Gletser Ventina di Italia Mencair Parah, Ilmuan Tak Bisa Lagi Memantau dengan Cara Lama

AKURAT.CO Ketika mendengar kata “gletser”, mungkin yang terbayang adalah bentangan es abadi di puncak gunung yang kokoh, tak tergoyahkan. Namun kenyataannya, benteng es raksasa di Pegunungan Alpen kini kian rapuh. Salah satu bukti paling nyata datang dari Gletser Ventina di Italia utara, yang kini mencair begitu cepat akibat perubahan iklim hingga para ilmuwan kehilangan cara lama untuk mengukurnya.
Selama lebih dari 130 tahun, para ahli geologi memantau penyusutan Gletser Ventina dengan metode sederhana yaitu menggunakan patok-patok kayu sebagai tanda pergeseran es dari tahun ke tahun. Namun, setelah musim panas terpanas tahun ini, patok-patok tersebut kini terkubur di bawah longsoran batu dan puing. Medan yang tidak stabil membuat pengukuran manual mustahil dilakukan lagi.
Dari Patok ke Drone
Seperti dikutip dari Washington Post, Senin (18/8), kini pengukuran penyusutan gletser dilakukan dengan teknologi canggih yakni citra drone dan penginderaan jarak jauh. Perubahan metode ini bukan sekadar simbol perkembangan teknologi, melainkan peringatan bahwa kondisi alam sudah berubah drastis.
Sejak pertama kali dipantau pada tahun 1895, Gletser Ventina telah kehilangan panjang sekitar 1,7 kilometer. Yang mengkhawatirkan, laju pencairan semakin cepat. Hanya dalam 10 tahun terakhir, gletser ini menyusut 431 meter, dan hampir setengahnya terjadi sejak tahun 2021.
Pemanasan Global Melumat Gletser Alpen
Gletser pegunungan Italia, yang ditemukan di seluruh Pegunungan Alpen dan Dolomit di utara dan di sepanjang Pegunungan Apennini tengah, telah mencair selama bertahun-tahun. Ini akibat kurangnya salju di musim dingin dan musim panas yang sangat panas. Gletser selalu mencair sebagian di musim panas, dengan limpasan air yang mengisi aliran sungai dan anak sungai di pegunungan.
"Namun, musim panas yang panas tidak lagi dapat menjamin kelangsungan lapisan salju musim dingin, yang menjaga gletser tetap utuh," kata Toffaletti.
"Agar dapat beregenerasi dan tetap seimbang, sejumlah sisa salju dari musim dingin harus tetap berada di permukaan gletser pada akhir musim panas. Dan ini semakin jarang terjadi," kata Toffaletti.
Menurut layanan Lombardia, Pegunungan Alpen merupakan titik panas iklim, mencatat kenaikan suhu rata-rata global dua kali lipat sejak masa pra-industri, yang mengakibatkan hilangnya lebih dari 64% volume gletser Alpen.
Pada bulan Februari, jurnal Nature melaporkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa gletser dunia kehilangan es dengan laju sekitar 255 miliar ton (231 miliar metrik ton) per tahun dari tahun 2000 hingga 2011, tetapi laju tersebut meningkat pesat menjadi sekitar 346 miliar ton (314 miliar metrik ton) per tahun selama sekitar dekade berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








