Kucing-kucingan dengan Aparat, Camilan Rumahan Banjiri Pasar Korea Utara

AKURAT.CO Produk makanan olahan rumahan yang dikemas menyerupai produk pabrikan kini semakin marak dijumpai di pasar-pasar Korea Utara. Bahkan, secara kasatmata hampir mustahil membedakan produk buatan rumah tangga dengan barang hasil produksi pabrik, sehingga upaya aparat untuk menertibkannya kian tidak efektif.
Sumber Daily NK di Provinsi Pyongan Selatan menyebutkan, makanan olahan rumahan kembali membanjiri lapak-lapak pasar di berbagai kota dan kabupaten, termasuk Kaechon. Produk yang paling banyak beredar adalah makanan ringan dan kudapan, seperti camilan bir, gorengan, camilan kacang, hingga permen susu manis.
Selama bertahun-tahun, makanan olahan rumahan menjadi sasaran penertiban ketat karena dianggap melanggar undang-undang sanitasi pangan Korea Utara. Akibatnya, produk-produk tersebut sempat menghilang secara bertahap dari pasar tradisional.
Namun belakangan, produsen rumahan menemukan cara untuk menghindari razia dengan menggunakan kemasan yang semakin canggih dan menyerupai produk pabrikan. Bahkan, sebagian produk dilengkapi merek pabrik asli, sehingga sulit dibedakan dari barang resmi.
Perdagangan merek bawah tanah
Menurut sumber tersebut, produsen makanan rumahan menggunakan dua cara. Pertama, bekerja sama langsung dengan pabrik untuk menggunakan logo secara resmi. Kedua, memalsukan logo pabrik tanpa sepengetahuan pihak terkait.
“Banyak pabrik juga kesulitan mendapatkan bahan baku atau menjalankan produksi secara normal. Karena itu, mereka ‘meminjamkan’ logo kepada individu demi mendapatkan pemasukan tunai,” ujar sumber tersebut. Skema ini menguntungkan kedua belah pihak: pabrik memperoleh uang tambahan, sementara produsen rumahan dapat menghindari pengawasan.
Akibat praktik ini, transaksi merek secara ilegal antara pabrik dan produsen rumahan semakin marak. Kondisi tersebut membuat aparat kesulitan melakukan penindakan.
“Hampir semua produk kini memakai logo pabrik, sehingga sulit menentukan mana yang benar-benar diproduksi pabrik dan mana yang buatan rumah,” kata sumber itu. “Konsumen pun tidak melaporkan karena justru merasa memiliki lebih banyak pilihan.”
Di kalangan masyarakat, peredaran makanan olahan rumahan justru disambut positif. Selain dinilai memiliki rasa yang lebih enak dibanding produk massal, harga dan variasinya juga lebih beragam.
“Banyak orang percaya makanan buatan rumah rasanya lebih lezat,” ujar sumber tersebut. “Ditambah kemasan yang kini jauh lebih menarik, produk rumahan kembali mendominasi pasar, berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







