UNRWA: Gaza Terancam Bencana Kemanusiaan Baru, Anak-anak Jadi Korban Terbesar

AKURAT.CO Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan peringatan keras pada Sabtu (5/4/2025) tentang kemungkinan terjadinya bencana kemanusiaan baru di Jalur Gaza, menyusul pecahnya kembali pertempuran setelah gencatan senjata yang sempat bertahan selama dua bulan berakhir bulan lalu.
Dalam pernyataannya bertepatan dengan peringatan Hari Anak Palestina, UNRWA menyebut bahwa sejak gencatan senjata dihentikan pada 18 Maret lalu, lebih dari 142.000 orang terpaksa mengungsi kembali hanya dalam kurun waktu lima hari, yakni dari 18 hingga 23 Maret.
“Sejak awal perang, sekitar 1,9 juta warga Gaza—termasuk ribuan anak-anak—harus mengalami pengungsian berulang-ulang, hidup dalam ketakutan, kehilangan orang-orang tercinta, dan dikepung bom setiap hari,” tulis UNRWA.
Salah satu dari mereka adalah Jana, seorang anak perempuan yang pertama kali ditemui UNRWA pada Agustus 2024, dan kembali mereka temui pada Maret 2025.
“Jana hanyalah satu dari ribuan anak yang harus menanggung trauma ini. Mereka semua butuh satu hal: #GencatanSenjataSekarang,” lanjut pernyataan itu.
Baca Juga: Agresi Brutal Israel di Gaza Tewaskan 60 Warga Palestina dalam 24 Jam, Korban Terus Bertambah
Serangan militer Israel kembali mengguncang Gaza sejak 18 Maret, menandai berakhirnya masa tenang dua bulan yang membawa secercah harapan bagi warga sipil. Namun harapan itu pupus dengan cepat.
Sejak dimulainya serangan pada Oktober 2023, lebih dari 50.600 warga Palestina telah tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Situasi ini juga mendapat sorotan hukum internasional.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November lalu mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ) masih memproses gugatan genosida terhadap Israel yang diajukan menyusul agresi brutal di wilayah kantong tersebut.
Dengan serangan yang terus berlanjut dan jumlah korban yang kian meningkat, dunia internasional kembali dihadapkan pada krisis kemanusiaan besar, dengan anak-anak sebagai korban paling rentan.
Baca Juga: China Gugat AS ke WTO Imbas Tarif Resiprokal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










