Bak Jatuh Tertimpa Tangga, Kenaikan Tarif Transjakarta Tambah Beban Masyarakat

AKURAT.CO Rencana kenaikan tarif Transjakarta dan Transjabodetabek berpotensi semakin membebani masyarakat yang saat ini sudah menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kebutuhan pokok, serta tekanan ekonomi lainnya.
Alasan kenaikan tarif yang dikaitkan dengan meningkatnya minat masyarakat menggunakan transportasi umum akibat kenaikan BBM, dinilai tidak tepat dan perlu dikaji ulang secara menyeluruh.
"Rencana kenaikan tarif Transjabodetabek ingin dikemas oleh Gubernur DKI Jakarta sehubungan adanya kenaikan BBM dan dengan kenaikan BBM maka masyarakat meningkat untuk menggunakan transportasi umum. Hal ini tidak tepat," kata Inisiator Tim Advokasi Peduli Transportasi Publik, Johan Imanuel, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Kenaikan Tarif Transjakarta Bikin Masyarakat Ogah Beralih ke Transportasi Umum
Menurut Johan, kenaikan harga BBM tidak otomatis membuat masyarakat beralih ke transportasi umum. Sebaliknya, sebagian warga justru mulai mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi biaya operasional harian.
"Justru kenaikan BBM memicu orang beralih ke kendaraan listrik karena faktanya kemacetan di Jakarta masih terjadi meskipun BBM naik," ujarnya.
Dia menilai, Pemprov Jakarta tidak boleh hanya melihat persoalan tarif dari sudut pandang politik atau kebutuhan fiskal semata. Kebijakan yang menyangkut layanan publik harus mempertimbangkan dampak sosial, filosofi pelayanan publik, aspek konstitusional, serta landasan hukumnya.
Dia juga mempertanyakan dasar kajian yang digunakan pemerintah sebelum menggulirkan rencana kenaikan tarif tersebut. Menurut dia, keputusan yang berdampak langsung terhadap jutaan pengguna transportasi umum harus didahului survei yang melibatkan masyarakat secara luas.
"Apakah sudah berdasarkan survei ke semua masyarakat, jangan cuma ke beberapa kalangan," katanya.
Baca Juga: Tidak Semua Tarif Transjabodetabek Naik, Hanya Trayek Tertentu
Lebih lanjut, Johan menilai momentum kenaikan tarif tidak tepat karena terjadi di tengah meningkatnya berbagai beban ekonomi masyarakat. Selain harga BBM yang naik, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan akibat fluktuasi nilai tukar dolar.
"Apakah sudah tepat disaat harga BBM naik, dolar naik dan kebutuhan pokok juga naik," ujarnya.
Oleh karena itu, Tim Advokasi Peduli Transportasi Publik mendesak Pemprov Jakarta membatalkan rencana kenaikan tarif Transjabodetabek dan tetap menjaga keterjangkauan layanan transportasi umum sebagai kebutuhan dasar mobilitas warga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








