Riset SMERU: 73 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Jadi Pebisnis

AKURAT.CO Memulai usaha sejak masih kuliah atau baru lulus kini semakin diminati anak muda Indonesia.
Hasil riset SMERU tahun 2022 mencatat sebanyak 73% anak muda tertarik menjalankan bisnis, seiring meningkatnya akses pemasaran digital melalui media sosial dan platform e-commerce.
Fenomena ini mendorong lahirnya banyak usaha baru berbasis komunitas, kampus, hingga bisnis rumahan. Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika usaha mulai berjalan dan memasuki fase pertumbuhan.
CEO & Founder Skin Game, Michella Ham, mengatakan, banyak pelaku usaha muda mampu mendapatkan pembeli pertama, tetapi belum siap membawa bisnis berkembang ke tahap berikutnya.
“Memiliki bisnis seperti memiliki anak yang harus dijaga sepenuh hati. Kita perlu memahami apa yang dibutuhkan bisnis. Kalau salah langkah, bisnis bisa sulit naik level. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu tahan banting, berani belajar, dan tidak ragu bertanya kepada orang-orang yang lebih berpengalaman,” ujar Michella dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Salah satu persoalan utama yang banyak dialami pebisnis muda adalah arus kas yang belum stabil. Pendapatan yang diperoleh masih habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi dan pesanan berikutnya, sehingga ruang untuk memperbesar usaha menjadi terbatas.
Kondisi tersebut membuat banyak usaha sulit meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kemasan produk, memperluas promosi, maupun menjangkau pasar baru. Di sisi lain, bisnis yang sudah laku di lingkungan kampus atau komunitas belum tentu siap melakukan ekspansi ke pasar yang lebih luas.
Selain kesiapan produk, pelaku usaha juga dituntut menjaga konsistensi kualitas, memastikan kapasitas produksi memadai, hingga menyusun strategi pemasaran yang lebih matang agar bisnis dapat tumbuh berkelanjutan.
Tantangan lain yang muncul adalah terbatasnya akses terhadap mentoring dan jejaring bisnis. Banyak mahasiswa maupun fresh graduate masih fokus menjalankan operasional harian, sehingga belum memiliki cukup ruang untuk memikirkan strategi pengembangan usaha jangka panjang.
Padahal, akses terhadap mentor dinilai penting untuk membantu pelaku usaha memahami kebutuhan pasar, mengevaluasi produk, hingga menentukan arah pengembangan bisnis.
Sebagai gambaran, data Kementerian UKM sebelumnya menunjukkan rasio kewirausahaan Indonesia masih berada di kisaran 3,47% dari total populasi pada 2024. Angka ini masih lebih rendah dibanding sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara yang telah melampaui 4%.
Baca Juga: PIK 2 Luncurkan Smart UMKM, Dorong Pelaku Usaha Lokal Naik Kelas Lewat Digitalisasi
Di tengah kondisi tersebut, kompetisi bisnis mulai dimanfaatkan perusahaan sebagai sarana inkubasi dan pengembangan usaha muda. Salah satunya dilakukan oleh perusahaan logistik J&T Express melalui program J&T Super Seller Competition.
Kompetisi tersebut ditujukan bagi mahasiswa aktif dan fresh graduate maksimal satu tahun setelah lulus yang telah menjalankan usaha minimal enam bulan. Produk yang didaftarkan juga harus berupa barang yang dapat dikirim menggunakan layanan logistik.
Dalam program ini, sebanyak 10 finalis akan memperoleh dana inkubasi masing-masing Rp20 juta. Sementara tiga pemenang utama akan mendapatkan hadiah Rp100 juta, Rp75 juta, dan Rp50 juta, ditambah tabungan usaha dari BCA senilai masing-masing Rp25 juta.
Brand Manager J&T Express, Herline Septia, mengatakan tantangan anak muda saat ini bukan lagi sekadar memulai usaha, melainkan bagaimana menjaga bisnis tetap tumbuh dan berkembang.
“Kami memahami bahwa tantangan wirausaha muda tidak berhenti pada keberanian untuk memulai bisnis. Ketika usaha mulai berjalan, mereka membutuhkan akses terhadap wadah pengembangan, dukungan modal, serta pendampingan yang relevan agar bisnisnya dapat bertumbuh lebih terarah,” kata Herline.
Selain dukungan modal, peserta juga akan mendapatkan kesempatan memperoleh masukan langsung dari para juri, termasuk Raditya Dika dan Michella Ham. Kehadiran mentor dinilai menjadi nilai tambah karena pelaku usaha muda dapat memperoleh insight mengenai strategi pemasaran, pengembangan produk, hingga membaca kebutuhan pasar.
Fenomena meningkatnya minat bisnis di kalangan anak muda juga terjadi di tengah tren ekonomi digital Indonesia yang terus berkembang. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tetap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, didorong pertumbuhan e-commerce dan adopsi digital UMKM.
Kondisi ini membuat semakin banyak anak muda melihat bisnis sebagai pilihan karier alternatif, bukan hanya pekerjaan sampingan. Namun, tanpa akses pendanaan, pendampingan, dan kesiapan ekspansi, banyak usaha berpotensi berhenti pada tahap awal pertumbuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum









