Akurat Logo

Batik Atthaya Cirebon Bidik Gen Z di JMFW 2026, Berdayakan Penyintas Gangguan Mental

Esha Tri Wahyuni | 18 Oktober 2026, 16:17 WIB
Batik Atthaya Cirebon Bidik Gen Z di JMFW 2026, Berdayakan Penyintas Gangguan Mental
Pemilik Batik Atthaya, Ruli. -Akurat.co/ Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Batik tidak lagi identik dengan motif tradisional yang kerap dikenakan generasi tua. Batik Atthaya, pelaku usaha batik asal Cirebon, Jawa Barat, mencoba memperluas pasar dengan menghadirkan motif kontemporer yang menyasar generasi Z hingga generasi Alpha.

Pemilik Batik Atthaya, Ruli, mengatakan sekitar 70% dari keseluruhan motif yang dikembangkan usahanya merupakan motif kontemporer. Sementara itu, 30% lainnya tetap dialokasikan untuk motif yang lebih tradisional, seperti Mega Mendung yang menjadi salah satu ciri khas batik Cirebon.

“Untuk motif Batik Atthaya Cirebon itu yang diangkat adalah motif-motif anak-anak Gen Z, anak-anak milenial, anak yang terbarukan. Kenapa? Karena motif kita kontemporer, yang lucu-lucu dan unik-unik,” kata Ruli saat ditemui di ajang Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 di Jakarta, Minggu (18/10/2026).

Baca Juga: Mahavira Bidik Pasar Jepang Lewat Busana Batik Bolak-Balik di JMFW 2026

Menurut Ruli, pendekatan tersebut dilakukan untuk mengubah persepsi bahwa batik hanya cocok dikenakan oleh kalangan tertentu atau dalam acara formal. Batik Atthaya ingin menghadirkan produk yang tetap mempertahankan teknik membatik, tetapi memiliki desain yang dekat dengan keseharian anak muda.

Motif yang dikembangkan pun tidak terbatas pada ornamen tradisional. Batik Atthaya mengeksplorasi berbagai objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari peralatan minum dan memasak, ayam jago, pegunungan, hingga Vespa dan astronot.

“Yang dulu tidak kepikiran untuk dibatik, kita berusaha membatik itu dengan metode yang mudah dan bisa dipakai anak-anak muda,” ujarnya.

Ubah Persepsi Batik di Kalangan Anak Muda

Ruli menjelaskan, pengembangan motif kontemporer tetap dilakukan dengan teknik membatik menggunakan malam atau lilin panas. Menurut dia, teknik produksi menjadi pembeda penting antara batik tulis atau batik cap dengan kain bermotif batik yang dibuat melalui proses pencetakan atau printing.

Dia menilai, pengembangan motif saja tidak cukup untuk menarik konsumen baru. Pelaku usaha juga perlu mengenalkan karakteristik batik kepada masyarakat agar konsumen memahami perbedaan antara batik yang diproduksi menggunakan malam dan kain bermotif batik hasil printing.

Di sisi lain, penerimaan pasar terhadap motif kontemporer membutuhkan proses. Pada tahap awal, Batik Atthaya harus memperkenalkan produknya terlebih dahulu kepada calon konsumen.

Namun, Ruli melihat perubahan minat seiring meningkatnya pengenalan terhadap produk tersebut. Menurut dia, anak muda mulai menggunakan kain batik sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari, termasuk memadukannya dengan model busana yang lebih modern.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.