Akurat
Pemprov Sumsel

Buku The Man Who Said Yes, Ajak Pembaca Berdamai dengan Ketidakpastian

Oktaviani | 27 Januari 2026, 22:47 WIB
Buku The Man Who Said Yes, Ajak Pembaca Berdamai dengan Ketidakpastian

AKURAT.CO Di tengah dunia yang kian dipenuhi ketidakpastian, banyak orang dihadapkan pada pilihan sulit: melangkah maju dengan risiko atau berhenti karena rasa takut.

Ketidakstabilan ekonomi global, perubahan sosial yang cepat, hingga peristiwa tak terduga membuat masa depan kerap terasa samar. Tak sedikit individu akhirnya ragu untuk bermimpi, apalagi mengambil keputusan besar dalam hidup.

Namun, bagaimana jika justru satu kata sederhana—YES—menjadi kunci untuk berdamai dengan ketidakpastian sekaligus membuka pintu menuju peluang baru?

Gagasan inilah yang diangkat dalam buku terbaru berjudul The Man Who Said Yes, karya Jiu Kian, seorang entrepreneur dan pemimpin jaringan bisnis nasional yang berhasil membangun ekosistem usaha dengan total omzet mencapai Rp120 miliar.

Buku ini resmi diluncurkan sebagai refleksi perjalanan hidup sekaligus panduan inspiratif bagi masyarakat yang tengah mencari arah di tengah perubahan zaman.

Melalui buku tersebut, Jiu Kian mengajak pembaca memahami bahwa kata YES bukan sekadar simbol optimisme, melainkan sebuah sikap hidup.

Menurutnya, keberanian membuka diri terhadap peluang—meski disertai risiko—kerap menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan.

“Ketidakpastian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, yang membedakan hasil hidup setiap orang adalah bagaimana ia merespons kondisi tersebut,” ujar Jiu Kian.

Ia menambahkan bahwa kata YES telah menjadi prinsip yang membimbing setiap langkah perjalanannya. “Bagi saya, kata YES adalah tiket masuk menuju level kehidupan berikutnya.”

Baca Juga: Kumpulkan Menteri di Hambalang, Prabowo Tindak Lanjuti Kerja Sama Pendidikan Indonesia–Inggris

Perjalanan hidup Jiu Kian sendiri jauh dari kata mudah. Dalam buku ini, ia mengisahkan masa kecil yang sederhana, ketika ia sudah bekerja sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es mambo.

Ia sempat menjadi buruh pabrik batu bata sebelum akhirnya merantau ke Pulau Jawa dengan keterbatasan dan ketidakpastian besar.

Beragam pekerjaan pernah ia jalani demi bertahan hidup, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan.

Ia mengakui, rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental kerap datang silih berganti.

Namun di setiap fase kehidupan tersebut, terdapat satu benang merah yang terus ia pegang: keberanian untuk mengatakan YES terhadap kesempatan yang datang, sekecil apa pun peluangnya.

Salah satu pengalaman paling membekas adalah ketika ia pertama kali menawarkan produk asuransi secara langsung dari rumah ke rumah, berjalan kaki sambil menghadapi penolakan demi penolakan.

“Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.

Tidak hanya berisi kisah personal, The Man Who Said Yes juga disusun sebagai panduan reflektif yang aplikatif.

Jiu Kian merangkum pembelajarannya dalam sebuah kerangka berpikir yang ia sebut sebagai filosofi 368, yang merepresentasikan tiga fase kehidupan, enam prinsip abadi, dan delapan kunci kesuksesan.

Tiga fase kehidupan menggambarkan proses manusia dari masa ditempa oleh keadaan, bertumbuh melalui pembelajaran, hingga mencapai tahap berbagi kepada sesama.

Enam prinsip abadi menjadi nilai penuntun di setiap fase, sementara delapan kunci kesuksesan membahas sikap dan kebiasaan yang perlu dijaga agar tujuan hidup dapat tercapai secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, buku ini tidak hanya bersifat inspiratif, tetapi juga aplikatif.

Pembaca diajak melakukan refleksi personal, memahami posisi hidupnya saat ini, serta membangun keberanian untuk melangkah ke fase berikutnya.

Baca Juga: Polda Riau Bangun dan Renovasi 26 Jembatan untuk Keselamatan dan Akses Pendidikan

“Buku ini bukan hanya tentang kisah saya, melainkan undangan bagi pembaca untuk mulai berkata YES dan menuliskan versi The Man Who Said Yes mereka sendiri,” jelas Jiu Kian.

Saat ini, Jiu Kian memimpin jaringan bisnis yang tersebar di 16 kota di Indonesia dengan 11 kantor agensi aktif.

Jaringan tersebut menjadi tempat bertumbuh bagi lebih dari 2.500 mitra dan karyawan yang ia sebut sebagai pejuang kehidupan.

Baginya, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari capaian bisnis, tetapi juga dari dampak sosial yang dihadirkan bagi banyak orang.

Buku The Man Who Said Yes kini tersedia di berbagai toko buku dan platform marketplace di Indonesia.

Buku ini ditujukan bagi profesional muda, pelaku usaha, mahasiswa, serta siapa pun yang tengah mencari keberanian untuk melangkah di tengah ketidakpastian.

Dengan gaya penulisan yang lugas dan reflektif, buku ini diharapkan dapat menjadi teman perjalanan bagi pembaca dalam menghadapi dinamika kehidupan—sekaligus pengingat bahwa terkadang satu kata sederhana dapat menjadi awal dari perubahan terbesar dalam hidup.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.