Warga Sekitar Pabrik AMDK di Subang Keluhkan Krisis Air Bersih

AKURAT.CO Sejumlah warga yang tinggal di sekitar pabrik air minum dalam kemasan di Kabupaten Subang mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau.
Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pabrik beberapa waktu lalu.
Dalam kunjungannya, Dedi mengatakan bahwa dirinya menerima banyak laporan dari masyarakat terkait keterbatasan akses air bersih di sekitar area industri tersebut.
“Jangan sampai kejadian begini. Air yang dari sini diangkut dan dijual dengan harga mahal, sementara orang di sekitar gunung tidak bisa mandi karena tidak punya air bersih,” ujarnya, dikutip pada Senin (27/10/2025).
Dedi menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dengan pemenuhan kebutuhan air masyarakat sekitar.
Ia meminta pihak perusahaan untuk memastikan kegiatan operasional tidak mengganggu ketersediaan air bagi warga.
Sementara itu, dalam dialog di lokasi, sejumlah perwakilan warga menyampaikan bahwa hingga kini mereka belum merasakan secara langsung adanya program penyaluran air bersih dari pihak perusahaan.
Hal ini berbeda dengan klaim perusahaan yang sebelumnya menyatakan telah menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) di bidang air bersih.
Di hadapan Gubernur, seorang ketua RW mengungkapkan kondisi kekeringan yang dialami sehari-hari serta minimnya bantuan dari pihak industri.
“Tidak ada, Pak. Saya sebagai RW-nya juga belum pernah menerima air dari perusahaan itu. Tidak ada sama sekali,” katanya.
Fenomena serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain yang menjadi lokasi pabrik air minum dalam kemasan.
Baca Juga: Akui Dapat Tawaran dari Tim Liga 1, Andik Vermansyah Nyaman di Liga 2 Bersama Garudayaksa
Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 2021 menunjukkan adanya penurunan debit air irigasi hingga 76% di Desa Kepanjen, Klaten, Jawa Tengah, setelah pabrik beroperasi.
Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya produksi pertanian hingga 62%.
Laporan kesulitan air juga datang dari warga di Cigombong (Bogor) serta Pasuruan (Jawa Timur). Mereka menyebut sumur-sumur mengering saat musim kemarau, sehingga harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai respons, perusahaan terkait diketahui menjalankan program distribusi air melalui mobil tangki, namun sebagian warga menilai langkah tersebut belum menjadi solusi jangka panjang.
Sejumlah pengamat menilai, situasi ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan sumber daya air di sekitar kawasan industri, agar keberadaan perusahaan dapat berjalan seimbang dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








