Australia Larang Kemasan Bentuk Ikan untuk Kecap Sushi, Pukulan Berat bagi Industri di Jepang

AKURAT.CO Produsen wadah kecap bentuk ikan di Jepang kini menghadapi dampak serius setelah Australia melarang kemasan plastik kecil kecap dari pasar lokal. Kebijakan baru ini menjadi pukulan berat bagi industri yang selama puluhan tahun memasok kecap mini untuk sushi ke berbagai negara, termasuk Australia. Larangan tersebut memicu kekhawatiran besar di kalangan produsen Jepang karena pasar Australia merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar.
Pemerintah Australia Selatan resmi menerapkan larangan penggunaan kontainer kecap plastik berukuran 30 mililiter atau lebih kecil sejak September. Aturan itu diberlakukan sebagai upaya mengurangi sampah plastik yang mencemari pantai dan pusat kota, termasuk wadah kecap iconik berbentuk ikan yang kerap ditemukan berserakan. Pemerintah menilai kemasan kecil tersebut sangat mudah terbang terbawa angin, terjatuh, atau tersapu aliran air hingga akhirnya mencemari lingkungan.
Larangan ini merupakan perluasan dari aturan pembatasan plastik sekali pakai yang sebelumnya sudah mencakup sedotan, gelas, dan perlengkapan makan lainnya. Meski seluruh bentuk kemasan—baik ikan maupun babi—masuk dalam larangan, pengumuman resmi pemerintah menyoroti jelas versi berbentuk ikan yang paling populer digunakan untuk sushi.
Produsen Jepang Kelabakan Cari Solusi
Keputusan Australia Selatan membuat Asahi Sogyo Co. di Osaka, produsen legendaris wadah kecap Luncharm yang berbentuk ikan, harus bergerak cepat. Direktur Utama Hiroyuki Mori mengatakan bahwa meskipun wadah itu diganti dengan bentuk lain, seperti koala, tetap tidak akan lolos aturan karena larangan berfokus pada ukuran dan bahannya.
Luncharm, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1957, telah menjadi ikon global dan dikenal sebagai kontainer kecap sekali pakai untuk sushi. Sekitar sepertiga dari total pengiriman luar negeri Asahi Sogyo—sekitar 110 juta unit—beredar di Australia. Dengan porsi ekspor sebesar itu, perluasan larangan dari satu negara bagian ke seluruh Australia bisa menjadi ancaman eksistensial bagi perusahaan.
Untuk merespons, perusahaan mulai mengirimkan kemasan kecap berbahan kertas sebagai alternatif sementara. Namun Mori mengakui, banyak warga Australia membuang kemasan kecap sembarangan, termasuk di depan restoran sushi, yang membuat wadah kecil itu menjadi sorotan sebagai penyumbang sampah plastik.
Upaya Inovasi dan Tantangan Biaya Produksi
Asahi Sogyo kini tengah mengembangkan wadah kecap biodegradable. Meski begitu, perusahaan masih harus mempertimbangkan ketahanan wadah serta rasa kecap yang bisa terpengaruh oleh bahan baru. Tantangan lain adalah biaya produksi yang lebih tinggi, yang berpotensi ditolak oleh pemilik restoran sushi jika harga penyajian kecap menjadi melonjak.
Di tengah perubahan regulasi ini, ahli lingkungan Jepang Misuzu Asari menilai bahwa larangan tersebut bisa menjadi momentum bagi produsen dan konsumen untuk beralih ke praktik yang lebih ramah lingkungan. Ia menekankan bahwa penggunaan plastik yang sulit terurai selama ini telah diprioritaskan demi keuntungan ekonomi, tanpa mempertimbangkan biaya pembuangan dan dampak lingkungan jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









