Akurat Logo

​Cetak Rekor MURI Jelajahi 197 Negara, CEO Populix Timothy Astandu Buktikan Kesaktian Paspor Indonesia

Nuzulul Karamah | 13 Agustus 2026, 20:17 WIB
​Cetak Rekor MURI Jelajahi 197 Negara, CEO Populix Timothy Astandu Buktikan Kesaktian Paspor Indonesia
Cetak Rekor MURI Jelajahi 197 Negara, CEO Populix Timothy Astandu Buktikan Kesaktian Paspor Indonesia. - Istimewa

AKURAT.CO Prestasi membanggakan kembali diukir oleh anak bangsa di kancah internasional.

Dr. Timothy Astandu sukses menyabet penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai “Insan Indonesia yang Mengunjungi Negara Berdaulat Terbanyak."

​Penjelajahan fantastis tersebut tuntas setelah dirinya berhasil menginjakkan kaki di 197 negara dan wilayah berdaulat yang diakui PBB, dengan negara Brasil sebagai destinasi penutup perjalanan panjangnya pada Mei lalu.

​Penghargaan prestisius ini diserahkan langsung oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Layanan Paspor CFD Akan Hadir Setiap Pekan, Tak Hanya di Jakarta

Didampingi istri dan sang ibu, Timothy mendedikasikan momen bersejarah ini untuk wanita yang menginspirasi jiwa petualangnya sejak balita.

​"Secara khusus saya mengajak ibu saya untuk menerima penghargaan dari MURI. Karena beliau-lah yang telah menurunkan hobi menjelajah ini, dimulai dari kunjungan ke negara Jerman saat saya berusia satu tahun. Sayangnya, karena usia dan kesehatan, ibu saya berhenti setelah mencapai negara ke-87, dan saya yang berhasil melanjutkan semangatnya menuntaskan seluruh negara di dunia," ungkap Dr. Timothy Astandu, Kamis (13/8/2026).

​Capaian ini melengkapi deretan pengakuan global yang sebelumnya telah diraih alumni University of Oxford dan University of Cambridge tersebut dari lembaga perjalanan bergengsi dunia, seperti Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).

​Tak sekadar keliling dunia, sosok yang juga dikenal sebagai Co-founder dan CEO Populix ini meluruskan stigma negatif mengenai paspor Indonesia yang kerap dinilai lemah.

Menurutnya, posisi politik luar negeri Indonesia yang netral justru menjadi senjata ampuh bagi para traveler.

​"Pencapaian saya menjadi bukti bahwa paspor Indonesia tidak lemah. Kalau tujuannya adalah ke negara-negara maju, memang benar pemegang paspor Indonesia lebih sulit. Tapi paspor Indonesia bisa digunakan untuk mengunjungi semua negara. Itu blessing in disguise. Tidak ada negara yang secara khusus memblokir Indonesia," katanya.

Baca Juga: Isu Paspor Guncang Liga Belanda, 4 Pemain Timnas Indonesia Dibekukan Klub

​Berkat rekam jejak sejarah Gerakan Non-Blok, pemegang paspor Indonesia memiliki fleksibilitas diplomatik untuk memasuki kawasan yang tergolong sensitif atau tertutup bagi warga negara lain, seperti Korea Utara, Afghanistan, Rusia, hingga Suriah.

​Di balik kesibukannya memimpin perusahaan konsultasi berbasis riset Populix sejak 2018, Timothy harus mahir melakoni peran ganda sebagai eksekutif sekaligus penjelajah dunia.

​"Saya harus pintar membagi waktu. Saya harus memutar otak agar perjalanan saya efisien. Mulai dari mencuri waktu di akhir pekan atau libur panjang, hingga terbang di Jumat malam dan pulang kembali di Minggu sore agar langsung dapat bekerja di Senin pagi. Namun, saya sangat menikmati dan mensyukurinya. Karena semangat menjelajah dan rasa ingin tahu terhadap manusia inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Populix," bebernya.

​Interaksinya dengan beragam latar belakang masyarakat di berbagai belahan dunia menginspirasi lahirnya Populix (dari bahasa Latin vox populi atau suara rakyat). Platform yang kini diperkuat lebih dari 1,3 juta responden di Indonesia dan Asia Tenggara ini menghadirkan berbagai layanan riset modern, termasuk teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) lewat platform AskLumia.

​Usai menuntaskan misi globalnya, Timothy kini menatap target besar berikutnya. Ia berambisi untuk merampungkan penjelajahan di Tanah Air serta mencatatkan rekor penerbangan baru sebelum bergantinya tahun.

​"Setelah ini, target capaian saya selanjutnya adalah menuntaskan perjalanan ke seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi orang Indonesia pertama yang menaiki 200 merek maskapai penerbangan di dunia. Saat ini saya masih kurang mengunjungi 6 provinsi di Indonesia, khususnya di Papua yang beberapa waktu lalu mengalami pemekaran. Selain itu, saya juga masih perlu menaiki sekitar 8 maskapai lagi. Harapannya kedua capaian tersebut bisa saya tuntaskan di akhir tahun nanti," pungkas Dr. Timothy Astandu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.