Sosok Syekh Ikrima Sabri, Imam Masjid Al-Aqsa Yang Diancam Dibunuh Kelompok Yahudi Ekstremis

AKURAT.CO Di tengah serangan Israel ke Gaza yang terus membabi buta, Imam Masjid Al-Aqsa, Syekh Ikrima Sabri mendapat ancaman pembunuhan dari kelompok Yahudi ekstremis.
Menurut Dewan Islam Tertinggi Yerusalem yang diketuai oleh Syekh Ikrima Sabri sendiri, ancaman pembunuhan Syekh Sabri itu telah beredar di media sosial sejak Senin (9/10/2023), dua hari setelah serangan pertama Israel ke Gaza pada Sabtu (7/10/2023).
"Dewan Tinggi Islam di Yerusalem memperingatkan bahaya nyata menyangkut pemimpinnya, Syekh Ikrima Sabri, setelah menerima informasi tentang ancaman dari pemukim (Yahudi) untuk membunuhnya," tulis pernyataan yang dikutip dari Al Quds International Institution.
Baca Juga: Serangan Israel Ke Gaza Kian Membabi Buta, Begini Kondisi Masjid Al-Aqsa
Selain itu, Komite Pertahanan Syekh Ikrima Sabri pun menegaskan akan menaruh perhatian penuh pada ancaman pembunuhan tersebut.
Mereka menekankan soal pertanggungjawaban Israel atas segala kerugian yang diarahkan pada tokoh muslim berusia 85 tahun itu.
Bahkan Komite Pertahanan Syekh Ikrima Sabri sampai melayangkan seruan mendesak terhadap negara-negara Arab dan Islam, untuk meminta bantuan perlindungan.
Profil Syekh Ikrima Sabri
Syekh Ikrima Sabri merupakan Mufti Agung Yerusalem dan Palestina sejak Oktober 1994 hingga Juli 2006.
Penetapan Syekh Ikrima Sabri sebagai Mufti Agung dilakukan oleh Yasser Arafat, Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Kemudian Syekh Ikrima Sabri diberhentikan sebagai Mufti Agung oleh Mahmoud Abbas pada 2006 karena popularitasnya yang semakin meningkat, dan ekspresi terbuka atas pandangan politik sepihak yang dinilai bermuatan rasial.
Pria kelahiran 1939 itu pernah beberapa kali ditangkap Israel karena cukup vokal menyuarakan pembebasan Palestina.
Pada 1999, dalam sebuah wawancara, Syekh Sabri mengomentari situasi politik di Temple Mount dengan mengatakan Yahudi ingin menghancurkan Al-Aqsa.
"Jika orang Yahudi menginginkan perdamaian, mereka akan menjauh dari Al Aqsa. Ini adalah ketetapan Tuhan. Haram al-Sharif adalah milik umat Islam. Tapi kami ketahuilah bahwa orang Yahudi berencana menghancurkan Masjidil Haram. Orang Yahudi akan membuat orang Kristen melakukan pekerjaannya untuknya. Ini adalah cara orang Yahudi. Ini adalah cara Setan memanifestasikan dirinya. Mayoritas orang Yahudi ingin menghancurkan masjid. Mereka sedang mempersiapkan ini saat kita berbicara."
Baca Juga: Serangan Israel Ke Gaza Kian Membabi Buta, Begini Kondisi Masjid Al-Aqsa
Syekh Ikrima Sabri hampir dideportasi dari Al Aqsa
Syekh Ikrima Sabri pada 2021 silam pernah diinterogasi oleh otoritas Israel mengenai kegiatan shalat di Bab Al-Rahma dan khotbahnya di Masjid Al-Aqsa.
Interogasi itu diawali dengan serbuan intelijen Israel ke rumah Syekh Sabri pada pukul 06.30 pagi waktu setempat.
Mereka menyerahkan surat pemberitahuan kepada Syekh Sabri untuk menghadap intelijen Israel di pusat interogasi Al-Maskobiya.
Interogasi Syekh Sabri berlangsung lima jam, dan pertanyaan berfokus pada kehadiran Syekh Sabri di masjid Al-Aqsa.
Pihak Israel menganggap kehadiran Syekh Sabri menimbulkan ketegangan dan kekacauan karena khutbah dan ceramah Syekh Sabri dinilai provokatif.
Israel bahkan meminta Syekh Sabri menandatangani surat keputusan deportasi Syekh Sabri dari Masjid Al-Aqsa.
Baca Juga: Keluarga Di Gaza Kenakan Gelang Identitas Dan Tuliskan Nama Di Lengan Agar Dapat Dikenali
Namun permintaan tersebut ditolak Syekh Sabri karena ia menganggap keputusan itu bertentangan dengan kebebasan dan hak untuk beribadah.
“Mereka berusaha agar saya menandatangani keputusan pendeportasian diri saya. Akan tetapi saya menolak keputusan tersebut. Itu adalah keputusan yang tidak sah, bertentangan dengan kebebasan beribadah dan hak saya untuk sholat di Al-Aqsa. Itu merupakan pembatasan kebebasan beribadah, dan itu mengganggu urusan agama dan tugas saya,” kata dia.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










