Akurat
Pemprov Sumsel

Krisis Bahan Bakar karena Blokade Kelompok Militan, Pemerintah Mali Tutup Semua Sekolah dan Universitas

Kumoro Damarjati | 27 Oktober 2025, 20:51 WIB
Krisis Bahan Bakar karena Blokade Kelompok Militan, Pemerintah Mali Tutup Semua Sekolah dan Universitas


AKURAT.CO Aktivitas pendidikan di Mali lumpuh total. Pemerintah militer negara tersebut mengumumkan penutupan semua sekolah dan universitas di seluruh wilayah, menyusul krisis bahan bakar yang melanda akibat blokade kelompok militan.

Langkah ini diumumkan pada Minggu (26/10/2025) oleh Menteri Pendidikan Mali Amadou Sy Savan melalui siaran televisi nasional. Ia menyebut kegiatan belajar-mengajar akan ditangguhkan selama dua pekan mulai Senin, karena gangguan pasokan bahan bakar telah menghambat mobilitas tenaga pengajar dan siswa.

“Pemerintah sedang berupaya keras untuk memulihkan pasokan bahan bakar agar sekolah dapat dibuka kembali pada 10 November,” ujar Amadou.

Blokade Militan Picu Krisis Nasional

Krisis ini bermula sejak awal September, ketika kelompok Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) — jaringan militan yang berafiliasi dengan al-Qaida — memberlakukan larangan impor bahan bakar ke Mali. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintah militer di Bamako.

Blokade tersebut memperparah kondisi ekonomi Mali yang memang sudah rapuh. Harga bahan pokok dan ongkos transportasi melonjak tajam. Di ibu kota Bamako, antrean kendaraan mengular di berbagai SPBU, sementara pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan bahan bakar hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Dalam kebijakan darurat ini, prioritas pasokan hanya diberikan untuk ambulans, mobil jenazah, transportasi umum, dan logistik penting.

Tantangan Berat bagi Pemerintahan Junta

Mali sangat bergantung pada impor bahan bakar untuk kebutuhan domestik. Situasi ini menjadi ujian serius bagi pemerintahan junta militer, yang berkuasa sejak kudeta 2020 dengan janji menstabilkan keamanan negara.

Sejak mengusir pasukan Prancis yang dulu membantu melawan kelompok jihad, pemerintah Mali kini mengandalkan pasukan bayaran Rusia seperti Grup Wagner. Namun, para analis menilai situasi keamanan tidak banyak membaik, bahkan semakin sulit dikendalikan.

Upaya militer Mali untuk mengawal truk-truk bahan bakar dari perbatasan menuju Bamako pun belum efektif. Sejumlah kendaraan dilaporkan diserang oleh militan di sepanjang rute distribusi.

Kondisi ini menambah tekanan terhadap junta militer yang juga tengah berhadapan dengan pemberontakan di wilayah utara dan timur, serta desakan publik agar segera memulihkan pasokan energi dan membuka kembali sekolah.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.