Gagal Blokade Selat Hormuz, Ini yang Terjadi pada Dua Kapal AS

AKURAT.CO Upaya Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz berujung ketegangan di perairan strategis tersebut. Dua kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Michael Murphy dan USS Frank E. Petersen Jr., dilaporkan menghadapi tekanan dari militer Iran saat melintasi kawasan itu.
Berdasarkan informasi yang beredar dari sumber militer dan dikutip sejumlah media, kedua kapal tersebut disebut mengalami kerusakan dalam insiden tersebut. Namun, belum ada keterangan resmi dari pihak Angkatan Laut AS terkait tingkat kerusakan maupun detail kronologi kejadian.
Di tengah memanasnya situasi, Konsulat Jenderal Iran di Hyderabad, India, menyindir kebijakan Presiden AS Donald Trump yang disebut ingin memblokade jalur perdagangan minyak global itu.
Akun resmi @IraninHyderabad Selasa (14/4/2026) menulis, “Selat Hormuz bukan media sosial. Jika seseorang memblokir Anda, Anda tak bisa hanya memblokir balik mereka."
Baca Juga: YouTube Hapus Kanal Video AI Bergaya Lego Terkait Iran
USS Michael Murphy merupakan kapal perusak kelas Arleigh Burke Flight IIA yang dibangun oleh Bath Iron Works dan mulai dioperasikan pada 2012. Kapal berbobot sekitar 9.200 ton ini memiliki panjang 510 kaki dan diawaki lebih dari 300 personel.
Kapal tersebut dilengkapi Sistem Senjata Aegis dan 96 sel Peluncuran Vertikal Mark 41, yang mampu membawa berbagai jenis rudal, termasuk Tomahawk serta pencegat Standard Missile 3 dan Standard Missile 6. Dalam operasinya, kapal ini juga didukung dua helikopter MH-60R Seahawk.
Sementara itu, USS Frank E. Petersen Jr. merupakan varian lebih baru yang dibangun oleh Ingalls Shipbuilding dan mulai bertugas pada Mei 2022. Kapal ini mengusung peningkatan teknologi, termasuk material komposit untuk fitur siluman serta sistem radar dan peperangan elektronik yang lebih mutakhir. Bobotnya sekitar 9.217 ton dengan panjang 513 kaki dan awak sekitar 380 personel.
Baca Juga: Iran Tuntut Kompensasi dari Lima Negara Arab Terkait Serangan AS-Israel
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi pintu keluar utama distribusi minyak dari kawasan Teluk. Lebar jalur pelayaran yang relatif sempit—sekitar dua mil di beberapa titik—membuat kawasan ini sangat sensitif terhadap manuver militer.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Washington terkait klaim bahwa kedua kapal tersebut “kabur dan rusak berat”. Situasi di kawasan Teluk pun masih terus dipantau, menyusul meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










