Bolehkah Puasa Arafah Digabung dengan Puasa Pengganti Ramadan? Ini Penjelasan Ulama dan Hukumnya

AKURAT.CO Menjelang Idul Adha, pencarian tentang “puasa Arafah digabung qadha Ramadan” selalu meningkat. Banyak umat Muslim baru menyadari masih memiliki utang puasa ketika kalender Zulhijah mulai ramai dibahas di media sosial, grup WhatsApp keluarga, hingga konten TikTok religi.
Apakah Puasa Arafah Bisa Digabung dengan Qadha Ramadan?
Ya, puasa Arafah pada umumnya boleh digabung dengan puasa qadha Ramadan menurut banyak ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut umat Muslim di Indonesia.
Jika seseorang berniat menjalankan puasa qadha Ramadan tepat pada tanggal 9 Zulhijah, maka:
puasa qadhanya tetap sah,
kewajiban utang puasanya tetap terlaksana,
dan ia tetap berpeluang mendapatkan pahala puasa Arafah.
Namun, sebagian ulama memiliki perbedaan pendapat terkait apakah pahala sunnah Arafah didapat secara penuh atau tidak ketika niatnya digabung dengan ibadah wajib.
Karena itu, pembahasan soal penggabungan puasa ini sebenarnya bukan sekadar “boleh atau tidak”, melainkan menyangkut konsep fikih yang lebih dalam tentang niat dan tujuan ibadah.
Apa Itu Puasa Arafah dan Kenapa Sangat Istimewa?
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah, sehari sebelum Idul Adha. Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji.
Keutamaan paling terkenal dari puasa Arafah adalah penghapusan dosa selama dua tahun. Rasulullah saw. bersabda:
Puasa Arafah aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. (HR Muslim)
Karena keutamaannya sangat besar, banyak orang berusaha tetap menjalankan puasa ini meskipun masih memiliki utang puasa Ramadan.
Di sinilah pertanyaan mulai muncul: apakah boleh puasa sunnah Arafah dilakukan bersamaan dengan puasa wajib qadha Ramadan?
Kenapa Ulama Berbeda Pendapat Soal Penggabungan Niat?
Perbedaan pendapat ini muncul karena ulama memiliki cara pandang berbeda dalam memahami konsep fikih yang disebut:
تداخل النيات (taḍākhul an-niyyāt)
atau penggabungan niat dalam satu ibadah.
Dalam praktik fikih, konsep ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada puasa. Misalnya:
mandi junub sekaligus mandi Jumat,
salat tahiyatul masjid sekaligus salat qabliyah,
atau ibadah lain yang waktunya beririsan.
Sebagian ulama menilai dua ibadah yang sejenis dapat dilakukan dalam satu amalan. Namun sebagian lainnya membedakan antara:
ibadah yang hanya “mengikuti”,
dan ibadah yang memiliki tujuan khusus tersendiri.
Puasa Arafah dianggap memiliki keutamaan spesifik, sehingga ada ulama yang berpendapat pahala sempurnanya baru didapat jika diniatkan secara khusus.
Di sisi lain, mayoritas ulama Syafi’iyah tetap membolehkan penggabungan niat karena:
qadha Ramadan adalah ibadah wajib,
sedangkan puasa Arafah adalah sunnah,
dan keduanya sama-sama berbentuk puasa.
Baca Juga: Jadwal Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026: Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Baca Juga: Purbaya Batal Berangkat Ibadah Haji, Ada Apa?
Penjelasan Ulama Tentang Puasa Arafah dan Qadha Ramadan
Dikutip dari NU Online, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU menjelaskan bahwa qadha puasa Ramadan yang dilakukan bertepatan dengan puasa Arafah tetap sah dan pelakunya tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah Arafah.
Pendapat ini juga diperkuat oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Asbah wa Al-Nadzair:
صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة ; وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة، فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا،
Artinya:
Berpuasa di hari Arafah seperti puasa Qadha, Nadzar, atau Kafarat, dan berniat puasa Sunnah Arafah, maka Imam Al-Barizi menyatakan sah dan mendapatkan keduanya.
Pandangan serupa juga pernah dijelaskan oleh Majelis Ulama Indonesia melalui berbagai kajian fikih kontemporer.
Apakah Pahala Puasa Arafah Tetap Didapat Penuh?
Ini bagian yang sering tidak dipahami publik.
Dalam praktiknya, banyak orang mengira jika puasa qadha dan Arafah digabung, maka otomatis pahala keduanya pasti sama persis seperti menjalankan dua puasa terpisah. Padahal, ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
Ada yang mengatakan:
pahala keduanya tetap didapat,
tetapi kualitas atau kesempurnaan pahala sunnah bisa berbeda.
Inilah yang jarang dijelaskan dalam konten pendek media sosial.
Secara fikih:
sahnya ibadah,
dan kesempurnaan pahala,
adalah dua pembahasan berbeda.
Artinya:
qadha Ramadan tetap sah,
tetapi soal pahala maksimal puasa Arafah, sebagian ulama memilih sikap hati-hati.
Insight ini penting karena banyak pengguna internet hari ini hanya mencari jawaban “boleh atau tidak”, tanpa memahami lapisan fikih di baliknya.
Bagaimana Niat Puasa Arafah Sekaligus Qadha Ramadan?
Jika mengikuti pendapat yang membolehkan penggabungan niat, seseorang bisa berniat puasa qadha Ramadan sambil berharap mendapatkan pahala Arafah.
Niat puasa Arafah adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala
Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Sementara jika fokus utama adalah qadha Ramadan, maka niat qadha tetap menjadi prioritas karena hukumnya wajib.
Dalam praktik sehari-hari, banyak Muslim memilih pendekatan ini:
mendahulukan niat qadha,
lalu berharap tetap mendapatkan keutamaan Arafah karena waktunya bertepatan dengan 9 Zulhijah.
Baca Juga: Kapan Puasa Dzulhijjah 2026? Ini Jadwal dan Bacaan Niatnya
Simulasi Kasus yang Sering Terjadi di Masyarakat
Misalnya:
seseorang memiliki tiga hari utang puasa Ramadan,
lalu baru menyadarinya beberapa hari sebelum Idul Adha.
Di sisi lain, ia juga tidak ingin kehilangan momentum puasa Arafah yang hanya datang setahun sekali.
Biasanya ada tiga pilihan yang diambil:
fokus qadha Ramadan dulu,
tetap puasa Arafah lalu qadha belakangan,
atau menggabungkan niat keduanya.
Di Indonesia, pilihan ketiga cukup banyak dilakukan karena mengikuti pandangan mazhab Syafi’i yang lebih fleksibel dalam masalah penggabungan niat.
Namun yang menarik, fenomena ini juga menunjukkan perubahan perilaku ibadah di era digital. Banyak orang baru mencari jawaban fikih setelah melihat konten viral atau countdown Zulhijah di media sosial.
Akibatnya, pencarian hukum agama sering dilakukan secara mendadak dan serba cepat.
Mana yang Lebih Utama: Qadha Dulu atau Puasa Arafah?
Semua ulama sepakat bahwa qadha Ramadan lebih utama karena hukumnya wajib.
Karena itu:
jika masih memiliki banyak utang puasa,
maka lebih baik segera menyelesaikannya.
Namun dalam kondisi waktu terbatas, banyak ulama tetap memberikan keringanan dengan membolehkan penggabungan niat.
Sedangkan bagi yang ingin keluar dari perbedaan pendapat ulama, pilihan paling aman adalah:
menyelesaikan qadha terlebih dahulu sebelum Zulhijah,
lalu menjalankan puasa Arafah secara khusus.
Pendekatan ini dianggap lebih hati-hati dan memberi peluang mendapatkan pahala sunnah secara maksimal.
Kesimpulan
Secara umum, puasa Arafah boleh digabung dengan puasa qadha Ramadan menurut banyak ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i yang dominan di Indonesia.
Qadha Ramadhannya tetap sah, sementara soal kesempurnaan pahala puasa Arafah masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Karena itu:
jika memungkinkan, selesaikan qadha lebih dulu,
tetapi jika waktunya terbatas, penggabungan niat tetap dibolehkan oleh banyak ulama.
Yang paling penting bukan hanya mencari jawaban tercepat, tetapi juga memahami alasan fikih di baliknya. Sebab dalam ibadah, pemahaman sering kali sama pentingnya dengan praktik itu sendiri.
Pantau terus informasi keislaman terpercaya agar tidak keliru memahami ibadah wajib dan sunnah, terutama menjelang momen penting seperti Idul Adha.
Baca Juga: Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Arafah, Pendek dan Mudah Dihafalkan
FAQ
Apakah puasa Arafah dan qadha Ramadan bisa digabung dalam satu niat?
Ya, puasa Arafah dan qadha Ramadan pada umumnya boleh digabung menurut banyak ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia. Jika seseorang berpuasa qadha tepat pada 9 Zulhijah sambil berharap pahala puasa Arafah, maka qadha Ramadhannya tetap sah. Namun, sebagian ulama berbeda pendapat mengenai apakah pahala sunnah Arafah diperoleh secara penuh atau tidak ketika niatnya digabung dengan puasa wajib.
Mana yang lebih utama, puasa Arafah atau bayar utang puasa Ramadan?
Mayoritas ulama sepakat bahwa qadha Ramadan lebih utama karena hukumnya wajib, sedangkan puasa Arafah adalah sunnah. Karena itu, jika masih memiliki banyak utang puasa, sebaiknya segera diselesaikan terlebih dahulu. Meski begitu, banyak ulama tetap membolehkan penggabungan puasa qadha dan puasa Arafah agar umat Muslim tetap bisa memanfaatkan keutamaan 9 Zulhijah tanpa meninggalkan kewajiban.
Bagaimana niat puasa Arafah sekaligus qadha Ramadan?
Dalam praktiknya, banyak Muslim cukup berniat puasa qadha Ramadan karena ibadah wajib menjadi prioritas utama. Namun, ia tetap berharap mendapatkan pahala puasa Arafah karena dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah. Ada juga ulama yang membolehkan menyertakan dua niat sekaligus, yakni niat qadha Ramadan dan niat puasa sunnah Arafah dalam satu hari puasa.
Apakah pahala puasa Arafah tetap didapat jika digabung qadha?
Sebagian besar ulama membolehkan seseorang tetap berharap mendapatkan pahala puasa Arafah meskipun puasanya diniatkan untuk qadha Ramadan. Namun, terdapat perbedaan pendapat terkait kesempurnaan pahala sunnah tersebut. Ada ulama yang menilai pahala keduanya tetap diperoleh, sementara sebagian lain berpendapat pahala khusus Arafah lebih sempurna jika dilakukan dengan niat sunnah secara khusus.
Kapan waktu pelaksanaan puasa Arafah 2026?
Puasa Arafah dilaksanakan setiap tanggal 9 Zulhijah, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Penetapan tanggalnya mengikuti kalender hijriah dan keputusan pemerintah atau otoritas keagamaan terkait sidang isbat. Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji karena memiliki keutamaan besar, termasuk penghapusan dosa selama dua tahun sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Muslim.
Apakah puasa qadha lebih baik dilakukan sebelum bulan Zulhijah?
Banyak ulama menyarankan agar utang puasa Ramadan diselesaikan sebelum memasuki bulan Zulhijah agar umat Muslim bisa menjalankan puasa sunnah seperti Arafah dan Tarwiyah secara lebih tenang. Selain keluar dari perbedaan pendapat ulama, cara ini juga dianggap lebih hati-hati karena mendahulukan kewajiban sebelum memperbanyak amalan sunnah.
Apakah boleh puasa Tarwiyah dan qadha Ramadan digabung juga?
Sama seperti puasa Arafah, sebagian ulama juga membolehkan penggabungan puasa Tarwiyah dengan qadha Ramadan karena keduanya sama-sama berbentuk ibadah puasa. Meski demikian, pembahasan mengenai pahala sunnahnya tetap memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Oleh sebab itu, umat Muslim dianjurkan memahami dasar fikihnya agar tidak hanya mengikuti potongan informasi singkat dari media sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum








