AS Serang Lagi Kapal Diduga Penyelundup Narkoba di Perairan Pasifik, Empat Orang Tewas

AKURAT.CO Militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di perairan lepas pantai Amerika Latin. Pentagon menyatakan serangan pada Kamis tersebut menewaskan empat orang.
Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command) menyampaikan bahwa serangan di wilayah Pasifik bagian timur itu dilakukan atas perintah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Pernyataan tersebut disertai video singkat yang dirilis melalui media sosial resmi.
“Intelijen memastikan kapal tersebut membawa narkotika ilegal dan bergerak di jalur yang dikenal sebagai rute penyelundupan narkoba di Pasifik Timur,” tulis Southern Command. “Empat laki-laki yang disebut sebagai narco-terrorists tewas dalam operasi ini.”
Sejak awal September, militer AS telah melakukan sedikitnya 22 serangan terhadap kapal di Pasifik Timur dan Karibia yang menurut pemerintahan Trump terkait aktivitas penyelundupan narkoba. Total korban tewas sejauh ini mencapai sedikitnya 87 orang. Serangan terbaru ini merupakan yang pertama sejak 15 November.
Operasi tersebut merupakan bagian dari strategi Gedung Putih untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Serangan terbaru muncul di tengah sorotan publik setelah laporan The Washington Post mengungkap detail serangan 2 September di Laut Karibia yang menewaskan 11 orang. Laporan itu menyebut militer AS menembakkan dua rudal ke kapal target — langkah yang dikonfirmasi Gedung Putih. Sejumlah anggota parlemen mempertanyakan apakah serangan kedua dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Sumber yang mengetahui operasi tersebut mengatakan kepada CBS News bahwa tembakan kedua dilakukan karena dua penyintas serangan pertama terlihat kembali mencoba naik ke kapal untuk mengambil muatan narkoba.
Hegseth membantah bahwa dirinya memerintahkan serangan kedua. Ia menyebut keputusan itu dibuat oleh Laksamana Angkatan Laut Frank “Mitch” Bradley, Kepala Komando Operasi Khusus. Bradley juga membantah tuduhan bahwa ada perintah untuk memastikan seluruh awak kapal dibunuh.
Pada Kamis, anggota Kongres AS menggelar pertemuan tertutup dan melihat rekaman serangan kedua tersebut. Mereka juga menerima penjelasan dari Bradley dan Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan.
Setelah melihat video, anggota DPR dari Partai Demokrat Jim Himes menyatakan operasi itu sebagai “salah satu hal paling mengganggu” yang pernah ia saksikan selama bertugas publik. Namun, Senator Republik Tom Cotton mengatakan ia “tidak melihat sesuatu yang mengkhawatirkan” dari rekaman tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








