AKURAT.CO, Konflik dualisme di kepengurusan federasi tenis meja Indonesia sudah berlangsung lebih dari 13 tahun atau sejak 2011 silam. Akibatnya, banyak atlet yang terdampak tidak bisa ikut kompetisi di ajang internasional.
SEA Games Kamboja 2023 adalah kompetisi olahraga Asia Tenggara teranyar yang diikuti oleh atlet tenis meja Indonesia setelah sebelumnya absen dalam dua edisi SEA Games.
Bukan hanya internasional, akibat dualisme ini tenis meja juga tidak bisa dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON)-ajang pesta olahraga tertinggi Indonesia-di beberapa edisi terakhir.
Namun, akhirnya tenis meja kembali dipertandingkan pada PON edisi ke-21 yang berlangsung di dua provinsi Aceh dan Sumatra Utara pada 9-20 September 2024 lalu setelah pada edisi ke-20 di Papua 2021 silam ditiadakan.
Ternyata, kehadiran cabor tenis meja di PON XXI Aceh-Sumut 2024 tidak serta merta hadir begitu saja. Ada peran olimpian tenis meja Indonesia yang turut ambil bagian dalam hal tersebut.
Dia adalah Ling Ling Agustin, atlet tenis meja putri yang pernah membawa nama Indonesia ke pentas dunia saat berjuang di Olimpiade Barcelona 1992 bersama pasangan gandanya, Rosy Pratiwi.
"Kemarin saya sampai ngotot sama pak Deputi IV (Surono), untuk buka (cabor tenis meja) di PON (Aceh-Sumut). Itu saya minta sama Mas Menpora sama Pak Deputi," jelas Ling Ling saat ditemui Akurat di kantor Kemenpora, Jakarta, Senin (9/12).
Di tengah dualisme kepengurusan tenis meja Indonesia, pemilik lima medali emas SEA Games ini masih punya rasa optimistis tinggi Merah Putih bisa bersaing dengan negara-negara sekitar.
Ling Ling bahkan menyebut Indonesia sebenarnya punya peluang merebut medali emas SEA Games Kamboja 2023 pada sektor ganda.
"Saya optimis. Kemarin kalau kita kirim (atlet terbaik) ke SEA Games, kita bisa mengambil dua emas, di ganda putri dan ganda putra, sama ganda campuran," kata Ling Ling.
"Kalau ngomong tunggal belum, kalau beregu masih berani lah. Kita ganda tuh bagus banget."