Akurat Logo

​Gandeng Pemkab Sragen, Habitat for Humanity Indonesia Wujudkan Rumah Layak Bagi 101 Keluarga

Nuzulul Karamah | 20 Oktober 2026, 23:40 WIB
​Gandeng Pemkab Sragen, Habitat for Humanity Indonesia Wujudkan Rumah Layak Bagi 101 Keluarga
Gandeng Pemkab Sragen, Habitat for Humanity Indonesia Wujudkan Rumah Layak Bagi 101 Keluarga - Cr: Istimewa

​AKURAT.CO Dengan memiliki rumah yang aman dan nyaman adalah impian setiap keluarga. Namun bagi masyarakat berpenghasilan rendah, merenovasi rumah sering kali harus terabaikan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari yang lebih mendesak.

​Menjawab tantangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen dalam mendukung Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Baca Juga: 7 Cara Mencegah Asap Karhutla Masuk ke Rumah, Jangan Diabaikan!

Hingga tahun 2026, kolaborasi strategis ini berhasil meningkatkan kualitas hunian bagi 101 keluarga penerima manfaat di Sragen.

​Skema Match-Funding: Total Bantuan Rp40 Juta per Rumah

​Kolaborasi ini menggunakan skema pendanaan pendamping (match-funding).

Bantuan dari pemerintah melalui BSPS sebesar Rp20 juta dipadankan dengan tambahan dana sebesar Rp20 juta yang dihimpun Habitat for Humanity Indonesia dari mitra korporasi dan donatur.

​Dengan demikian, setiap keluarga menerima total dukungan pendanaan sebesar Rp40 juta. Selain bantuan dana, Habitat for Humanity Indonesia memberikan pendampingan teknis mulai dari perencanaan, pengawasan konstruksi, hingga pengelolaan material.

Keluarga penerima manfaat pun turut berpartisipasi aktif melalui sumbangan tenaga (sweat equity) selama proses pembangunan.

Baca Juga: Innalilahi wa Innailaihi Raji'un, Habib Jafar Shodiq Wafat karena Kecelakaan di Tol Sragen

​Program ini menerapkan metode retrofitting, yaitu memperkuat dan memperbaiki bangunan yang sudah ada agar memenuhi standar keselamatan dan kesehatan tanpa harus merubuhkannya secara penuh.

​Tak hanya fokus pada bangunan fisik, Habitat for Humanity Indonesia juga memberikan pelatihan Building Back Safer (BBS) untuk mengedukasi masyarakat mengenai konstruksi tahan bencana.

Pendekatan inklusif juga diterapkan secara khusus untuk merespons kebutuhan rumah tangga yang dikepalai perempuan serta keluarga dengan anggota penyandang disabilitas.

​Manfaat nyata dari program perbaikan hunian ini dirasakan langsung oleh warga Sragen yang dulunya harus tinggal di bawah atap yang lapuk.

​Sri Wahyuni bersama ibunya, Samiyati, menuturkan betapa mencekamnya kondisi rumah mereka sebelum mendapatkan bantuan. Atap rumah mereka sudah miring dan dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu (gedek) yang rapuh.

​“Seandainya tidak dibangun, rumahnya pasti akan ambruk, roboh semua. Atapnya sudah benar-benar miring, dan dindingnya juga masih menggunakan gedek dari bambu yang sudah lama,” ungkap Sri Wahyuni dan Samiyati.

​Sebelumnya, rasa cemas kerap menyelimuti mereka karena keterbatasan biaya untuk renovasi.

​“Rumahnya sudah jelek, kok tidak dibangun? Nanti keburu roboh. Tapi ya mau bagaimana lagi, kami masih harus mengumpulkan biayanya dulu,” kenang mereka.

​Kini, senyum lega terpancar dari wajah mereka setelah rumahnya berdiri kokoh, rapi, dan tak lagi berlantai tanah becek.

​“Sekarang rumahnya bagus, sudah lebih kokoh lagi. Banyak tetangga yang memuji rumahnya sudah bagus dan tidak seperti dulu lagi, saya jadi bangga. Rumahnya juga sudah bisa bersih, rapi, lantainya juga tidak becek lagi. Sekarang kami lebih betah di rumah, termotivasi untuk lebih giat menabung supaya bisa merenovasi bagian yang lain,” tutur mereka penuh syukur.

​Kisah bahagia lain datang dari Suyadi. Dulu, setiap hujan deras mengguyur, rumah bambu dan lantai tanahnya selalu digenangi air akibat atap yang bocor.

​“Dulu rumah saya sederhana, atap dan dindingnya masih dari bambu, lantainya masih tanah. Setiap hujan, tanahnya basah semua, genteng bocor. Dalam hati saya sering bertanya, kapan ya rumah kami bisa diperbaiki?” ungkap Suyadi.

​Melalui program ini, rumah Suyadi kini tidak hanya kokoh, tetapi juga dilengkapi fasilitas sanitasi yang ramah dan aman.

​“Alhamdulillah, bantuan yang diberikan sangat membantu kami. Kloset yang sekarang duduk dan ada pegangannya di dinding. Dulu waktu menggunakan kloset jongkok susah sekali dan khawatir terpeleset. Sekarang sudah nyaman, lebih mudah digunakan dan kami lebih tenang,” ujarnya.

​Kini rasa takut Suyadi saat cuaca buruk mendera telah sirna sepenuhnya.

​“Sebelum dapat bantuan, setiap hujan dan angin kencang, rasanya gelisah dan takut. Sekarang semuanya sudah bagus dan kokoh, jadinya sudah tenang,” tambahnya.

​Berdasarkan data Pemkab Sragen, masih ada 13.945 keluarga kelompok desil 1 dan 2 yang menempati rumah tidak layak huni, dengan 904 keluarga menjadi prioritas utama.

​Melihat besarnya kebutuhan lapangan, Habitat for Humanity Indonesia mengajak sektor swasta, akademisi, dan masyarakat luas untuk terus memperluas kemitraan.

Sinergi lintas sektor menjadi kunci agar semakin banyak keluarga berpenghasilan rendah yang dapat menikmati hunian aman, sehat, dan bermartabat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.