Cegah Bullying dan Korupsi, Pemprov Jabar Siapkan Beasiswa Dokter Spesialis

AKURAT.CO Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam memberantas praktik perundungan, nepotisme, dan korupsi di dunia pendidikan kedokteran.
Langkah ini sekaligus untuk melahirkan dokter spesialis yang profesional, berintegritas, dan humanis.
Menurut Dedi, masalah perundungan dan nepotisme sudah menjadi persoalan klasik, namun jarang dibicarakan secara terbuka.
“Di dunia kedokteran sekarang, bukan hanya soal pendidikan yang sulit, tapi juga biaya yang tinggi. Akhirnya hanya orang-orang dari keluarga kaya yang bisa melanjutkan ke spesialis. Padahal bangsa ini butuh dokter pengabdi, bukan hanya dokter dari kelas tertentu,” ujarnya, Minggu (24/8/2025).
Untuk itu, Pemprov Jabar menyiapkan program beasiswa pendidikan dokter spesialis melalui APBD 2026 bagi dokter umum yang mengabdi di rumah sakit pemerintah.
Selain itu, akan dilakukan penjaringan calon dokter sejak SMA agar lahir generasi dokter yang beretika dan berjiwa kebangsaan.
“Ke depan, jangan ada lagi bully, jangan ada lagi pemerasan, jangan ada lagi sikap arogan senior kepada junior. Dunia kedokteran adalah dunia pengabdian, bukan dunia penindasan,” tegas Dedi.
Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Rudi Setiawan mengungkapkan banyaknya laporan terkait praktik perundungan, gratifikasi, hingga kekerasan seksual di dunia kedokteran.
Baca Juga: Gubernur Herman Deru Pastikan Gedung SMA Bingin Teluk Dibangun Tahun Depan
“Bullying bukan lagi zamannya. Kami menerima lebih dari 2.000 laporan, sebagian besar dari Bandung, bahkan di RS Hasan Sadikin. Jika dulu sebatas fisik, kini sudah menyangkut materi dan uang. Ini sangat memprihatinkan,” jelasnya.
Rudi menegaskan praktik korupsi di sektor kesehatan berimbas langsung pada mutu layanan dan keselamatan pasien, sementara kasus kekerasan seksual mencoreng martabat profesi medis.
“Mari kita hentikan praktik ini bersama demi generasi tenaga kesehatan yang sehat, profesional, dan bermoral,” ajaknya.
Senada, anggota Komisi IX DPR RI dr. Cellica Nurrachadiana mengingatkan pentingnya sumpah dokter untuk dijalankan, bukan sekadar diucapkan.
“Sumpah dokter bukan hanya diucapkan, tetapi dijalankan. Jangan ada lagi perundungan, gratifikasi, atau kekerasan seksual di rumah sakit pendidikan,” tegasnya.
Cellica juga mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan yang memperluas pendidikan berbasis rumah sakit hingga ke daerah 3T dengan insentif khusus bagi dokter.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan mendorong pemerataan layanan kesehatan yang lebih adil di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Persipura Jayapura Resmi Perkenalkan Skuad Championship 2025-2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








