AKURAT.CO, Sprinter para atletik Indonesia, Saptoyogo Purnomo, mengaku puas dengan hasil yang diraihnya pada World Championship Para Atletik 2025 yang berlangsung di New Delhi, India, 27 September–5 Oktober 2025.
Meski hanya meraih medali perunggu di nomor 100 meter putra T37, Saptoyogo menilai persaingan di ajang dunia tersebut sangat ketat dan tak jauh berbeda dengan Paralimpiade Paris 2024.
Adapun di Paris Saptoyogo sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.
"Persaingan masih sama seperti di Paralimpiade Paris karena lawannya juga sama, terutama yang dari Brasil, Arab Saudi, dan Rusia. Mereka sangat kuat dan membuat persaingan jadi ketat," kata Saptoyogo, Selasa (7/10).
Medali perunggu didapatkan Saptoyogo usai mencatatkan waktu 11,29 detik, hanya terpaut tipis dari dua wakil Brasil, Ricardo Gomes de Mendonca yang meraih emas (11,16 detik) dan Christian Luiz da Costa yang meraih perak (11,23 detik).
Meskipun berhasil naik podium, Saptoyogo menegaskan bahwa hasil di India akan menjadi pemacu untuk tampil lebih baik di kompetisi berikutnya.
Atlet berusia 26 tahun itu kini membidik medali emas di ASEAN Para Games 2025 dan Asian Para Games 2026.
"Saya akan menambah lagi porsi latihan, harus lebih maksimal dan speed-nya juga ditingkatkan. Semoga hasil ini jadi pemacu agar ke depan bisa lebih baik," ucapnya.
Indonesia Sabet Empat Medali, Nanda Mei Pecahkan Rekor Asia
Selain perunggu dari Saptoyogo, tim para atletik Indonesia juga mampu meraih tiga medali perak pada Kejuaraan Dunia Para Atletik di India ini.
Perak pertama diraih Karisma Evi Tiarani di nomor 100 meter putri T63 dengan catatan waktu 14,65 detik. Ia finis di belakang juara dunia asal Italia, Ambra Sabatini, yang mencatatkan waktu terbaik 14,39 detik.
Perak kedua datang dari Partin di nomor 100 meter putra T63, dengan waktu 12,26 detik. Partin hanya kalah dari atlet asal Afrika Selatan, Puseletso Michael Mobate, yang mencatatkan waktu 12,03 detik.
Sementara perak ketiga disumbangkan dari nomor universal relay 4x100 meter, lewat kolaborasi Saptoyogo Purnomo, Jaenal Aripin, Ni Made Arianti Putri, dan Nanda Mei Sholihah dengan catatan waktu 47,81 detik, terpaut tipis dari Belanda (47,73 detik) yang meraih emas.
Selain empat medali, Nanda Mei juga mencatat prestasi membanggakan dengan memecahkan rekor Asia di nomor 100 meter putri T47. Meski finis di posisi keenam, catatan waktunya menjadi rekor baru di benua Asia dengan torehan 12,39 detik.
Catatan Positif untuk Modal Menuju Kejuaraan Berikutnya
Pelatih kepala para atletik Indonesia, Purwo Adi Sanyoto, menilai bahwa hasil di India sangat positif karena sebagian besar atlet mampu menorehkan session best dan bahkan personal best mereka.
"Capaian ini sangat luar biasa karena hampir seluruh atlet mencatatkan waktu terbaik musim ini, bahkan ada yang memecahkan rekor pribadi dan rekor Asia. Ini menjadi modal berharga untuk kejuaraan-kejuaraan berikutnya," kata Purwo.
Setelah ini tim para atletik Indonesia akan langsung mengalihkan fokus dan mempersiapkan diri untuk menghadapi gelaran selanjutnya di ASEAN Para Games 2025 dan Asian Para Games 2026.