Tentara Tiba-Tiba Umumkan Kudeta di Televisi, Apa yang Terjadi di Benin?

AKURAT.CO Kabar kudeta di Benin mencuri perhatian internasional setelah sekelompok tentara muncul di televisi pemerintah dan mengumumkan pembubaran pemerintahan, Sabtu (7/12/2025). Dalam siaran tersebut, tentara mengklaim bahwa mereka telah menggulingkan Presiden Patrice Talon, memicu kekhawatiran akan stabilitas politik di negara Afrika Barat itu.
Pengumuman kudeta Benin dilakukan oleh kelompok yang menamakan diri Komite Militer untuk Reformasi (CMR). Mereka menyebut pemerintahan yang berjalan sudah tidak lagi mewakili kepentingan rakyat. Namun pihak kepresidenan membantah adanya kudeta dan menegaskan bahwa situasi masih terkendali.
Insiden ini terjadi setelah beberapa tahun Benin mengalami meningkatnya tekanan politik dan keamanan, termasuk kritik terhadap Presiden Patrice Talon yang dituduh memperkuat kekuasaan menjelang akhir masa jabatannya.
Siapa Patrice Talon?
Patrice Talon dikenal sebagai pengusaha kaya yang dijuluki "Raja Kapas" di Benin. Ia memenangkan pemilihan presiden pada 2016 sebagai kandidat independen dengan perolehan 65 persen suara pada putaran kedua, mengalahkan Lionel Zinsou.
Karier politik Talon tidak selalu mulus. Pada 2012, ia sempat melarikan diri ke Prancis setelah dituduh terlibat dalam rencana meracuni Presiden Boni Yayi. Talon membantah tuduhan tersebut dan kemudian menerima pengampunan resmi pada 2014, sebelum kembali ke Benin pada 2015.
Kudeta Dibantah Pemerintah
Meski tentara mengumumkan kudeta, sumber dekat presiden mengatakan kepada AFP bahwa Talon dalam kondisi aman. Mereka menyebut hanya sekelompok kecil tentara sempat menguasai siaran televisi, sementara militer reguler telah mengambil alih kembali situasi.
“Negara sepenuhnya aman. Hanya masalah waktu sampai keadaan normal,” ujar sumber tersebut.
Seorang jurnalis di ibu kota ekonomi Cotonou melaporkan bahwa tentara memblokir akses ke kantor kepresidenan dan studio TV pemerintah. Namun, bandara dan sebagian besar wilayah kota tetap beroperasi normal.
Respons Internasional
Kedutaan Besar Prancis meminta warganya untuk tetap berada di dalam rumah setelah terdengar tembakan di dekat kediaman resmi presiden. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari organisasi regional Afrika Barat ECOWAS, yang sebelumnya telah menanggapi kudeta di Niger, Mali, Burkina Faso, dan Guinea.
Benin sebelumnya dipandang sebagai negara stabil secara politik di kawasan tersebut, namun meningkatnya ketegangan dan kekerasan jihadis dalam beberapa tahun terakhir membuat situasi semakin rapuh.
Masa Depan Politik Benin
Patrice Talon dijadwalkan meninggalkan jabatannya pada April 2026, sesuai pembatasan masa jabatan dua periode. Namun oposisi menuding pemerintah telah mempersempit ruang demokrasi setelah partai oposisi utama dilarang ikut pemilu.
Meski mendapat pujian atas pembangunan ekonomi, Talon kerap dikritik karena gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter.
Situasi di Benin kini masih terus dipantau, sementara publik internasional menunggu kepastian apakah pengumuman tentara itu merupakan awal dari pergantian kekuasaan melalui kudeta atau hanya percobaan yang gagal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









