FTUI dan ILUNI Bangun Huntara untuk Korban Banjir Aceh Tengah

AKURAT.CO Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) bersama Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI FTUI) memulai pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir bandang di Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025, sekaligus membantu masyarakat mendapatkan tempat tinggal sementara yang aman dan layak.
Ketua ILUNI FTUI, Farrizky Astrawinata, bersama Ketua Satuan Tugas Kebencanaan FTUI, Ardiyansyah, telah meninjau langsung kondisi Desa Gewat yang hingga kini masih memprihatinkan meski bencana telah berlalu sekitar 90 hari.
Dalam kunjungan tersebut, tim juga menyalurkan bantuan sembako melalui program UI Peduli.
Desa Gewat yang berada di wilayah Kecamatan Linge masih menghadapi tantangan akses.
Perjalanan menuju lokasi harus ditempuh melalui jalur darat dari Lhokseumawe ke Takengon sekitar 2,5 jam, dilanjutkan perjalanan sekitar tiga jam menuju desa, dengan kondisi jalan yang masih dalam tahap pemulihan akibat longsor.
Pembangunan huntara dimulai sejak 7 Maret 2026. Saat ini, satu unit telah berdiri, sementara proses pembersihan lahan untuk pembangunan 11 unit lainnya masih berlangsung.
Secara keseluruhan, program ini menargetkan pembangunan 12 unit huntara, dengan empat unit ditargetkan rampung sebelum Idulfitri dan sisanya selesai sekitar 30 hari setelah Lebaran.
Dekan FTUI menyampaikan bahwa pembangunan ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi masa pemulihan pascabencana.
Baca Juga: Masjid Al-Ikhlas PIK Jadi Pusat Ramadan Festival, Seni Islami hingga UMKM Meriahkan Perayaan
“Sebagai institusi pendidikan teknik, kami memiliki tanggung jawab menghadirkan solusi berbasis keilmuan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Huntara yang dibangun memiliki ukuran 4 × 7,2 meter dengan model Antara Versi 3, pengembangan dari desain yang sebelumnya telah digunakan dalam penanganan bencana di Lombok, Palu, dan Cianjur.
Desain tersebut terinspirasi dari rumah adat Gayo, Uma Pitu Ruang, dengan konsep rumah panggung berbahan kayu yang kokoh dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Selain mengadopsi kearifan lokal, desain huntara ini juga mengedepankan efisiensi material, kemudahan konstruksi, serta ketahanan terhadap kondisi lingkungan.
Struktur bangunan dibuat modular agar proses pembangunan lebih cepat dan dapat melibatkan partisipasi warga secara gotong royong.
Konsep rumah panggung juga memberikan perlindungan dari kelembapan tanah sekaligus meningkatkan sirkulasi udara, sehingga hunian tetap nyaman ditempati.
Bahkan, desain ini memungkinkan pengembangan menjadi hunian permanen secara bertahap sesuai kebutuhan penghuni.
Pembangunan huntara dilakukan bersama masyarakat setempat dengan pendampingan teknis dari Dompet Dhuafa, serta dukungan dari pemerintah daerah setempat.
Reje Desa Gewat, Sandi Suardi, mengapresiasi dukungan yang diberikan FTUI dan para mitra dalam membantu warganya bangkit dari bencana.
“Kehadiran hunian sementara ini sangat berarti bagi warga kami untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang sambil membangun masa depan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak, pembangunan huntara ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mempercepat pemulihan kehidupan warga Desa Gewat pascabencana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









