Akurat Logo

Teh Erni Hidupkan Kembali Toko Kelontong Lewat KUR BRI

Yosi Winosa | 23 Mei 2026, 18:48 WIB
Teh Erni Hidupkan Kembali Toko Kelontong Lewat KUR BRI
Siti Juhaeriah (Erni) berjualan di toko kelontongnya di bilangan Jalan Raya Tole Iskandar Depok

AKURAT.CO Siti Juhaeriah (53), memulai usaha toko kelontong di Jalan Raya Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, Depok sejak TipTop berdiri di tahun 2004-an.

Sesaat usai TipTop dibuka, ada gagasan dari kawan untuk memulai usaha di sekitaran toko ritel modern tersebut. Akhirnya diputuskanlah kawan membuka usaha makanan.

Sementara Erni (panggilan sayang ayahnya ke Juhaeriah) membuka usaha minuman. Warga sekitar biasa memanggil Juhaeriah dengan panggilan Teh Erni.

“Ada yang ngajakin. Saya bilang yasudah situ makanan, saya minumannya. Awal-awal masih di emperan jualan minuman Aqua. Itu juga baru sedus, dua dus. Lama-lama Alhamdulillah berjalan sampai hari ini di ruko ini,” kenang Erni.

Erni sejatinya warga Depok Timur. Namun sejak dilamar dan dinikahi suaminya, ia diboyong ke Mekar Jaya lalu dibuatkan toko kelontong seiring berkembangnya usaha jualan minuman emperannya. Lokasi ruko milik pribadi tersebut memang bersebelahan dengan TipTop.

Baca Juga: Cerita Thio Siujinata, Sukses Padukan Bisnis Kerajinan Tangan dan Coffee Shop

“Setelah nikah, ikut suami, langsung diboyong kemari. Langsung dah tuh dibikinin warung,” imbuh Erni.

Di era itu, toko kelontong belum banyak, masih hitungan jari. Belum juga ramai warung madura. Toko kelontong Erni tak pernah sepi pembeli. Bahkan ada momen Erni bisa mengumpukan hingga Rp10 juta per bulan dari hasil berjualan aneka barang di toko kelontongnya.

“Dulu sebelum Covid-19 lah pokoknya, alhamdulillah ramai, laris banget. Saya bisa nabung sebulan itu kadang-kadang bahkan sampai Rp10 juta. Karena belum banyak warung mungkin. Ngerasain pisan saya ramainya, enggak bohong deh. Saya tabung dulu hasil jualan di rumah, sejuta, sejuta. Pas udah banyak baru dicelengin (disetor),” tutur Erni.

Kini, penjualan toko kelontong tak seramai di awal. Erni fokus menjual aneka minuman, sebagai pelengkap menu mie ayam penjual lainnya yang menyewa tempat tepat di depan rukonya.

“Ya Allah mas sekarang mah kan banyak banget warung, berderet. Makanya saya sekarang juga, jual seadanya, enggak kaya dulu penuh banget. Yang penting ada, rejeki mah dari mana aja lah kata saya. Alhamdulillah ada mie ayam ini di depan, jadi saya ramainya di minuman. Kalau orang makan kan otomatis minum, saya jualan minumnya. Kalau barang dagangan lain sambilan saja. Kalau pembeli lagi sambil istirahat mampir sini ambil cemilan. Kadang kalau karyawan TipTop istirahat juga suka pada mampir ngopi,” papar Erni.

Usaha toko kelontong kini Erni tekuni sebagai bantalan kebutuhan bulanan. Mengingat, sang suami juga sudah pensiun dari pekerjaannya sekitar 6 tahun yang lalu.

“Hamdalah adanya warung jadi buat nambah-nambahin juga buat keluarga. Dulu kan juga buat sekolah putra-putra saya. Sekarang mereka sudah pada kerja, mereka transfer ke saya kalau gajian,” ujar Erni.

Usaha ini juga diselingi dengan kegiatan mengaji di Senin Pagi dan Rabu Sore. Pasalnya, tanpa aktif di pengajian, Erni tak bisa menjalin silaturahmi dengan teman-temannya.

“Warung biasanya buka jam 9 setelah ngurus rumah. Nutup selepas sholat magrib. Tapi kalau hari Senin pagi dan Rabu sore warung nutup dulu karena saya ngaji. Jadi diatur aja waktunya biar imbang. Ngaji dapat, warung juga dapat. Imbang. Soalnya kalau di warung terus kan, nanti silaturahmi sama teman-teman enggak ada. Atau kadang pas kondangan ya warung nutup,” tutur Erni.

Erni yang bakal segera memiliki 2 cucu juga bersyukur usahanya bisa bertahan hingga hari ini. Kebanyakan pelanggan loyalnya berasal dari lingkungan pertemanan, tetangga, terkadang sanak saudara.

“Kalau di jalan suka kadang pelanggan nyapa saya bahkan malah yang seringnya lupa mengenali wajah mereka. Mereka bilang Masya Allah hebat warungnya bisa bertahan di saat yang lain mungkin sudah pada tutup. Ya hamdalah saya istilah kata makan mah apa aja yang penting dapur ngebul sama saldo tabungan enggak kosong,” kata Erni.

Selain dari penjualan minuman di toko kelontong, pemasukannya juga berasal dari uang sewa lapak, salah satunya penjual mie ayam yang ada di depan rukonya. Juga dari iuran listrik (menyambung dengan ruko) pedagang kaki lima di sekitar termasuk penjual es cendol, ketoprak dan sebagainya.

Ambil KUR BRI Untuk Keberlanjutan Usaha

Erni turut menyewakan lapak di depan rukonya ke pedagang kaki lima

Di tahun 2025, Erni memutuskan untuk menambah permodalan demi kelangsungan usaha toko kelontongnya. Saat itu ia sempat bertanya-tanya pada tetangga yang terlebih dahulu mengajukan KUR BRI, kemudian diarahkan untuk ke BRI KCP Depok Timur.

Adapun dipilihnya BRI lantaran Erni sedari awal memiliki rekening dan buku tabungan BRI. Dari awal membuka tabungan, ia bersama suami hanya punya rekening BRI. 

“Saya waktu itu ambil Rp100 juta, 5 tahun (tenor), cicilan Rp2 juta (per bulan). Buat tambah modal, ada keperluan lain juga, dibagi-bagi lah,” kata Erni.

Proses pencairan pun cepat. Usai perwakilan BRI mensurvei ruko, mensurvei rumah (di belakang tak jauh dari ruko), menginterview dengan beberapa pertanyaan terkait usaha, di hari yang sama Erni langsung diajak ke KCP untuk pencairan.

“Saya juga kaget, kirain besok nya kan. Eh ternyata langsung hari itu juga cair. Diajak ke KCP, tandatangan segala macem, langsung deh cair. Barangkali karena orang BRI melihat sendiri kemampuan pembayaran angsuran tiap bulannya sudah ada nih, sudah kelihatan istilahnya sumber-sumbernya. Awalnya di depan ini kan memang disewain, waktu itu belum Mie Ayam. Jadi mungkin orang BRI melihat itu juga,” kata Erni.

Adaptasi ke Transaksi Nontunai

Erni mengawali usahanya dengan berjualan air dus-dusan di emperan

Saat mengambil KUR BRI, Erni turut ditawari QRIS BRI dan akhirnya mau. Adanya QRIS tersebut membuat transaksi di toko kelontong jadi lebih praktis. Sebelum punya QRIS sendiri, Erni harus menumpang (menitipkan) pembayan ke penjual Mie Ayam yang terlebih dahulu menggunakan QRIS.

“Pas saya ambil KUR orang BRI nya nawarin, ‘Ibu kan dagang ya, kami bikini QRIS ya?’ Iya kata saya. Awalnya kan Mie Ayam lebih dulu QRIS, jadi saya numpang kalau ada pembeli mau bayar, nanti saya ambil sekalian ngasih berapa. Tapi saya kan lama-lama enggak enak numpang terus. Makanya kemarin alhamdulillah ada QRIS jadi lebih praktis, enggak numpang-numpang lagi,” ujar Erni.

Namun di awal-awal, Erni yang terbiasa dengan transaksi tunai butuh effort untuk beradaptasi dengan sistem transaksi nontunai.

“Karena kalau QRIS kan kami harus ambil dulu ke ATM sedangkan saya enggak pernah berani sendirian ke ATM harus ditemenin. Kalau kontan (cash) kan enak ya, bisa langsung masuk dompet,” tukasnya.

Rencana ke Depan

Ke depan Erni juga ingin menjual aneka minuman viral seperti es serut, es buah, jus

Ke depan, Erni juga ingin menyediakan menu minuman es yang hits ataupun viral, termasuk es serut dan es buah serta aneka jus. Ia mengaku ekspansi tersebut butuh modal besar. Maka dari itu kini Erni perlahan sedang mengumpulkan modal tambahan.

“Kami mah kan modal sendiri ya. Berbeda misalnya dengan warung yang buka 24 jam itu kan katanya mereka berani modal, dari marganya siap modalin. Ya kami juga pengen banget sih ramai, stok dagangan dibanyakin, beraneka macam juga jenisnya. Cuman namanya kami banyak keperluan ya. Saya kemarin KUR itu saja dibagi-bagi untuk modal warung sekian, rehab sekian, ngatur biar bisa kebagian semuanya,” aku Erni.

Tips Kelola Keuangan Ala Erni

Bagi Erni, lebih mudah memiliki satu rekening ketimbang memisahkan rekening untuk usaha dan pribadi. Kuncinya, pandai-pandai menghitung dan mengatur uang yang keluar dan masuk.

“Kalau saya kayaknya ribet ya kalau dua-dua rekening, mending satu rekening. Yang penting kita harus ngerti pengeluarannnya buat dapur sekian per bulan, budget buat warung sekian per bulan harus segini. Tapi namanya usaha kan enggak mesti tiap bulan ramai atau laris ya. Kadang saya ambil (pinjam) budget warung dulu buat keperluan dapur, nanti pas anak saya transfer gajian tanggal 25 misalnya, saya ganti. Pinter-pinte rngatur aja,” sarannya.

Lalu juga, bagi yang mengambil KUR, pastikan saldo bulanan minimal mencukupi sesuai jumlah angsuran bulanan.

“Jangan sampai kosong pisan kalau saya mah, istilahnya buat nanti kalau BRI ambil (jatuh tempo angsuran bulanan). Makanya saya tuh kadang-kadang harus sigap, di ATM (saldo) enggak boleh kosong harus sesuai (nominal angsuran) minimal, atau enggak lebih,” pesannya.

Kemudian bagi yang baru mau mulai berusaha, pastikan mendapatkan tempat atau lokasi yang strategis serta permodalan yang memadai.

“Terutama dilihat dulu tempatnya, kalau ramai, strategis sudah menjamin itu mah. Kedua, modal. Modal banyak kayaknya enak dah ngaturnya, mau beli apa juga. Ketiga, daganganya yang nge-tren atau ramai atau viral. Temen-teman saya juga sudah banyak yang ingin berdagang tapi kendalanya antara dua. Tempat ada, modal enggak ada atau sebaliknya. Alhamdulillahnya saat ini saya dua-duanya ada,” ujar Erni.

Simbiosis Menguntungkan

Cecep, salah satu pedagang kaki lima ketoprak yang turut menyewa lapak di teh Erni, mengaku adanya warung atau kiosnya turut menciptakan symbiosis saling menguntungkan demi bergeraknya roda ekonomi masyarakat sekitar.

“Enaknya sama teteh (Erni) sewanya enggak mahal, harga bersahabat. Ya paling bayar uang listrik dan keamanan gitu lah. Sama pelanggan yang suka ngopi di teteh kan kadang juga jadi beli dagangan saya. Istilah saling nambah pelanggan gitu,” kata Cecep.

Hubungan antar pedagang di sekitar kios itu perlahan membentuk semacam solidaritas informal. Layaknya keluarga yang saling bahu-membahu dan menopang, ia merasa keberadaan Teh Erni ikut membantu roda usahanya tetap berjalan.

“Kalau dagangan lagi sepi, teteh juga suka menyemangati. Dibilangin yang penting sabar, namanya jualan enggak selalu ramai. Jadi kami yang di sini merasa nyaman,” tambah Cecep.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.