Lutut Tak Bisa Lagi Kompromi, Ratu Bulutangkis Spanyol Carolina Marin Resmi Gantung Raket
AKURAT.CO, Panggung bulutangkis dunia kehilangan salah satu srikandi terbaiknya. Pebulutangkis tunggal putri asal Spanyol, Carolina Marin, secara resmi mengumumkan keputusannya untuk menyudahi karier profesional sebagai atlet tepok bulu.
Cedera lutut berkepanjangan menjadi alasan utama sang juara Olimpiade Rio de Janeiro 2016 ini memilih jalan pensiun.
Pengumuman tersebut disampaikan Carolina Marin melalui unggahan di media sosial pribadinya pada Kamis (26/3) malam WIB.
Pebulutangkis berusia tiga puluh dua tahun itu mengakui bahwa dirinya tak lagi mampu pulih seratus persen setelah dihantam cedera lutut ketiga dalam kariernya.
Melalui platform X, Carolina Marin menyampaikan pesan menyentuh bagi para penggemar yang telah menemaninya sejak awal kemunculan hingga masa-masa sulit akibat cedera.
"Perjalanan saya berakhir di sini. Terima kasih kepada kalian semua karena kalian juga telah menjadi bagian dari perjalanan saya," tulis Marin, Jumat (27/3).
Keputusan ini diambil setelah Marin tak kunjung kembali ke arena kompetitif pasca insiden memilukan di semifinal Olimpiade Paris 2024.
Kala itu, ia terpaksa mundur di tengah laga melawan wakil China, He Bingjiao, sambil menangis tersedu di pinggir lapangan akibat cedera serius.
Carolina Marin bukan sekadar pemain biasa. Ia adalah anomali sekaligus pendobrak tembok dominasi Asia di sektor tunggal putri.
Catatan prestasinya merupakan tinta emas yang sulit disamai oleh pemain Eropa mana pun hingga saat ini.
Ia menjadi satu-satunya tunggal putri non-Asia yang mampu meraih medali emas Olimpiade, tepatnya di Rio De Janeiro 2016.
Marin memiliki koleksi tiga gelar juara dunia (2014, 2015, dan 2018) yang menjadikannya wanita pertama yang meraih pencapaian tersebut sebelum akhirnya disamai oleh Akane Yamaguchi.
"Dalam petualangan baru ini, saya akan membawa nilai-nilai yang telah membimbing saya selama ini," kata Marin.
"Selanjutnya, saya akan mencoba membalas budi kepada masyarakat atas semua yang telah diberikan kepada saya. Ini adalah perjalanan yang luar biasa."
Karier Marin adalah cerminan dari ketangguhan mental. Badai cedera lutut pertamanya dimulai di final Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan.
Meski sempat bangkit berkali-kali, cedera ketiga yang didapatnya di Paris 2024 tampaknya menjadi batas akhir baginya.
Meskipun raket telah digantung, warisan Marin sebagai pebulutangkis yang mengubah peta persaingan dunia akan tetap abadi.
Dunia kini menanti peran baru Marin di luar lapangan untuk terus menginspirasi generasi muda khususnya di daratan Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









