Akurat Logo

Mengapa Jakarta Sering Banjir? Ini Penyebab Utama dan Solusi Berbasis Alam

Redaksi Akurat | 2 Juni 2026, 10:50 WIB
Mengapa Jakarta Sering Banjir? Ini Penyebab Utama dan Solusi Berbasis Alam
Masalah banjir di Jakarta tidak hanya sekadar curah hujan tinggi atau meluapnya sungai. Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Banjir menjadi masalah yang sudah rutin menghantui wilayah Provinsi Jakarta.

Tidak hanya sekadar curah hujan yang tinggi, namun akar permasalahannya jauh lebih kompleks, seperti penurunan muka tanah yang drastis, aliran air dari hulu, hingga perubahan tutupan lahan.

Alasan Jakarta Sering Banjir

  1. Curah Hujan Ekstrem - Kapasitas sistem drainase kota tidak cukup untuk menampung limpasan air hujan yang besar.

  2. Perubahan Tutupan Lahan dan Urbanisasi - Jakarta hanya memiliki ruang terbuka hijau sekitar 9,8 persen pada 2019. Akibatnya, aliran limpasan permukaan meningkat, sungai dan drainase lebih mudah meluap.

  3. Penurunan Muka Tanah - Wilayah pesisir utara Jakarta menghadapi penurunan muka tanah yang ekstrem, hingga sekitar 12 cm per tahun, dan beberapa lokasi mencapai hingga 25 cm per tahun.

  4. Banjir Kiriman dan Topografi - Jakarta sebagai kota rendah dan berada di akhir aliran sungai besar, membuatnya rentan terhadap aliran dari hulu.

Dampak Banjir di Jakarta

  1. Terhambatnya aktivitas sehari-hari seperti lumpuhnya transportasi, jalan tergenang, ekonomi lokal terpengaruh.

  2. Biaya pemulihan yang besar karena kerusakan infrastruktur, beban sosial.

  3. Ancaman kesehatan masyarakat.

  4. Tekanan terhadap sistem drainase dan infrastruktur fisik kota yang semakin tua.

Solusi Banjir

Solusi infrastruktur tradisional terbukti kurang memadai, muncul alternatif berupa NbS yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

NbS merupakan singkatan dari Nature-based Solution, berarti pendekatan yang memanfaatkan fungsi alam untuk mengelola risiko banjir.

Contohnya:

  • Vegetasi yang mengintersepsi hujan.

  • Permukaan yang permeabel sehingga air bisa meresap ke dalam tanah.

  • Sistem kombinasi antara infrastruktur "abu-abu" dan "hijau."

Contoh Implementasi untuk Jakarta

  • Lubang resapan biopori, atau hijau, wadah penampungan hujan untuk skala permukiman.

  • Ruang Terbuka Hijau multifungsi yang sekaligus menjadi kolam resapan.

  • Parit vegetasi, permeable pavement di area kota.

Tips dan Tantangan

  1. Integrasi NbS ke dalam rencana induk kota dan pembangunan.

  2. Evaluasi risiko, kondisi infrastruktur eksisting, dan ekosistem terkait.

  3. Perhitungan biaya, monitoring jangka panjang, dan partisipasi masyarakat.

Masalah banjir di Jakarta tidak hanya sekadar curah hujan tinggi atau sungai meluap, namun kombinasi faktor alamiah dan antropogenik.

Dengan memahami akar persoalan secara komprehensif, penerapan NbS memberi harapan baru dalam mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kota.

Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
W
Editor
Wahyu SK