Akurat
Pemprov Sumsel

Laut Selandia Baru Memanas 34% Lebih Cepat dari Rata-rata Dunia, Ancam Kerugian Rp1.800 Triliun

Kumoro Damarjati | 10 Oktober 2025, 16:28 WIB
Laut Selandia Baru Memanas 34% Lebih Cepat dari Rata-rata Dunia, Ancam Kerugian Rp1.800 Triliun

AKURAT.CO Lautan di Selandia Baru kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Dalam laporan terbaru bertajuk Our Marine Environment 2025, Kementerian Lingkungan Hidup dan Stats NZ mengungkap bahwa suhu laut di negara itu meningkat 34% lebih cepat dibanding rata-rata global.

Kondisi ini diperkirakan bisa memicu kerugian hingga NZ$180 miliar, atau sekitar Rp1.800 triliun, terutama akibat banjir yang mengancam kawasan perumahan di sepanjang pesisir.

Laut dan Pesisir Menghadapi Krisis

Laporan tersebut menjelaskan bahwa lautan dan pesisir Selandia Baru kini berada di titik kritis. Suhu laut terus meningkat, disertai gelombang panas laut yang semakin sering, lama, dan intens. Permukaan air laut juga naik lebih cepat, sementara pengasaman laut akibat pemanasan global mulai merusak keseimbangan ekosistem.

Kombinasi dari semua faktor ini menimbulkan risiko besar bagi keanekaragaman hayati laut, terutama spesies endemik yang hanya hidup di perairan Selandia Baru. Selain itu, masyarakat pesisir dan sektor ekonomi yang bergantung pada laut mulai merasakan dampaknya secara langsung — dari badai yang semakin kuat hingga banjir yang kian sering melanda.

Ratusan Ribu Rumah di Zona Rawan

Dampak perubahan iklim ini bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan manusia. Laporan pemerintah menyebut ada sekitar 219 ribu rumah yang kini berada di kawasan rawan banjir, dengan nilai properti dan infrastruktur mencapai lebih dari NZ$26 miliar.

Sekitar 1.300 rumah pesisir bahkan dikategorikan sebagai berisiko tinggi terhadap kerusakan akibat badai ekstrem dan erosi pantai.

Industri Perikanan Ikut Terpukul

Pemanasan laut juga menghantam sektor ekonomi penting Selandia Baru: perikanan dan akuakultur. Industri yang bernilai lebih dari NZ$1,1 miliar itu kini menghadapi tantangan besar. Suhu laut yang tinggi dan meningkatnya kadar asam memicu ledakan alga beracun yang merusak kerang dan biota laut lainnya.

Kondisi ekstrem seperti pemutihan spons laut, kematian massal rumput laut, ikan, hingga penguin semakin sering terjadi. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai sinyal bahaya nyata dari perubahan iklim yang tidak bisa lagi diabaikan.

Suhu Laut Naik Cepat Selama Empat Dekade

Antara tahun 1982 hingga 2023, suhu permukaan laut Selandia Baru meningkat sekitar 0,16 hingga 0,26 derajat Celsius per dekade — lebih cepat dari rata-rata global. Posisi geografis negara ini membuat lautannya menyerap lebih banyak panas dari samudra dunia, menjadikannya salah satu wilayah paling rentan terhadap dampak pemanasan global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.