Jangan Asal Seduh! Ibu-ibu Korban Banjir Agam Diedukasi Cara Bikin Susu Anak yang Benar, SKM Bukan Susu Ya!

AKURAT.CO, Seduh susu untuk si kecil kelihatan seperti perkara sepele ya, Bun? Tinggal ambil gelas, masukan susu bubuk, tuang air, lalu diaduk. Eits, tapi tunggu dulu!
Ternyata kebiasaan yang terlihat gampang ini sering kali keliru dipraktikkan.
Tahukah kamu kalau urutan menuang air, suhu air yang digunakan, hingga cara mengaduk yang salah justru bisa merusak nutrisi penting di dalam susu?
Alih-alih bikin anak sehat, manfaat susu untuk tumbuh kembang si kecil malah bisa berkurang drastis.
Baca Juga: Hari Susu Sedunia 2026, Pentingnya Membiasakan Minum Susu untuk Kesehatan Keluarga
Menyadari hal tersebut, Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah (Makes PPA) langsung turun tangan. Mereka menggelar edukasi gizi bagi para ibu yang berada di posko pengungsian Huntara Salareh Aia, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pasca-bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut baru-baru ini.
Didampingi pimpinan wilayah setempat, para kader Aisyiyah membagikan cara menyeduh susu pertumbuhan anak yang benar agar nilai gizinya tetap terjaga optimal.
“Yang penting diperhatikan adalah kebersihan tangan sebelum menyiapkan susu, lalu suhu air yang digunakan adalah air hangat 70 derajat, atau kita di sini bilang air hangat-hangat kuku,” ujar salah satu kader sambil mendemonstrasikan cara membuat susu di hadapan para ibu.
Tak hanya belajar menyeduh susu dengan benar, momen ini juga menjadi ruang diskusi hangat bagi para ibu yang membawa balita mereka.
Salah satu temuan mengejutkan di lapangan adalah masih banyaknya salah kaprah mengenai Susu Kental Manis (SKM).
Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa, memaparkan bahwa pasca-bencana, banjir bantuan makanan instan memang tidak terhindarkan. Namun, para ibu harus lebih jeli memilah mana yang baik untuk jangka panjang sang anak.
"Pentingnya edukasi gizi pasca bencana bagi para ibu yang memiliki balita ini karena ketika masa bencana, banyak sekali bantuan masuk yang sifatnya darurat berupa makanan instan, seperti mi instan atau susu. Berdasarkan dialog kami dengan ibu-ibu korban bencana di sini, mereka ternyata juga menerima susu kental manis dan menganggapnya sebagai susu. Padahal, itu sebenarnya bukan susu," ujar Chairunnisa.
Baca Juga: Tren Nutrisi Anak Bergeser, Komposisi Susu Formula Makin Diperhatikan
Bergandengan tangan dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Majelis Kesehatan PP Aisyiyah menaruh perhatian besar pada fase transisi pasca-bencana ini.
Chairunnisa mengingatkan, membiarkan anak terus-menerus mengonsumsi makanan instan dan produk tinggi gula seperti SKM bisa berakibat fatal.
"Karena sekarang sudah memasuki masa pasca-bencana, kami memiliki kepedulian untuk menjaga supaya tumbuh kembang anak jangan sampai terganggu akibat asupan gizi yang keliru. Jika pola instan ini terus-menerus diberlakukan dan menjadi kebiasaan, anak akibatnya bisa kekurangan gizi. Bagi anak di bawah usia dua tahun, kekurangan gizi kronis ini akhirnya bisa memicu stunting," tambahnya.
Biar nutrisi harian anak terserap sempurna dan terhindar dari risiko stunting, yuk simak 3 tips penting dari kader PP Aisyiyah berikut ini:
Pakai Air Hangat, Bukan Air Mendidih: Jangan gunakan air yang baru mendidih ya, Bun! Air yang terlalu panas bisa merusak kandungan protein, vitamin, dan zat besi. Gunakan air matang yang sudah didinginkan sejenak hingga bersuhu suam-suam kuku (sekitar 40°C).
Wadah Harus Ekstra Bersih: Di area pasca-bencana, higienitas adalah harga mati. Pastikan botol atau gelas anak dicuci bersih dengan air mengalir (dan disterilkan jika memungkinkan) untuk mencegah risiko diare atau infeksi pencernaan.
Takaran Wajib Pas: Ikuti petunjuk pada kemasan. Jangan dikurangi atau dilebihkan. Susu yang terlalu encer bikin anak kekurangan kalori, sedangkan susu yang terlalu kental bisa memberatkan kerja pencernaan si kecil.
Melalui edukasi yang intens dan langsung praktik ini, PP Aisyiyah berharap para ibu di Agam bisa lebih selektif mengolah bantuan makanan demi masa depan anak-anak yang sehat, kuat, dan bebas stunting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 7Kalender Jawa 8 Juni 2026: Watak Weton Senin Legi, Sosok yang Ramah dan Disukai Banyak Orang
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Prabowo Resmi Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden
- 10Ramalan Shio Asmara 7 Juni 2026 Terbaru: Tikus Makin Romantis, Naga Penuh Pesona, Harimau Berpeluang Jatuh Cinta






