Koperasi Suporter Bola Mulai Dilirik LPDB, Segini Potensi Dananya

AKURAT.CO Basis massa suporter sepak bola dinilai memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui model koperasi.
Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi (LPDB) pun mulai menjajaki peluang pembentukan koperasi bersama kelompok suporter sejumlah klub sepak bola Indonesia.
Direktur Umum dan Hukum LPDB Kementerian Koperasi, Deva Rachman mengungkapkan, komunitas suporter dapat menjadi salah satu sektor potensial dalam pengembangan koperasi, terutama jika memiliki sistem keanggotaan dan pengelolaan dana yang terorganisasi.
"Sebagai contoh, basis massa Persija Jakarta hingga 400.000 orang, melalui jumlah tersebut berpotensi menjadi kekuatan ekonomi apabila sebagian suporter bergabung dalam koperasi dan berpartisipasi melalui simpanan anggota. Apabila 400.000 orang masing-masing menyetorkan simpanan Rp100.000 per tahun, dana yang terkumpul secara matematis mencapai Rp40 miliar bahkan lebih," paparnya pada saat media gathering LPDB bersama media di Yogyakarta, Senin (13/101/2026) malam.
Baca Juga: LPDB Siapkan 15 Inkubator untuk Perkuat Koperasi Desa Merah Putih
Namun, angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan jumlah suporter yang disebutkan, bukan realisasi dana koperasi. Nilai penghimpunan aktual akan bergantung pada jumlah anggota yang benar-benar bergabung dan menyetorkan simpanannya.
LPDB-KUMKM melihat pengembangan koperasi suporter sebagai salah satu peluang memperluas kegiatan ekonomi berbasis komunitas. Model ini dapat membuka ruang bagi anggota untuk membangun usaha bersama melalui mekanisme koperasi.
"Tahun ini ada Rp2,1 triliun dengan sektor-sektor yang menjadi fokus kita, salah satunya pertanian, perumahan, hilirisasi di banyak sektor, dan saya sangat mengharapkan sektor kreatif," ucap Deva kembali.
Baca Juga: Dana Bergulir LPDB Tembus Rp1,6 Triliun, 85 Persen Bidik Sektor Riil
Penjajakan terhadap model koperasi suporter juga mulai dilakukan. LPDB dikabarkan telah berdiskusi dengan perwakilan suporter Arema FC, Persib Bandung, dan Persija Jakarta.
Langkah tersebut menjadi tahap awal untuk melihat peluang pengembangan koperasi di lingkungan komunitas sepak bola. Realisasi pembentukannya tetap membutuhkan kesiapan organisasi, kejelasan keanggotaan, serta tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai pembanding, LPDB menyinggung klub Eropa seperti FC Barcelona dan Bayern Munchen yang memiliki sejarah serta struktur kepemilikan dan keanggotaan berbeda.
Karena itu, penerapan model koperasi di Indonesia perlu disesuaikan dengan bentuk badan hukum, struktur klub, dan karakter komunitas suporter masing-masing.
Jika dikembangkan dengan tata kelola yang baik, koperasi suporter berpotensi menjadi wadah kegiatan ekonomi bersama, bukan hanya sarana menghimpun dana. Peluang usaha dapat dikembangkan dari kebutuhan komunitas, termasuk produk kreatif dan kegiatan pendukung klub.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









