AKURAT.CO, Konflik dualisme kepengurusan cabang olahraga (cabor) tenis meja di Indonesia sudah berlangsung sejak 2011 atau tepatnya 13 tahun lalu.
Akibatnya, banyak event internasional atau event nasional yang tidak bisa diikuti oleh atlet-atlet tenis meja Indonesia.
Ini berujung dengan menurunnya prestasi tenis meja Indonesia di mata dunia.
Namun, tampaknya hal tersebut akan segera bisa dibenahi. Pasalnya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dito Ariotedjo, akan segera membentuk federasi tenis meja baru.
Hal ini sudah menjadi keputusan Satuan Tugas (Satgas) dan Tim Gabungan penyelesaian dualisme kepengurusan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI).
Keputusan tersebut diambil setelah berkoordinasi dan mendapatkan rekomendasi dari Federasi Internasional Tenis Meja (ITTF).
"Jadi kita melakukan apa yang kita formulasikan di lokal, dan internasional federasinya juga memberikan rekomendasi," kata Menpora.
Pembentukan Federasi Tenis Meja Nasional yang baru ini tampaknya tidak akan lama lagi. Beberapa hari sebelumnya, Menpora Dito bertemu dengan Menteri Hukum (Menhum), Supratman Andi Agtas, di Kantor Menteri Hukum, Gedung Sekretariat Jenderal, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (2/12).
Dalam pertemuan tersebut, Menpora Dito menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Menhum karena telah banyak membantu terkait dengan proses naturalisasi atlet-atlet olahraga Indonesia.
Juga meminta yang bersangkutan untuk menjadi Ketua Umum Federasi Tenis Meja Nasional yang baru.
"Terima kasih banyak Pak Menteri atas bantuannya terkait naturalisasi. Tapi yang paling utama yakni penugasan pimpinan agar Pak Menteri Hukum menjadi ketua umum tenis meja," kata Menpora Dito.
Selain itu, Dito juga menyebut bahwa pertemuannya dengan Menhum Supratman hanya sebatas sosialisasi dan koordinasi terkait sistem Permenpora yang baru.
"Jadi sosialisasi dan juga koordinasi dengan Kemenhukam dan memastikan bagaimana kedepannya ini potensi-potensi dualisme dari cabang olahraga ini kalau bisa kita lakukan (tindakan) preventif," kata Dito.
Dualisme di tubuh PTMSI sangat merugikan atlet-atlet Tanah Air. Karena masalah ini juga atlet-atlet tenis meja Indonesia absen dari tiga pelaksanaan pesta olahraga multi event Asia Tenggara, SEA Games.