Tunku Ismail Sebut Penolakan FIFA atas Banding Malaysia Bermotifkan Politik, Tak Sesuai Aturan

AKURAT.CO, Pangeran Kerajaan Johor, Tunku Ismail Ibrahim, menyatakan bahwa penolakan Komite Banding FIFA atas gugatan Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) bermuatan politik.
TMJ-sapaan Ismail-menyebut bahwa pendirian FIFA untuk tetap menghukum tujuh pemain naturalisasi yang dianggap terlibat dalam kasus pemalsuan dokumen melanggar Statuta FIFA.
"FIFA meneruskan hukuman terhadap pemain dengan melanggar hukum," tulis Tunku Ismail di akun Instagramnya sebagaimana dipetik dari New Strait Times.
Baca Juga: FIFA Resmi Tolak Banding Malaysia, FAM Mengaku Terkejut dan Pilih Jalur Terakhir ke CAS
"Di mana Article 22 Kode FIFA menyebut bahwa sanksi hanya bisa diterapkan terhadap mereka yang memalsukan atau menggunakan dokumen palsu, dan tak satupun hal itu berlaku pada para pemain.
"Dengan kata lain, sanksi yang diterapkan tanpa berdasarkan hukum dan sepertinya bermotifkan politik ketimbang hal lain."
Adapun FIFA mengeluarkan keputusan resmi penolakan banding FAM pada Senin (3/11). Dalam salinan putusan itu, FIFA menyatakan bahwa sanksi yang sudah mereka jatuhkan pada 25 September lalu tetap berlaku.
Adapun sanksi tersebut adalah denda sebesar 350 ribu Franc Swiss kepada FAM dan masing-masing 2.000 Franc Swiss serta larangan beraktifitas di dunia sepakbola selama 12 bulan terhadap tujuh pemain bersangkutan.
Ketujuh pemain itu adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomás Garcés, Rodrigo Julián Holgado, Imanol Javier Machuca, João Vitor Brandão Figueiredo, Jon Irazábal Iraurgui dan Hector Alejandro Hevel Serrano.
Baca Juga: Pengumuman Banding Malaysia atas Sanksi FIFA Lewat Jadwal, Belum Ada 'Tanda-Tanda'
TMJ sendiri merespons penolakan banding oleh FIFA karena ia disebut-sebut sebagai tokoh sentral dalam pemalsuan dokumen para pemain naturalisasi yang bermain untuk Malaysia itu.
TMJ adalah pelopor gerakan yang disebut dengan "revolusi Harimau Malaya" yang dimulai sejak akhir tahun lalu.
Salah satu gebrakan dalam revolusinya adalah mengambilalih kendali Timnas Malaysia dan mempercayakan pihak ketiga sebagai manajemen yang dipimpin oleh eks pesepakbola asal Kanada, Rob Friend.
Tujuh pemain yang terkena sanksi FIFA dinaturalisasi di era revolusi ini. FIFA menemukan bahwa FAM memasukkan dokumen palsu akta kelahiran kakek/nenek pemain terlibat yang disyaratkan untuk bermain di salah satu tim nasional sebagai pemain naturalisasi.
Tunku Ismail menegaskan dukungan terhadap pilihan FAM untuk mengambil langkah terakhir dengan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
"Beberapa memilih menunjuk jari (menyalahkan), beberapa membuat heboh, sementara saya memilih untuk berdiri dan mendukung perjuangan para pemain dengan semua yang diperlukan sampai akhir, yang kini akan ada di CAS-sebuah lembaga independen," tulis TMJ.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








