Tentara Garis Depan Ukraina Kritik Keras Draf Perdamaian Amerika Serikat

AKURAT.CO Sejumlah prajurit Ukraina di garis depan merespons rancangan proposal perdamaian Amerika Serikat dengan beragam reaksi, mulai dari penolakan keras hingga penerimaan karena kelelahan perang. Mereka menyampaikan pandangan melalui media sosial dan email setelah bocoran dokumen tersebut terungkap pekan lalu.
Saat ini, negosiator AS dan Ukraina masih membahas perubahan dalam rancangan “kerangka perdamaian” tersebut.
Penyerahan Wilayah Donbas
Rancangan awal AS mengusulkan agar Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, termasuk bagian yang masih berhasil dipertahankan sejak invasi penuh pada 2022. Usulan ini muncul di tengah kemajuan signifikan Rusia yang dalam sebulan terakhir menguasai tambahan sekitar 450 km persegi wilayah.
Seorang prajurit dengan sandi Snake menyatakan bahwa wilayah tersebut hampir kosong dan mengatakan, “Kami kehilangan terlalu banyak orang untuk mempertahankannya.” Namun, sejumlah tentara lain menilai penyerahan Donbas akan mengorbankan pengorbanan ribuan pasukan yang tewas sejak 2014.
Pembatasan Jumlah Tentara
Rancangan AS juga mengatur pembatasan jumlah angkatan bersenjata Ukraina menjadi 600.000 personel, lebih kecil dari kekuatan saat ini yang diperkirakan di atas 800.000.
Sebagian prajurit menilai pembatasan ini dapat diterima jika ada jaminan keamanan yang kuat. Namun, lainnya menyebut usulan tersebut manipulatif dan berbahaya karena militer dinilai menjadi benteng utama mempertahankan negara.
Jaminan Keamanan
Dalam proposal AS, Ukraina tidak dapat bergabung dengan NATO, tetapi tetap terbuka masuk ke Uni Eropa. AS menjanjikan jaminan keamanan jika Rusia kembali menyerang, namun tanpa rincian mekanisme dukungan tersebut.
Beberapa tentara menilai kehadiran pasukan asing di Ukraina—seperti gagasan Inggris dan Prancis mengenai “reassurance force”—lebih efektif sebagai jaminan keamanan. Namun, ada pula yang tidak percaya baik pada Eropa maupun pemerintahan AS saat ini.
Pemilu Baru Usai Perang
Proposal tersebut juga mengusulkan penyelenggaraan pemilu baru dalam 100 hari setelah perang berakhir. Meski pemilu tidak dapat digelar selama perang menurut konstitusi, banyak tentara menyatakan dukungan atas pembaruan politik di tengah meningkatnya kasus korupsi di pemerintahan.
Keletihan Perang
Meski kritik terhadap proposal AS cukup kuat, sebagian tentara menyatakan bahwa apa pun langkah yang dapat mengakhiri perang layak dipertimbangkan. “Jika bisa menghentikan perang, itu cukup bagi saya,” kata seorang perwira staf umum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








