Akurat
Pemprov Sumsel

Gaji Pemain PSBS Biak Macet, Erick Thohir Tegaskan Risiko Pemotongan Subsidi Klub

Dian Eko Prasetio | 17 April 2026, 18:31 WIB
Gaji Pemain PSBS Biak Macet, Erick Thohir Tegaskan Risiko Pemotongan Subsidi Klub
Menpora Erick Thohir (kiri) didampingi Menkum Supratman Andi Agtas (kedua kiri), Wamenpora Taufik Hidayat (kedua kanan), saat memberikan keterangan pers di Gedung Kemenkum, Jakarta, Jumat (17/4/2026). ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

AKURAT.CO, Kabar miring kembali menerpa kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Klub promosi Liga 1, PSBS Biak, dilaporkan tengah mengalami krisis finansial hebat yang berdampak pada tunggakan gaji pemain dan ofisial hingga tiga bulan.

Menanggapi polemik tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga yang juga Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa federasi telah memiliki payung hukum yang kuat untuk melindungi hak atlet.

Ia menunjuk National Dispute Resolution Chamber (NDRC) sebagai benteng pertahanan utama bagi para pemain yang dirugikan.

"Isu persepakbolaan sudah punya mekanismenya di liga. PSSI punya payung hukum NDRC, itu pertama di Asia untuk perlindungan pemain," ujar Erick Thohir saat ditemui di Sekretariat Kementerian Hukum, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Erick Thohir menjelaskan bahwa mekanisme kontrol klub kini lebih ketat melalui club licensing. Terlebih, nilai subsidi yang diterima klub dari operator liga musim ini telah melonjak drastis dari Rp5 miliar menjadi Rp17 miliar.

Lonjakan pendapatan liga ini menjadi jaminan bahwa hak pemain tidak akan hilang. Jika klub terbukti menunggak, pihak liga memiliki kewenangan untuk melakukan pemotongan jatah subsidi guna melunasi kewajiban kepada pemain.

"Penyelesaian dari NDRC dan liga memproteksi pemain itu ya memotong dari jatah subsidi itu sendiri. Jadi sekarang sudah lebih terlindungi dibanding dulu. Mekanisme detailnya silakan tanya ke liga dan NDRC," imbuh Erick.

Polemik ini mencuat setelah sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada manajemen PSBS Biak, operator liga, dan PSSI beredar luas.

Dalam surat tersebut, para pemain dan staf mengungkap kondisi memprihatinkan yang melampaui sekadar keterlambatan gaji.

Krisis finansial ini dilaporkan telah melumpuhkan aktivitas tim. Beberapa poin krusial yang diungkap dalam pernyataan tersebut antara lain:

Tunggakan Gaji

Keterlambatan pembayaran hak pemain dan staf berkisar antara dua setengah hingga tiga bulan.

Fasilitas Dasar Nihil

Tidak tersedianya air minum setelah sesi latihan dan ketiadaan konsumsi di akomodasi bagi pemain lokal.

Aset Tim Ditarik

Kendaraan operasional tim telah ditarik, bahkan pemain asing mulai menerima surat pengosongan tempat tinggal akibat sewa yang tidak dibayar.

Latihan Terhenti

Kurangnya biaya menyebabkan tim tidak memiliki akses ke lapangan latihan.

Dalam surat yang ramai beredar tersebut, para pemain menyatakan telah berupaya menjalin komunikasi dengan manajemen namun tidak mendapatkan respons.

Saat ini, mereka telah menggandeng Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) untuk memproses masalah ini secara hukum.

Langkah tegas PSSI dan operator liga melalui pemotongan subsidi kini menjadi tumpuan harapan terakhir bagi para penggawa Badai Pasifik agar hak-hak mereka segera terpenuhi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.