Batik Atthaya Cirebon Bidik Gen Z di JMFW 2026, Berdayakan Penyintas Gangguan Mental

AKURAT.CO Batik tidak lagi identik dengan motif tradisional yang kerap dikenakan generasi tua. Batik Atthaya, pelaku usaha batik asal Cirebon, Jawa Barat, mencoba memperluas pasar dengan menghadirkan motif kontemporer yang menyasar generasi Z hingga generasi Alpha.
Pemilik Batik Atthaya, Ruli, mengatakan sekitar 70% dari keseluruhan motif yang dikembangkan usahanya merupakan motif kontemporer. Sementara itu, 30% lainnya tetap dialokasikan untuk motif yang lebih tradisional, seperti Mega Mendung yang menjadi salah satu ciri khas batik Cirebon.
“Untuk motif Batik Atthaya Cirebon itu yang diangkat adalah motif-motif anak-anak Gen Z, anak-anak milenial, anak yang terbarukan. Kenapa? Karena motif kita kontemporer, yang lucu-lucu dan unik-unik,” kata Ruli saat ditemui di ajang Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Baca Juga: Mahavira Bidik Pasar Jepang Lewat Busana Batik Bolak-Balik di JMFW 2026
Menurut Ruli, pendekatan tersebut dilakukan untuk mengubah persepsi bahwa batik hanya cocok dikenakan oleh kalangan tertentu atau dalam acara formal. Batik Atthaya ingin menghadirkan produk yang tetap mempertahankan teknik membatik, tetapi memiliki desain yang dekat dengan keseharian anak muda.
Motif yang dikembangkan pun tidak terbatas pada ornamen tradisional. Batik Atthaya mengeksplorasi berbagai objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari peralatan minum dan memasak, ayam jago, pegunungan, hingga Vespa dan astronot.
“Yang dulu tidak kepikiran untuk dibatik, kita berusaha membatik itu dengan metode yang mudah dan bisa dipakai anak-anak muda,” ujarnya.
Ubah Persepsi Batik di Kalangan Anak Muda
Ruli menjelaskan, pengembangan motif kontemporer tetap dilakukan dengan teknik membatik menggunakan malam atau lilin panas. Menurut dia, teknik produksi menjadi pembeda penting antara batik tulis atau batik cap dengan kain bermotif batik yang dibuat melalui proses pencetakan atau printing.
Dia menilai, pengembangan motif saja tidak cukup untuk menarik konsumen baru. Pelaku usaha juga perlu mengenalkan karakteristik batik kepada masyarakat agar konsumen memahami perbedaan antara batik yang diproduksi menggunakan malam dan kain bermotif batik hasil printing.
Di sisi lain, penerimaan pasar terhadap motif kontemporer membutuhkan proses. Pada tahap awal, Batik Atthaya harus memperkenalkan produknya terlebih dahulu kepada calon konsumen.
Namun, Ruli melihat perubahan minat seiring meningkatnya pengenalan terhadap produk tersebut. Menurut dia, anak muda mulai menggunakan kain batik sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari, termasuk memadukannya dengan model busana yang lebih modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 8Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









