Akurat Logo

Contoh Ketidaksetaraan Gender di Sekolah dan Kampus

Redaksi Akurat | 6 Mei 2026, 13:14 WIB
Contoh Ketidaksetaraan Gender di Sekolah dan Kampus
Gender

AKURAT.CO Ketidaksetaraan gender masih dapat ditemukan di lingkungan pendidikan, baik di sekolah maupun kampus.

Meskipun terlihat sepele, praktik ini bisa berdampak pada kepercayaan diri, kesempatan belajar, hingga masa depan siswa dan mahasiswa.

Artikel ini membahas beberapa contoh ketidaksetaraan gender yang sering terjadi serta bagaimana hal tersebut memengaruhi lingkungan akademik.

Baca Juga: Bagaimana Cara Memahami Konsep Gender secara Ilmiah?

Ketidaksetaraan Gender di Sekolah

Di tingkat sekolah, ketidaksetaraan gender sering muncul dalam bentuk perlakuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Salah satu contohnya adalah pembagian peran dalam kegiatan kelas.

Siswa laki-laki sering diarahkan untuk tugas yang bersifat fisik atau kepemimpinan, sementara siswi perempuan lebih sering diberi tugas administratif seperti mencatat atau membersihkan kelas.

Selain itu, ada juga stereotip dalam pemilihan jurusan atau minat.

Misalnya, siswa laki-laki dianggap lebih cocok di bidang sains dan teknologi, sedangkan perempuan diarahkan ke bidang bahasa atau seni. Padahal, kemampuan tidak ditentukan oleh gender.

Guru juga terkadang, tanpa disadari, memberikan perhatian lebih kepada salah satu gender, misalnya lebih sering menunjuk siswa laki-laki saat pelajaran tertentu atau menganggap perempuan lebih pasif.

Ketidaksetaraan Gender di Kampus

Di lingkungan kampus, ketidaksetaraan gender bisa muncul dalam bentuk yang lebih kompleks.

Salah satu contoh adalah dalam organisasi atau kepemimpinan.

Mahasiswa laki-laki sering dianggap lebih layak menjadi ketua, sementara perempuan cenderung ditempatkan sebagai sekretaris atau bendahara.

Dalam diskusi kelas, suara perempuan terkadang kurang didengar atau dianggap kurang tegas dibandingkan laki-laki. Hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri mahasiswa perempuan untuk berpendapat.

Selain itu, ada juga bias dalam bidang studi tertentu. Jurusan seperti teknik dan IT masih didominasi laki-laki, sementara perempuan sering terkonsentrasi di jurusan sosial atau humaniora. Hal ini bukan karena kemampuan, tetapi karena konstruksi sosial yang terbentuk sejak lama.

Dampak Ketidaksetaraan Gender

Ketidaksetaraan gender dapat berdampak pada perkembangan individu. Siswa atau mahasiswa bisa merasa dibatasi, kurang percaya diri, atau kehilangan kesempatan untuk berkembang sesuai minat dan kemampuannya.

Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat memperkuat stereotip gender di masyarakat.

Baca Juga: Battle of Sexes: Mampukah Aryna Sabalenka Kalahkan Nick Kyrgios Dalam Duel Beda Gender?

Upaya Mengurangi Ketidaksetaraan Gender

Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat yang adil bagi semua. Guru, dosen, dan institusi perlu memberikan kesempatan yang sama tanpa memandang gender.

Kesadaran akan isu ini juga penting bagi siswa dan mahasiswa, agar berani menyuarakan pendapat dan tidak terjebak dalam stereotip.

Ketidaksetaraan gender di sekolah dan kampus mungkin tidak selalu terlihat jelas, tetapi dampaknya nyata.

Dengan memahami contohnya, kita bisa mulai menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adil dan setara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R