Trump Kecewa Berat, Ini Sejumlah Skenario AS untuk Keluar dari NATO

AKURAT.CO Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap NATO setelah sekutu-sekutu Amerika Serikat menolak bergabung dalam perang melawan Iran. Pernyataan keras ini memicu kekhawatiran atas masa depan aliansi militer terbesar di dunia tersebut.
Pada Rabu, Trump menyatakan dirinya “sangat mempertimbangkan” untuk keluar dari NATO. Meski tidak merinci rencana tersebut dalam pidato televisi pada malam harinya, pernyataan itu menjadi sinyal paling tegas terkait ketidaksukaannya terhadap aliansi yang telah berdiri lebih dari tujuh dekade.
“Saya akan membahas rasa muak saya terhadap NATO,” ujar Trump sebelum pidato. Ia menambahkan, “Saya kecewa pada mereka … jika saya membutuhkan mereka, mereka tidak akan ada.”
Ancaman Trump dan Batasan Hukum
Hingga kini, Trump belum mengambil langkah resmi untuk keluar dari NATO. Berdasarkan hukum AS, presiden tidak dapat menarik diri dari aliansi tersebut tanpa persetujuan Kongres.
Namun, retorika Trump—termasuk menyebut NATO sebagai “mereka” alih-alih “kita”—serta gagasan sebelumnya untuk mencaplok Greenland dari Denmark, menunjukkan perubahan sikap Washington terhadap aliansi yang didirikannya.
Sejumlah pakar dan pejabat NATO menguraikan beberapa skenario yang mungkin dilakukan AS, mulai dari retorika hingga langkah ekstrem keluar dari aliansi.
1. Meningkatkan Tekanan Retorika
Trump dapat terus memperkeras kritik terhadap NATO. Ia sebelumnya meragukan komitmen Pasal 5—klausul pertahanan kolektif—dan menyebut NATO sebagai “macan kertas”. Menurutnya, Presiden Rusia Vladimir Putin juga memahami kelemahan tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa keraguan terhadap komitmen akan merusak kepercayaan dalam aliansi.
“Aliansi seperti NATO bernilai karena kepercayaan di baliknya. Jika komitmen terus diragukan, maka substansi NATO akan kosong,” ujar Macron.
Pakar keamanan menilai, pernyataan semacam ini berisiko melemahkan efek pencegahan NATO terhadap negara lawan, termasuk Rusia dan China di bawah kepemimpinan Xi Jinping.
2. Menghambat Kebijakan Internal NATO
AS juga dapat memperlambat atau menghambat proses pengambilan keputusan di dalam NATO, yang mengandalkan persetujuan bulat.
Diplomat NATO menyebut Washington telah memblokir beberapa laporan terkait isu non-militer seperti perubahan iklim dan keamanan manusia. Jika diperluas ke isu strategis seperti Rusia dan Ukraina, dampaknya bisa lebih besar.
Selain itu, AS dapat menahan kontribusi anggaran NATO atau mendorong skema “pay-for-play”, yakni membatasi peran negara yang tidak memenuhi target belanja pertahanan.
3. Menarik Pasukan AS dari Eropa
Saat ini, sekitar 67.500 hingga 85.000 tentara AS ditempatkan di Eropa. Berdasarkan aturan terbaru, Trump hanya dapat menarik sebagian pasukan tanpa persetujuan Kongres.
Pengurangan terbatas diperkirakan tidak akan menghancurkan NATO, karena negara Eropa masih dapat menutup kekurangan tersebut.
Namun, langkah ini dinilai kecil kemungkinan terjadi karena kehadiran militer AS di Eropa penting untuk mobilisasi cepat dalam konflik, termasuk di Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









