Imbas Perang dengan Iran, Suara Trump Merosot Tajam di Kalangan Pemilihnya

AKURAT.CO Tingkat persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan merosot tajam di kalangan pemilih kulit putih non-perguruan tinggi, kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung kemenangan elektoralnya.
Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran baru bagi Partai Republik menjelang Pemilihan Paruh Waktu Amerika Serikat 2026.
Berdasarkan rata-rata jajak pendapat nasional terbaru yang dipaparkan CNN, Kamis (16/4/2026) dukungan dari kelompok pemilih tersebut mengalami pergeseran drastis sejak awal 2025.
Jika pada Februari 2025 tingkat persetujuan bersih Trump (approval dikurangi disapproval) berada di angka plus 32 poin, kini angkanya turun menjadi minus dua poin—penurunan tajam sebesar 34 poin.
Baca Juga: Nambah Panas! Iran Ancam Tenggelamkan Kapal AS Jika Coba Blokade Selat Hormuz!
Kepala analis data CNN, Harry Enten, menekankan bahwa perubahan itu bukan hasil dari satu survei yang menyimpang.
“Ini adalah rata-rata dari jajak pendapat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa data tersebut merupakan gabungan dari tiga survei utama yang dilakukan untuk CBS News, Fox News, dan CNN.
“Kita sedang berbicara tentang pemilih kulit putih non-perguruan tinggi—kelompok yang membantu mengantarkannya ke Gedung Putih,” kata Enten.
Ia menambahkan secara tidak langsung bahwa pembalikan sikap kelompok ini menjadi momen krusial dalam dinamika politik nasional, bahkan menyebutnya sebagai bentuk pertikaian politik terhadap presiden.
Para analis mengaitkan penurunan dukungan tersebut dengan meningkatnya kecemasan ekonomi serta reaksi publik terhadap kebijakan luar negeri Washington, khususnya konflik terkait Iran. Isu kenaikan harga energi dan tekanan ekonomi domestik disebut-sebut turut memperburuk persepsi publik.
Temuan lain datang dari jajak pendapat terbaru yang dirilis Universitas Quinnipiac. Survei nasional yang dilakukan terhadap 1.028 pemilih terdaftar pada 9–13 April 2026 dengan margin of error 3,8 persen itu menunjukkan tingkat persetujuan Trump secara keseluruhan berada di angka 38 persen, berbanding 55 persen ketidaksetujuan.
Secara khusus, tingkat persetujuan Trump di kalangan pemilih pria tercatat 41 persen, sementara 52 persen menyatakan tidak setuju. Ini menjadi level terendah selama masa jabatan keduanya dalam survei nasional lembaga tersebut.
Penurunan dukungan di kalangan pria dinilai berpotensi berdampak terhadap dinamika internal Partai Republik, termasuk pengaruh politik Trump dalam perdebatan kebijakan serta mobilisasi pemilih menjelang pemilu paruh waktu.
Baca Juga: Analis Luar Negeri Beberkan Empat Alasan Kegagalan Amerika Jika Coba Blokade Selat Hormuz
Dalam konteks politik elektoral, pemilih kulit putih non-perguruan tinggi memiliki arti strategis. Mereka memainkan peran penting dalam kemenangan Trump pada pemilu 2016 dan kembali menjadi faktor kunci dalam kemenangan 2024.
Karena itu, pergeseran opini kelompok ini dinilai dapat mengubah peta persaingan, terutama dalam kontestasi Senat di negara bagian yang sebelumnya menjadi basis kuat Partai Republik.
Sejumlah pengamat menilai tren penurunan ini bisa menjadi sinyal peringatan serius bagi Gedung Putih. Jika kecenderungan tersebut berlanjut, Partai Demokrat berpotensi memperoleh peluang tak terduga di sejumlah daerah pemilihan yang sebelumnya sulit ditembus.
Meski demikian, dinamika politik Amerika Serikat masih sangat cair. Dengan waktu yang tersisa menuju pemilihan paruh waktu 2026, perubahan persepsi publik masih mungkin terjadi, tergantung pada perkembangan ekonomi domestik, stabilitas kebijakan luar negeri, serta strategi kampanye kedua partai besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





