Penyanyi Jalanan Rusia Dihukum Tambahan Penjara karena Nyanyikan Lagu Anti-Perang

AKURAT.CO Seorang penyanyi jalanan berusia 18 tahun di Rusia kembali dijatuhi hukuman penjara tambahan karena menyanyikan lagu bertema anti-perang. Kasus ini memicu kritik dari kelompok hak asasi manusia yang menilai tindakan tersebut sebagai bagian dari pengetatan kebebasan berekspresi di Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.
Pengadilan di St. Petersburg pada Selasa (11/11/2025) memperpanjang masa tahanan Diana Loginova, yang dikenal dengan nama panggung Naoko, selama 13 hari. Ia dinyatakan bersalah karena “melanggar ketertiban umum” melalui penampilannya di jalan pada Oktober lalu.
Loginova, yang juga mahasiswa musik dan anggota grup Stoptime, telah ditahan sejak 15 Oktober dan sebelumnya telah menerima dua hukuman serupa. Selain perpanjangan penahanan, ia juga diwajibkan membayar denda karena dianggap “mendiskreditkan angkatan bersenjata Rusia.”
Rekan satu band-nya, Alexander Orlov, juga menerima hukuman berulang atas tuduhan serupa. Keduanya membantah melakukan pelanggaran.
Dituduh Karena Lagu Anti-Perang
Menurut organisasi Amnesty International, serangkaian penahanan berulang terhadap Loginova disebut sebagai bentuk “penahanan karusel” — upaya agar seseorang tetap berada di balik jeruji tanpa harus diajukan dakwaan pidana yang lebih berat.
Aktivis HAM menilai Loginova dan anggota band-nya ditargetkan karena membawakan lagu-lagu dari musisi yang menentang invasi Rusia ke Ukraina. Video penampilan mereka, yang menampilkan penonton ikut menyanyikan lirik bernada kritik terhadap Kremlin, telah tersebar luas di media sosial dan memicu seruan dari pendukung pemerintah agar polisi menindak mereka.
“Penangkapan berulang terhadap Naoko dan rekan-rekannya merupakan bentuk hukuman atas ekspresi publik mereka,” kata Denis Krivosheev, Deputi Direktur Amnesty International untuk Eropa Timur dan Asia Tengah.
“Yang mereka lakukan hanyalah menyanyikan lagu yang menentang narasi resmi pemerintah,” tambahnya.
Kasus ini memicu aksi solidaritas di sejumlah kota di Rusia, di mana beberapa musisi jalanan lain turut ditangkap dan dikenai denda.
Sejak invasi ke Ukraina, otoritas Rusia semakin memperketat pengawasan terhadap kelompok masyarakat sipil, media independen, organisasi HAM, aktivis LGBTQ+, serta sejumlah kelompok keagamaan.
Ratusan orang telah dipenjara, sementara ribuan lainnya memilih meninggalkan Rusia untuk menghindari penindasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








