VAR Mati di Laga Persija vs PSM, Ketua Panpel: Infonya Gangguan Server, di Luar Kendali Kami

AKURAT.CO, Ketiadaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam laga antara Persija Jakarta kontra PSM Makassar beberapa waktu lalu sempat memunculkan tanda tanya.
Pertandingan yang berlangsung dengan tensi tinggi itu digelar tanpa bantuan perangkat video, sesuatu yang jarang terjadi di kompetisi yang sudah mengadopsi sistem tersebut.
Sorotan pun mengarah kepada panitia pelaksana (Panpel) tuan rumah Persija Jakarta.
Banyak pihak mempertanyakan bagaimana mungkin laga sebesar itu berlangsung tanpa dukungan VAR yang selama ini menjadi elemen penting dalam membantu wasit mengambil keputusan krusial.
Ketua Panpel Persija, Ferry Indrasjarief, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan situasi.
Ia mengakui bahwa insiden tersebut memang menimbulkan kebingungan di kalangan suporter maupun pengamat sepakbola nasional.
Menurut Ferry Indrasjariet, perangkat VAR bukan sepenuhnya berada di bawah kendali Panpel klub.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab panitia lebih kepada penyediaan fasilitas pendukung agar sistem dapat beroperasi dengan optimal.
“Sebetulnya begini, VAR itu alatnya bukan dari kita. Peralatannya memang sudah disediakan,” ujar Ferry Indrasjarief kepada awak media di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta, Selasa (3/3).
Ia menambahkan, kewajiban panitia adalah memastikan kesiapan sarana penunjang seperti pasokan listrik, genset, hingga ruangan khusus untuk operasional VAR.
Semua aspek tersebut, kata dia, telah dipenuhi sebelum pertandingan dimulai.
“Tugas dan kewajiban kami adalah menyiapkan semua pendukungnya supaya VAR bisa berjalan, mulai dari genset, listrik, sampai ruangan khususnya,” jelasnya.
Ferry juga memaparkan bahwa sebelum kick-off, perangkat VAR telah melalui proses uji coba dan dinyatakan dalam kondisi normal. Tidak ada indikasi gangguan teknis saat pengecekan awal dilakukan.
“Ketika dicoba sebelumnya masih bisa berjalan. Tapi saat pertandingan berlangsung, ternyata hanya bertahan sekitar dua jam lalu mati,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterima, gangguan terjadi pada server utama.
Jika benar demikian, Ferry menilai hal tersebut sudah berada di luar kewenangan panitia lokal.
“Kalau memang servernya mati, seperti informasi yang kami terima, itu sudah di luar kuasa kami,” tegasnya.
Selain faktor teknis, Ferry turut menyinggung kondisi stadion yang tidak menetap sebagai tantangan tersendiri.
Mobilitas perangkat VAR yang harus berpindah mengikuti lokasi pertandingan dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas sistem.
“Stadion kami kan berpindah-pindah. Otomatis alat VAR juga ikut berpindah. Kalau kami punya stadion yang menetap, mungkin kami bisa meminta satu ruangan permanen untuk menempatkan perangkat VAR, sehingga tidak perlu bongkar pasang lagi,” paparnya.
Dengan sistem yang dipasang dan dibongkar berulang kali, risiko gangguan teknis dinilai lebih besar dibandingkan jika perangkat ditempatkan secara permanen dalam satu lokasi.
Meski demikian, Ferry memastikan Panpel Persija telah menjalankan seluruh kewajiban sesuai regulasi yang berlaku.
Ia menegaskan komitmen untuk melakukan evaluasi bersama pihak terkait agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada laga berikutnya.
“Kami sudah menyiapkan semua yang menjadi tanggung jawab kami. Tapi kalau ada gangguan pada server atau perangkat inti, itu memang di luar kendali panitia pelaksana,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









