Parlemen Korea Selatan Sahkan UU untuk Pembentukan Tim Penyelidikan Kecelakaan Jeju Air

AKURAT.CO Parlemen Korea Selatan pada Senin (22/12) mengesahkan undang-undang untuk membentuk penyelidikan independen terkait kecelakaan pesawat Jeju Air yang terjadi pada Desember 2024. Tragedi tersebut menewaskan 179 orang dan tercatat sebagai bencana penerbangan paling mematikan di wilayah Korea Selatan. Penyelidikan ini bertujuan mengungkap penyebab kecelakaan secara lebih menyeluruh dan transparan.
Berdasarkan undang-undang tersebut, sebuah panel yang terdiri dari 18 anggota parlemen akan ditugaskan menyelidiki berbagai kemungkinan penyebab kecelakaan pesawat Jeju Air. Fokus pemeriksaan meliputi risiko tabrakan dengan burung (bird strike), potensi gangguan mesin atau kerusakan mekanis, hingga keberadaan tanggul di ujung landasan pacu yang ditabrak pesawat. Selain itu, tim juga akan menelusuri kemungkinan adanya upaya penutupan atau pengaburan temuan oleh lembaga pemerintah selama proses investigasi resmi berlangsung.
Insiden kecelakaan pesawat Jeju Air melibatkan pesawat Boeing 737-800 yang melakukan pendaratan darurat tanpa roda pendaratan di Bandara Muan setelah upaya mendarat dibatalkan. Pesawat meluncur melewati landasan pacu dan menghantam tanggul, lalu terbakar hebat. Dari total 181 orang di dalam pesawat, hanya dua penumpang yang selamat.
Sementara itu, Badan Investigasi Kecelakaan Penerbangan dan Kereta Api Korea Selatan yang dipimpin pemerintah hingga kini belum merilis laporan akhir. Dalam laporan sementara yang dipublikasikan Januari lalu, badan tersebut menyebutkan bahwa kedua mesin pesawat mengalami tabrakan dengan burung. Namun, dalam pembaruan laporan pada Juli, ditemukan bahwa mesin kiri justru dimatikan meski mengalami kerusakan yang lebih ringan dan sebenarnya masih dapat menjaga pesawat tetap terbang.
Selain faktor teknis, perhatian juga tertuju pada tanggul di ujung landasan pacu yang menopang peralatan navigasi bandara. Para ahli menilai struktur tersebut tidak sesuai dengan standar internasional, yang mensyaratkan agar penghalang semacam itu mudah runtuh saat terjadi benturan guna meminimalkan dampak kecelakaan.
Para pakar penerbangan mengingatkan bahwa kecelakaan udara umumnya disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Karena itu, mereka menilai pentingnya menunggu hasil penyelidikan lengkap sebelum menarik kesimpulan akhir terkait penyebab tragedi tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








