Bantuan Korban Banjir Sumatra: Kolaborasi Citi Foundation dan Save the Children Pulihkan Pendidikan Anak

AKURAT.CO Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025 meninggalkan dampak besar bagi ribuan keluarga. Rumah rusak, akses air bersih terganggu, dan yang paling terasa adalah terganggunya pendidikan anak-anak setelah banyak sekolah rusak akibat bencana.
Dalam situasi seperti ini, bantuan korban banjir Sumatra tidak hanya soal kebutuhan darurat seperti makanan atau tempat tinggal sementara. Bagi anak-anak, akses pendidikan dan ruang aman untuk belajar juga menjadi kebutuhan penting agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal setelah bencana.
Melihat kondisi tersebut, Citi Foundation bersama Save the Children Indonesia menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk membantu pemulihan pendidikan anak-anak terdampak banjir di Sumatra Utara.
Bantuan Korban Banjir Sumatra: Program Pemulihan Pendidikan Anak
Kolaborasi antara Citi Foundation dan Save the Children Indonesia menghadirkan berbagai program untuk membantu anak-anak kembali belajar setelah sekolah mereka terdampak banjir.
Program bantuan meliputi:
Temporary Learning Space (TLS) atau ruang belajar sementara
Penguatan pojok baca untuk meningkatkan akses literasi
Back-to-School Kits berupa tas, buku, dan perlengkapan belajar
Dukungan fasilitas pendidikan bagi anak terdampak bencana
Bantuan ini merupakan bagian dari pendanaan pemulihan pascabencana senilai US$200.000 atau sekitar Rp3,3 miliar, yang disalurkan untuk empat negara yang terdampak cuaca ekstrem, yaitu:
Indonesia
Vietnam
Thailand
Sri Lanka
Di Indonesia, bantuan difokuskan untuk anak-anak dan keluarga terdampak banjir Sumatra Utara, terutama di wilayah Tapanuli Tengah.
Dampak Banjir Sumatra terhadap Pendidikan Anak
Banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 melanda beberapa wilayah di Sumatra, termasuk:
Aceh
Sumatra Utara
Sumatra Barat
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan rumah, fasilitas umum, dan sekolah.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Februari 2026, sebanyak 4.852 sekolah terdampak bencana di wilayah Sumatra.
Kondisi ini membuat banyak anak kehilangan akses pendidikan. Sekolah rusak atau tidak bisa digunakan, sementara sebagian keluarga harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Akibatnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena mereka kehilangan:
akses belajar
ruang aman untuk bermain dan bersosialisasi
rutinitas sehari-hari yang penting bagi perkembangan mental
Kolaborasi Citi Foundation dan Save the Children
Upaya pemulihan pendidikan pascabencana ini merupakan hasil kerja sama antara sektor swasta dan organisasi kemanusiaan.
Hario Widyananto, Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, menjelaskan bahwa pendidikan anak menjadi fokus penting dalam program bantuan ini.
“Citi percaya bahwa dukungan terhadap ruang belajar yang aman dan layak merupakan hal yang sangat krusial dalam mendukung keberlangsungan pendidikan anak-anak,” kata Hario Widyananto dalam acara Media Gathering Citi Indonesia di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Menurutnya, bantuan dari Citi Foundation bertujuan membantu anak-anak dan keluarga terdampak bencana agar dapat segera pulih dan kembali menjalani kehidupan normal.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan kemanusiaan.
Ia menyebut dunia saat ini bergerak sangat cepat dan penuh dinamika, sehingga kolaborasi antara sektor swasta dan organisasi sosial menjadi semakin penting untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Temporary Learning Space untuk Anak Korban Banjir
Salah satu program utama dalam bantuan ini adalah pembangunan Temporary Learning Space (TLS) atau ruang belajar sementara.
TLS dirancang sebagai fasilitas pendidikan sementara yang lebih aman dan nyaman dibandingkan tenda darurat biasa.
Fungsinya antara lain:
memberikan tempat belajar sementara bagi siswa
memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan
menyediakan ruang aman bagi anak-anak setelah bencana
Selain ruang belajar sementara, program ini juga menyediakan:
pojok baca untuk meningkatkan literasi
fasilitas sanitasi seperti toilet sekolah
Back-to-School Kits berisi tas dan perlengkapan belajar
Bagi anak-anak, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah juga menjadi ruang aman untuk bertemu teman dan guru setelah mengalami trauma akibat bencana.
Kisah Anak-Anak yang Tetap Ingin Sekolah
Ketika tim Citi Indonesia mengunjungi Desa Hutanabolon di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, mereka melihat langsung bagaimana dampak bencana terhadap kehidupan anak-anak.
Beberapa sekolah rusak berat bahkan hancur akibat banjir. Akibatnya, anak-anak harus belajar di lokasi sementara.
Dalam beberapa kasus, anak-anak bahkan harus berjalan hingga empat jam untuk mencapai sekolah sementara.
Ada pula keluarga yang sebelumnya tinggal hanya 100 meter dari sekolah, tetapi rumah mereka hanyut terbawa banjir sehingga kini harus tinggal lebih jauh dari lokasi sekolah.
CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar mengungkapkan bahwa timnya bergerak cepat setelah bencana terjadi.
“Bahkan dalam waktu sekitar empat jam setelah kejadian, tim kami sudah menuju lokasi untuk melakukan respons awal,” ujar Dessy dalam kesempatan yang sama.
Pada fase awal, fokus bantuan adalah penyediaan kebutuhan darurat seperti makanan, air bersih, dan perlengkapan kesehatan. Setelah itu, program berlanjut ke tahap pemulihan, termasuk pendidikan anak.
Pendidikan Jadi Prioritas Pemulihan Pascabencana
Pemulihan pendidikan sering menjadi salah satu prioritas utama setelah bencana.
Selain membantu anak-anak tetap belajar, sekolah juga berperan penting dalam memulihkan kondisi psikologis mereka.
Menurut Fadli Usman, Humanitarian and Program Operations Director Save the Children Indonesia, kerusakan ribuan sekolah menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi dalam pemulihan sektor pendidikan.
“Ribuan sekolah yang terdampak menunjukkan besarnya tantangan pemulihan sektor pendidikan serta urgensi memastikan anak-anak dapat segera kembali belajar di lingkungan yang aman dan mendukung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan tersebut tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja. Kolaborasi dengan sektor swasta seperti Citi Foundation menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pemulihan.
Tantangan Pemulihan di Daerah Terpencil
Proses penyaluran bantuan di wilayah terdampak juga menghadapi berbagai kendala.
Beberapa daerah yang terkena banjir berada di lokasi terpencil dan sulit dijangkau. Bahkan pada fase awal bencana, tim bantuan harus menggunakan helikopter untuk mencapai wilayah yang terisolasi.
Selain itu, masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, seperti:
keterbatasan akses air bersih
kerusakan infrastruktur
banjir susulan yang masih terjadi di beberapa wilayah
Kondisi ini membuat proses pemulihan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Harapan Pemulihan bagi Anak-Anak Terdampak
Di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat anak-anak untuk kembali bersekolah menjadi harapan terbesar bagi masa depan daerah terdampak bencana.
Bagi mereka, kembali belajar berarti kembali memiliki rutinitas, mimpi, dan masa depan.
Kolaborasi antara Citi Foundation dan Save the Children Indonesia menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Perjalanan pemulihan ini masih panjang. Dukungan dari berbagai pihak—pemerintah, sektor swasta, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat luas—akan sangat menentukan masa depan anak-anak yang terdampak bencana di Sumatra.
Baca Juga: 1.741 Sekolah di Sumatra Teken PKS Revitalisasi Pascabencana
Baca Juga: Akses Pangan Terputus, Bahaya Kental Manis Mengintai Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang
FAQ
Apa saja bantuan korban banjir Sumatra yang diberikan oleh Citi Foundation dan Save the Children?
Bantuan korban banjir Sumatra dari Citi Foundation dan Save the Children Indonesia berfokus pada pemulihan pendidikan anak-anak terdampak bencana. Program yang diberikan meliputi pembangunan Temporary Learning Space (ruang belajar sementara), penyediaan pojok baca, fasilitas sanitasi sekolah, serta Back-to-School Kits berisi tas dan perlengkapan belajar. Bantuan ini bertujuan membantu anak-anak kembali belajar dengan aman setelah banyak sekolah rusak akibat banjir.
Mengapa anak-anak menjadi kelompok paling terdampak banjir di Sumatra?
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena bencana tidak hanya merusak rumah, tetapi juga sekolah dan fasilitas pendidikan. Ketika sekolah rusak atau tidak dapat digunakan, anak-anak kehilangan akses belajar, ruang aman, serta rutinitas harian yang penting bagi perkembangan mental mereka. Oleh karena itu, program bantuan pendidikan anak korban bencana menjadi prioritas dalam proses pemulihan pascabencana.
Apa itu Temporary Learning Space dan bagaimana manfaatnya bagi anak korban banjir?
Temporary Learning Space (TLS) adalah ruang belajar sementara yang dibangun setelah bencana ketika sekolah rusak atau tidak dapat digunakan. Fasilitas ini dirancang lebih aman dan nyaman dibandingkan tenda darurat sehingga anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. TLS juga membantu memulihkan kondisi psikologis anak karena mereka bisa kembali bertemu teman dan guru di lingkungan yang mendukung.
Berapa banyak sekolah yang terdampak banjir di wilayah Sumatra?
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Februari 2026, sekitar 4.852 sekolah terdampak banjir dan longsor di wilayah Sumatra, termasuk di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kerusakan tersebut menyebabkan ribuan siswa kesulitan mengakses pendidikan sehingga diperlukan program pemulihan pendidikan pascabencana.
Apa isi bantuan Back-to-School Kits untuk anak terdampak banjir?
Back-to-School Kits merupakan paket perlengkapan sekolah yang diberikan kepada anak-anak korban bencana agar mereka dapat kembali belajar dengan semangat baru. Paket ini biasanya berisi tas sekolah, buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya. Bantuan ini juga membantu keluarga yang kehilangan banyak barang akibat banjir agar anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Mengapa kolaborasi sektor swasta penting dalam bantuan kemanusiaan?
Kolaborasi antara sektor swasta dan organisasi kemanusiaan sangat penting karena dapat mempercepat proses penyaluran bantuan dan memperluas jangkauan program. Dukungan dari pihak seperti Citi Foundation memungkinkan organisasi seperti Save the Children Indonesia menjalankan program pemulihan pendidikan, bantuan anak terdampak banjir, serta pembangunan fasilitas belajar sementara di wilayah yang membutuhkan.
Bagaimana kondisi anak-anak di daerah terdampak banjir Sumatra saat ini?
Sebagian anak-anak di wilayah terdampak banjir Sumatra masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk akses pendidikan yang terbatas karena sekolah rusak. Beberapa siswa bahkan harus berjalan jauh untuk mencapai sekolah sementara. Program bantuan pendidikan dan ruang belajar sementara diharapkan dapat membantu mereka kembali belajar secara normal sambil menunggu proses pembangunan sekolah permanen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









