Desakan Hentikan Perundingan FSC dengan Korporasi Kayu Terbesar Kedua di Indonesia

AKURAT.CO Dua organisasi lingkungan, Earthsight dari Inggris dan Auriga Nusantara dari Indonesia, secara terbuka mendesak Forest Stewardship Council (FSC) untuk menghentikan proses perundingan pemulihan (Remedy Framework) dengan Asia Pacific Resources International Holdings Ltd (APRIL), perusahaan pulp terbesar kedua di Indonesia.
FSC mencabut sertifikasi APRIL pada tahun 2013 karena dugaan keterlibatan perusahaan ini dalam deforestasi besar-besaran dan pelanggaran di Indonesia.
Namun, pada 2016, dialog formal antara FSC dan APRIL dimulai, memberikan peluang bagi APRIL untuk kembali menggunakan sertifikasi FSC, asalkan memenuhi syarat, termasuk penyelesaian konflik masyarakat dan memastikan rantai pasoknya bebas deforestasi.
Peneliti Earthsight, Kalina Dmitriew, mengkritik keras induk usaha APRIL, yang dianggap memanfaatkan proses pemulihan FSC untuk menciptakan citra seolah-olah perusahaan memiliki kredibilitas sosial dan lingkungan.
"Induk usaha APRIL tampak memanfaatkan proses ini sebagai alat greenwashing skala industri, sembari terus mendapatkan keuntungan dari perusakan hutan alam. FSC seharusnya tidak mentolerir hal ini. Proses pemulihan dengan APRIL perlu dihentikan sampai deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia benar-benar berakhir di seluruh operasional dan rantai pasok," tegas Kalina, dikutip pada Sabtu (14/12/2024).
Kalina juga menyebut bahwa perusahaan-perusahaan terkait induk usaha APRIL, terus menjadi aktor utama deforestasi di Indonesia.
Ketua Auriga Nusantara, Timer Manurung, menilai, FSC selama ini naif dalam memahami struktur korporasi pulp di Indonesia.
"FSC harus lebih aktif menelisik struktur korporasi untuk memastikan perusahaan pemegang sertifikasi benar-benar kredibel dan berkomitmen melindungi hutan yang tersisa," kata Timer.
Ia menambahkan, pembukaan lahan hutan alam untuk kebun kayu monokultur di konsesi APRIL telah memicu konflik berkepanjangan dengan masyarakat adat, mengeluarkan emisi karbon yang masif, serta merusak habitat spesies terancam punah seperti orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Laporan Rainforest Action Network sebulan lalu mengungkap bahwa salah satu pabrik sawit pemasok Apical, anak usaha dari induk usaha APRIL di sektor kelapa sawit, menerima sawit ilegal yang berasal dari kawasan hutan alam Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Kawasan Ekosistem Leuser, Aceh.
Wilayah ini merupakan habitat terpadat orangutan Sumatera (Pongo abelii). Meskipun Apical menyatakan akan menyelidiki kasus ini, temuan ini memperkuat desakan agar FSC mengevaluasi hubungan dengan induk usaha APRIL.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Wayan Agus Buntung, Ini 5 Prinsip Islam dalam Mendidik Anak Laki-laki
Induk usaha APRIL sendiri membantah keterlibatannya dengan Mayawana Persada maupun kontrol terhadap Borneo Hijau Group, induk dari PT Industrial Forest Plantation.
Dengan berbagai tudingan terkait deforestasi, konflik sosial, dan pelanggaran lingkungan, Earthsight dan Auriga Nusantara meminta FSC segera menghentikan perundingan dengan APRIL, setidaknya hingga perusahaan mampu menunjukkan komitmen nyata dalam menyelesaikan permasalahan mendasar di seluruh operasional dan rantai pasoknya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





