Akurat
Pemprov Sumsel

Krisis Roti di Gaza Memburuk, Bantuan Menyusut dan Harga Tepung Melonjak

Fitra Iskandar | 13 April 2026, 14:40 WIB
Krisis Roti di Gaza Memburuk, Bantuan Menyusut dan Harga Tepung Melonjak
Krisis Roti di Gaza Memburuk, Bantuan Menyusut dan Harga Tepung Melonjak. Foto: Ist

AKURAT.CO Krisis kekurangan roti di Jalur Gaza kian memburuk seiring pembatasan masuknya pasokan oleh Israel yang terus berdampak pada operasional toko roti, meski sebagian sempat kembali beroperasi pascagencatan senjata Oktober lalu.

Aliran bantuan dan pasokan pangan, termasuk dari World Food Programme (WFP), dilaporkan menurun dalam sebulan terakhir. Penurunan ini terjadi di tengah kebijakan Israel yang beriringan dengan pecahnya konflik dengan Iran.

Pejabat Hamas menuduh Israel sengaja mengurangi bantuan sebagai bagian dari kebijakan yang mereka sebut sebagai “rekayasa kelaparan”.

Antrean panjang terlihat di berbagai titik distribusi di Gaza, mencerminkan sulitnya memperoleh roti. Bahkan, dilaporkan terjadi keributan antarwarga yang berebut jatah roti harian.

Saed al-Laham (41), warga Kamp Al-Shati di barat Kota Gaza, mengaku harus mengantre lebih dari tiga jam setiap hari hanya untuk mendapatkan satu bungkus roti, yang tidak cukup untuk keluarganya yang berjumlah enam orang.

“Sering kali saya kembali ke tenda tempat kami tinggal setelah rumah kami hancur tanpa membawa roti karena persediaan habis dan jumlahnya terus berkurang,” ujarnya.

Kelangkaan juga terjadi pada tepung. Harga satu karung 20 kilogram yang sebelumnya sekitar 20 shekel kini melonjak menjadi 140 shekel dalam beberapa hari terakhir.

Selain krisis roti, Gaza juga menghadapi masalah lain, termasuk penurunan tajam pasokan gas memasak yang sebelumnya sudah terbatas. Distribusi kini hanya dilakukan setiap tiga bulan, dari sebelumnya setiap enam minggu. Kayu bakar dan sumber energi lain untuk memasak juga semakin sulit didapat.

Riham Salem (52), warga kawasan Al-Nasser di Kota Gaza, mengalami kondisi serupa. Ia mengatakan harus bersaing dengan laki-laki dalam antrean panjang demi mendapatkan roti untuk keluarganya yang berjumlah sembilan orang.

Meski memiliki satu karung tepung, ia tidak dapat menggunakannya karena mahalnya harga kayu bakar serta ketiadaan gas dan listrik.

Wakil Menteri Ekonomi di pemerintahan Hamas, Hassan Abu Riyala, mengatakan dukungan internasional untuk produksi roti di Gaza telah turun lebih dari 60 persen, sehingga mengurangi produksi harian.

Ia menyebut kebutuhan tepung di Gaza mencapai sekitar 450 ton per hari. Sebelumnya, WFP memasok 350 ton, namun kini turun menjadi sekitar 200 ton dalam beberapa bulan terakhir.

“Israel mengontrol masuknya barang dan bantuan, hanya mengizinkan jumlah terbatas, termasuk tepung komersial, sehingga menyebabkan penurunan tajam pasokan penting,” ujarnya.

WFP sebelumnya memasok tepung dan bahan bakar diesel ke lebih dari 30 toko roti di Gaza, dengan sekitar 28 di antaranya masih beroperasi. Namun, penurunan pasokan memicu kekhawatiran akan kembalinya kondisi kelaparan, terutama karena distribusi tepung ke rumah tangga oleh organisasi internasional dan Arab sebagian besar telah terhenti akibat pembatasan di perbatasan.

Sumber dari pemerintah Hamas dan kelompok masyarakat sipil menyebutkan bahwa WFP telah memberi tahu pemilik toko roti bahwa mereka tidak lagi dapat menyediakan diesel, serta menyarankan impor tepung melalui pedagang swasta, yang juga dibatasi oleh kontrol Israel.

Kantor media pemerintah Hamas menuduh Israel memberlakukan “pengepungan total” terhadap Gaza sebagai bagian dari kebijakan yang semakin meningkat untuk “merekayasa kelaparan”, dengan mengontrol ketat aliran barang-barang penting, terutama roti.

Dalam pernyataan Minggu, mereka juga menyebut World Central Kitchen telah menghentikan sepenuhnya bantuan tepung, setelah sebelumnya memasok 20 hingga 30 ton roti per hari. WFP juga disebut mengurangi pengiriman tepung dari 300 ton menjadi 200 ton per hari, sementara organisasi lain turut menghentikan bantuan, memperparah krisis.

Saat ini, sekitar 30 toko roti memproduksi sekitar 133.000 bungkus roti per hari, terdiri dari 48.000 yang dibagikan gratis dan 85.000 dijual dengan harga subsidi melalui 142 titik distribusi. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan pembatasan bantuan yang terus berlanjut, termasuk tepung, merupakan “pelanggaran terang-terangan” terhadap perjanjian gencatan senjata yang seharusnya menjamin volume bantuan tertentu.

Sementara itu, konvoi aktivis pro-Palestina “Global Sumud Flotilla” menunda keberangkatan dari Barcelona menuju Gaza pada Minggu akibat cuaca buruk. Sekitar 40 kapal yang direncanakan berlayar akan sementara dipindahkan ke pelabuhan terdekat hingga kondisi membaik.

Sumber: Aawsat

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.