Jepang mulai membuang air limbah dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima pada Kamis (24/8/2023). Pembuangan dilakukan 12 tahun setelah terjadinya salah satu kecelakaan nuklir terburuk di dunia.
Mengutip AFP, pada awal pembuangan, Jepang akan melepaskan limbah setara sekitar 540 kolam renang Olimpiade ke laut Pasifik.
Baca Juga: China Tantang Wakil PM Jepang Minum Air Limbah Nuklir Fukushima
Video langsung yang disediakan oleh operator pabrik TEPCO menunjukkan para insinyur di balik layar komputer dan seorang pejabat mengatakan bahwa "katup di dekat pompa transportasi air laut sedang terbuka" setelah melakukan hitungan mundur.
Tokyo mengklaim bahwa itu aman dan sudah sesuai prosedur dan aturan internasional. Namun tetap saja bahaya masih membayang-bayangi kelangsungan manusia yang takut akan terpapar.
Dampak Pembuangan Air Limbah Nuklir Jepang Ke Laut
Dikutip dari laman bfs.de, Jumat (25/8/2023) ada dampak lingkungan dari kecelakaan Fukushima, salah satunya situasi radiologi di Jepang.
Dampak radioaktif juga bisa tersebar ke darat dan laut melalui angin dan curah hujan dan efeknya mampu membunuh makhluk hidup.
Para ilmuwan umumnya setuju bahwa dampak lingkungan dari air limbah yang telah diolah akan minimal, tetapi beberapa pihak meminta perhatian lebih pada puluhan radionuklida dosis rendah yang masih tersisa di dalamnya.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menyerukan pemerintah Jepang untuk bekerja sama guna meningkatkan transparansi dan kredibilitas.
Dalam laporan akhir pada bulan Juli lalu, IAEA menyimpulkan bahwa jika dilakukan sesuai rencana, dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia akan minimal.
Pemerintah Jepang mendapat penentangan dari negara-negara tetangganya soal pembuangan limbah nuklir Fukushima.
Tokyo Electric Power Company (TEPCO) mendapat tugas untuk melakukan pembuangan ini. Pihak Jepang juga merasa ada pihak-pihak yang menyebar disinformasi terkait masalah limbah ini.
Limbah nuklir tersebut berasal dari pembangkit tenaga nuklir di Fukushima yang terkena dampa gempa Tohoku 2011. Pemerintah Republik Rakyat China terutama sangat vokal dalam menentang pembuangan limbah tersebut.
China Murka, Nelayan Lokal Waswas
Dikutip dari laman Reuters, Jumat (25/8/2023), beberapa jam sebelum proses pembuangan air limbah radioaktif PLTN Fukushima dimulai, China melontarkan amarahnya atas tindakan Jepang.
Administrasi Keselamatan Nuklir China pada Kamis (24/8/2023) menyebut tindakan pemerintah Tokyo tidak bertanggung jawab dan egois.
"Pemerintah Jepang sangat egois dan tidak bertanggung jawab dalam meluncurkan pelepasan secara paksa menempatkan kepentingan egoisnya sendiri di atas kesejahteraan seluruh umat manusia," kecam juru bicara lembaga tersebut.
Amarah juga tidak hanya dirasakan oleh China saja. Menjelang pembuangan tahap pertama, puluhan demonstran berunjuk rasa di depan kantor Tepco di Ibu Kota Tokyo.
Mereka membawa berbagai spanduk mengecam keputusan Jepang, seperti: 'Jangan buang air yang terkontaminasi ke laut!'. Namun, unjuk rasa berlangsung singkat dan berakhir dalam waktu sekitar satu jam.
Komunitas nelayan Jepang juga turut mengkhawatirkan dampak buruk dari pembuangan limbah ini yang meski secara sains dan klinis dinyatakan aman.
Sejak PLTN Fukushima Daiichi hancur oleh tsunami pada Maret 2011, mereka telah menentang rencana Jepang untuk membuang limbah apa pun ke perairan.
Para nelayan tersebut khawatir, air limbah ini akan menyebabkan hilangnya pemasokan dari penjualan makanan laut termasuk dari pembatasan ekspor ke negara yang menjadi pasar-pasar utama.
Sebenarnya, rencana pembuangan air limbah radioaktif PLTN Fukushima Daiichi sudah disetujui sejak dua tahun lalu. Pemerintah semakin yakin atas keputusan ini usai menerima lampu hijau dari IAEA.
Adapun pembuangan air limbah tersebut adalah langkah yang sangat penting dalam proses penonaktifan PLTN Fukushima Daiichi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









