Iran: Barat Keluarkan Air Mata Buaya atas Situasi Krisis di Iran, tetapi Bungkam terhadap Gaza

AKURAT.CO Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan sekutu Barat bersikap munafik terkait kerusuhan yang terjadi di dalam negeri. Teheran menilai Barat menumpahkan “air mata buaya” atas situasi di Iran, namun tetap bungkam terhadap aksi militer Israel di Jalur Gaza.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kemarahan Barat bersifat selektif. Menurutnya, negara-negara Barat justru menunjukkan simpati terhadap pihak yang ia sebut sebagai “teroris di Iran”, sementara mengabaikan apa yang diklaimnya sebagai kejahatan Israel di Gaza.
“Barat meneteskan air mata buaya untuk teroris di Iran, tetapi diam terhadap kejahatan entitas Zionis di Gaza,” kata Araghchi.
Pernyataan itu disampaikan di tengah gelombang unjuk rasa yang masih berlangsung di berbagai wilayah Iran. Aksi protes yang dimulai sejak akhir bulan lalu itu dipicu lonjakan harga kebutuhan pokok, sebelum berkembang menjadi penentangan terbuka terhadap pemerintahan ulama Iran.
Meski demikian, Araghchi menegaskan situasi keamanan telah terkendali. Ia mengatakan pemerintah memiliki rekaman video yang menunjukkan distribusi senjata kepada para pengunjuk rasa. Ia juga menyebut pengakuan dari sejumlah orang yang ditahan akan segera dipublikasikan.
Pemerintah Iran, lanjut Araghchi, akan memulihkan layanan internet secara bertahap. Namun, pemulihan tersebut dilakukan dengan koordinasi aparat keamanan, menandakan pembatasan masih diberlakukan untuk meredam kerusuhan.
Otoritas Iran sebelumnya menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi protes. Pemerintah bahkan menyerukan aksi unjuk rasa nasional untuk mengecam apa yang mereka sebut sebagai “tindakan terorisme yang dipimpin AS dan Israel”.
Di sisi lain, aksi demonstrasi dilaporkan masih terjadi di sejumlah daerah. Video yang beredar di media sosial pada Sabtu malam memperlihatkan massa memadati jalanan Teheran, bertepuk tangan dan meneriakkan yel-yel protes. Dalam salah satu rekaman terdengar suara mengatakan, “Kerumunan ini tidak berujung dan tidak bermula.”
Lembaga pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), mencatat sedikitnya 490 pengunjuk rasa dan 48 aparat keamanan tewas sejak kerusuhan pecah. Lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditangkap.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran. Laporan Wall Street Journal menyebut Trump mempertimbangkan berbagai opsi, mulai dari serangan militer, serangan siber rahasia, perluasan sanksi, hingga dukungan daring bagi kelompok anti-pemerintah di Iran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









