stabil setelah satu bulan implementasi kebijakan.

Mengapa bisnis fintech menjadi penopang utama GoTo?

Bisnis fintech mencatat pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan layanan transportasi. Pada kuartal II-2026, EBITDA yang disesuaikan naik 447% yoy menjadi Rp481 miliar, didukung oleh peningkatan transaksi, pengguna aktif, GTV inti, dan bisnis pinjaman digital.

Apa arti strategi baru GoTo bagi investor?

Strategi ini menunjukkan bahwa GoTo memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam dan tidak lagi bergantung pada satu lini bisnis. Diversifikasi tersebut dinilai dapat meningkatkan ketahanan perusahaan menghadapi perubahan regulasi maupun dinamika industri.

Apakah aturan komisi 8% akan memengaruhi layanan bagi pengguna Gojek?

Dalam laporan kuartal II-2026, GoTo menyatakan operasional tetap berjalan stabil setelah satu bulan penerapan aturan komisi baru. Perusahaan juga menegaskan akan terus berinvestasi pada pengembangan layanan serta program untuk mitra pengemudi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.