Akurat
Pemprov Sumsel

Kenaikan Harga Plastik hingga 50 Persen, Berikut Strategi Bisnis Makanan Bertahan Tanpa Naikkan Harga

Idham Nur Indrajaya | 21 April 2026, 17:00 WIB
Kenaikan Harga Plastik hingga 50 Persen, Berikut Strategi Bisnis Makanan Bertahan Tanpa Naikkan Harga
Kenaikan harga plastik hingga 50% tekan industri makanan. Bagaimana perusahaan bertahan tanpa menaikkan harga? Simak strategi lengkapnya. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Dalam Paparan Publik PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), manajemen mengungkapkan bahwa harga plastik sebagai bahan kemasan bahkan sempat naik hingga lebih dari 50% akibat gangguan rantai pasok global dan faktor geopolitik.

Namun yang menarik:
Perusahaan justru tidak menjadikan kenaikan harga sebagai opsi utama.

Ini membuka pertanyaan besar: bagaimana mereka bisa bertahan?


Ringkasan: Dampak Kenaikan Harga Plastik & Strategi Perusahaan

Kenaikan harga plastik berdampak pada biaya produksi, khususnya di sisi kemasan. Namun perusahaan makanan besar tidak langsung menaikkan harga karena:

  • Fokus menjaga daya beli konsumen

  • Melakukan efisiensi produksi dan distribusi

  • Mendorong skala produksi (economies of scale)

  • Inovasi kemasan untuk mengurangi penggunaan plastik

  • Diversifikasi pemasok bahan baku

  • Memanfaatkan ekspor dan strategi lindung nilai (hedging)

Kesimpulan cepat: harga tidak naik bukan karena biaya tidak naik, tapi karena perusahaan menahan tekanan tersebut di internal.


Kenapa harga plastik bisa naik hingga 50%?

Kenaikan harga plastik tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kombinasi faktor global yang saling terkait:

1. Konflik geopolitik & gangguan supply chain

Ketegangan global, termasuk konflik di Timur Tengah, berdampak pada distribusi bahan baku kimia yang menjadi dasar produksi plastik.

2. Kenaikan harga energi

Produksi plastik sangat bergantung pada minyak dan gas. Ketika harga energi naik, biaya produksi ikut terdorong.

3. Ketergantungan impor

Banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat.

Inilah yang menyebabkan lonjakan biaya bisa mencapai lebih dari 50%—angka yang sangat signifikan dalam struktur biaya.


Seberapa besar dampaknya ke industri makanan?

Secara umum, plastik bukan bahan baku utama, tapi tetap krusial karena:

  • Hampir semua produk makanan menggunakan kemasan

  • Kemasan berfungsi menjaga kualitas dan daya tahan produk

  • Perubahan kecil di kemasan bisa berdampak ke biaya total

Dalam paparan publik yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 21 April 2026, Direktur Utama PT Mulia Boga Raya Tbk Indrasena Patmawidjaja menegaskan bahwa:

“Plastik memang menjadi tantangan, namun bukan merupakan bahan baku utama dalam produksi kami.”

Artinya, dampaknya tidak menghancurkan, tapi cukup untuk menekan margin keuntungan.


Kenapa perusahaan tidak langsung menaikkan harga?

Ini bagian paling menarik—dan sering disalahpahami.

Secara logika sederhana: biaya naik = harga naik.
Namun di dunia nyata, tidak sesederhana itu.

1. Risiko kehilangan konsumen

Daya beli masyarakat sedang tertekan. Kenaikan harga bisa langsung menurunkan penjualan.

2. Strategi jangka panjang

Indrasena menegaskan:

"Kenaikan harga bukanlah opsi utama bagi kami.”

Fokus mereka adalah memperluas konsumsi keju sebagai makanan sehari-hari, bukan sekadar menjaga margin jangka pendek.

3. Persaingan pasar

Jika satu brand menaikkan harga, konsumen bisa langsung beralih ke kompetitor.

Jadi, keputusan tidak menaikkan harga adalah strategi, bukan kelemahan.


Bagaimana strategi perusahaan menjaga profit di tengah tekanan biaya?

Perusahaan tidak tinggal diam. Ada beberapa strategi konkret yang digunakan:

🔹 1. Efisiensi operasional

Mengurangi pemborosan di seluruh lini produksi.

🔹 2. Economies of scale

Produksi dalam volume lebih besar untuk menekan biaya per unit.

🔹 3. Inovasi kemasan

  • Mengurangi penggunaan plastik

  • Mengganti material

  • Mendesain ulang kemasan agar lebih efisien

🔹 4. Diversifikasi pemasok

Tidak bergantung pada satu wilayah (misalnya Eropa), tapi juga Asia dan Oceania.

🔹 5. Ekspansi ekspor

Pendapatan dari luar negeri membantu menyeimbangkan risiko nilai tukar.

🔹 6. Hedging (lindung nilai)

Melindungi perusahaan dari fluktuasi kurs.

Kombinasi strategi ini yang membuat perusahaan tetap “bernapas” tanpa harus membebani konsumen.


Insight: Paradoks Industri — Harga Ditahan, Margin Dikorbankan

Di sinilah insight paling penting muncul.

Perusahaan sengaja menahan harga demi menjaga permintaan, meski harus mengorbankan margin.

Ini menciptakan paradoks:

  • Konsumen merasa aman (harga stabil)

  • Tapi perusahaan menanggung tekanan finansial

Dalam jangka pendek, ini terlihat positif.
Namun dalam jangka panjang, ada risiko:

  • Margin semakin tipis

  • Ruang inovasi bisa terbatas

  • Potensi penyesuaian harga di masa depan lebih besar

Artinya: harga yang “tidak naik sekarang” bisa jadi adalah penundaan, bukan penghindaran.


Simulasi Nyata: Apa yang Terjadi di Lapangan?

Mari kita sederhanakan dengan ilustrasi:

Sebelum kenaikan biaya:

  • Biaya produksi: Rp1.000

  • Harga jual: Rp1.300

  • Margin: Rp300

Setelah plastik naik:

  • Biaya produksi naik jadi: Rp1.150

  • Harga jual tetap: Rp1.300

  • Margin turun jadi: Rp150

Margin terpangkas 50%

Apa yang biasanya dilakukan?

  • Mengurangi ukuran produk (shrinkflation)

  • Mengubah komposisi kemasan

  • Menekan biaya distribusi

Ini sering terjadi tanpa disadari konsumen.


Implikasi: Apa dampaknya bagi konsumen dan pasar?

1. Harga tidak naik, tapi nilai bisa berubah

Ukuran lebih kecil, kualitas kemasan berbeda—ini bentuk penyesuaian tersembunyi.

2. Industri makin kompetitif

Perusahaan harus lebih efisien dan inovatif untuk bertahan.

3. Konsumen jadi lebih sensitif harga

Brand yang gagal menjaga harga berisiko ditinggalkan.

4. Potensi kenaikan harga tertunda

Jika tekanan biaya terus berlanjut, kenaikan harga bisa menjadi tak terhindarkan.


Penutup: Stabilitas Harga Hari Ini, Tekanan Besar di Balik Layar

Di balik harga makanan yang terlihat stabil, ada strategi kompleks yang sedang dimainkan.

Perusahaan seperti PT Mulia Boga Raya Tbk memilih untuk:

  • menahan harga

  • menjaga konsumsi

  • dan bermain di strategi jangka panjang

Namun pertanyaannya sekarang:

Sampai kapan strategi ini bisa bertahan jika tekanan biaya terus meningkat?

Bagi konsumen, ini adalah masa “tenang sebelum perubahan”.
Bagi industri, ini adalah ujian ketahanan bisnis yang sesungguhnya.

Pantau terus perkembangan ini, karena keputusan hari ini akan menentukan harga yang Anda bayar di masa depan.


Baca Juga: Kemenperin Pastikan Stok Plastik Aman Meski Krisis Selat Hormuz masih Menghantui

Baca Juga: Industri Plastik Terancam Gulung Tikar Akibat Gejolak Global, Puan Dorong Optimalisasi Potensi Lokal

FAQ

1. Apakah kenaikan harga plastik akan membuat harga makanan ikut naik?

Kenaikan harga plastik memang meningkatkan biaya produksi makanan, terutama pada sisi kemasan. Namun, banyak perusahaan tidak langsung menaikkan harga karena mempertimbangkan daya beli konsumen dan persaingan pasar. Sebagai gantinya, mereka menekan margin keuntungan, melakukan efisiensi, atau mengubah strategi kemasan. Jadi, harga makanan bisa tetap stabil dalam jangka pendek, meskipun tekanan biaya sebenarnya sedang meningkat di balik layar.


2. Mengapa perusahaan makanan tidak langsung menaikkan harga saat biaya produksi naik?

Perusahaan makanan cenderung menghindari kenaikan harga karena berisiko menurunkan permintaan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Konsumen saat ini sangat sensitif terhadap harga, sehingga kenaikan kecil bisa berdampak pada penjualan. Oleh karena itu, strategi yang lebih umum dilakukan adalah efisiensi operasional, inovasi produk, dan optimalisasi distribusi agar harga tetap kompetitif tanpa kehilangan pasar.


3. Seberapa besar dampak kenaikan harga plastik terhadap biaya produksi makanan?

Meskipun plastik bukan bahan baku utama, dampaknya tetap signifikan karena hampir semua produk makanan menggunakan kemasan. Kenaikan harga plastik hingga 50% dapat meningkatkan total biaya produksi, terutama pada produk dengan margin tipis. Dampaknya akan lebih terasa jika perusahaan tidak memiliki skala produksi besar atau tidak melakukan efisiensi, sehingga biaya tambahan ini harus diserap atau dialihkan ke strategi lain.


4. Apa strategi perusahaan untuk menghadapi kenaikan biaya bahan baku seperti plastik?

Perusahaan biasanya menerapkan beberapa strategi untuk menghadapi kenaikan biaya bahan baku, seperti meningkatkan efisiensi produksi, memperbesar skala produksi (economies of scale), melakukan inovasi kemasan untuk mengurangi penggunaan plastik, serta mencari pemasok alternatif. Selain itu, beberapa perusahaan juga mengandalkan ekspor dan strategi lindung nilai (hedging) untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah fluktuasi global.


5. Apakah kenaikan harga plastik bisa memicu shrinkflation pada produk makanan?

Ya, kenaikan biaya kemasan seperti plastik sering mendorong praktik shrinkflation, yaitu pengurangan ukuran atau isi produk tanpa menaikkan harga. Strategi ini digunakan agar harga tetap terlihat sama di mata konsumen, meskipun biaya produksi meningkat. Shrinkflation sering terjadi secara halus, sehingga banyak konsumen tidak langsung menyadarinya, padahal nilai produk yang diterima sebenarnya berkurang.


6. Bagaimana dampak pelemahan rupiah terhadap industri makanan di Indonesia?

Pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku, termasuk bahan kemasan dan komponen produksi, menjadi lebih mahal. Hal ini meningkatkan tekanan pada biaya produksi perusahaan makanan, terutama yang masih bergantung pada bahan impor. Untuk mengatasinya, perusahaan biasanya melakukan efisiensi, meningkatkan produksi lokal, atau memperluas pasar ekspor agar mendapatkan pemasukan dalam mata uang asing.


7. Apakah harga makanan akan naik di tahun 2026?

Potensi kenaikan harga makanan di tahun 2026 tetap ada, terutama jika tekanan biaya seperti harga plastik, energi, dan nilai tukar rupiah terus berlanjut. Namun, banyak perusahaan masih berusaha menahan harga untuk menjaga daya beli dan mempertahankan pasar. Jika kondisi ekonomi global tidak membaik, kenaikan harga kemungkinan hanya tertunda dan bisa terjadi secara bertahap di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.