Mantan Pejabat Amerika: Perang Iran Buktikan Kelemahan Donald Trump!

AKURAT.CO Konflik tujuh minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai membuka titik lemah utama Presiden Donald Trump, terutama dalam menghadapi tekanan ekonomi domestik.
Sejumlah analis menilai, meski serangan militer AS bersama Israel sejak akhir Februari meningkatkan tekanan terhadap Teheran, dampak balik justru lebih terasa di dalam negeri Amerika.
Kenaikan harga bensin, inflasi, serta gejolak pasar keuangan disebut menjadi faktor pembatas manuver politik Gedung Putih.
Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di era Presiden Barack Obama, menyebut tekanan ekonomi menjadi kelemahan utama Trump dalam konflik ini.
“Trump merasakan tekanan ekonomi, yang merupakan titik lemahnya dalam perang pilihan ini,” kata Bruen, dikutip The New York Times, Minggu (19/6/2026).
Penutupan sementara Selat Hormuz oleh Iran sempat memicu lonjakan harga minyak global. Dampaknya langsung dirasakan konsumen AS melalui kenaikan harga energi dan biaya transportasi. Dana Moneter Internasional bahkan memperingatkan potensi risiko resesi global akibat gejolak tersebut.
Baca Juga: Alhamdulillah, Iran Siap Akhiri Perang dengan Syarat Ini
Di tengah tekanan itu, Trump mulai menggeser pendekatan dari serangan militer ke jalur diplomasi pada 8 April. Langkah tersebut dinilai sebagai respons atas tekanan pasar dan kekhawatiran politik menjelang pemilu paruh waktu November, ketika Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di Kongres.
Namun, kritik juga datang dari kalangan sekutu AS. Gregory Poling dari Center for Strategic and International Studies menilai perang tersebut memperlihatkan ketidakkonsistenan kebijakan Washington.
“Lonceng peringatan yang berbunyi bagi sekutu saat ini adalah bagaimana perang telah menyoroti bahwa pemerintahan dapat bertindak secara tidak menentu, tanpa banyak mempertimbangkan konsekuensinya,” ujarnya.
Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai menegaskan pemerintah tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi sambil menempuh jalur diplomasi. “Presiden Trump dapat melakukan dua hal sekaligus,” katanya.
Meski harga minyak global sempat turun setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata, para ahli memperingatkan dampak ekonomi konflik bisa berlangsung lama. Ketidakpastian juga masih menyelimuti masa depan perundingan, termasuk soal isu nuklir yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Baca Juga: Negara Eksportir Untung, Importir Tertekan Energi, Kok Bisa?
Analis politik Chuck Coughlin menilai perang ini berisiko secara elektoral bagi Trump. “Dia sadar bahwa sebagian besar masyarakat di luar basis pendukungnya, bahkan sebagian di dalamnya, menolak kebijakan ini. Dan pada akhirnya, harga politiknya akan dibayar,” ujarnya.
Dengan tekanan ekonomi yang terus membayangi dan dukungan publik yang terbelah, perang Iran kini tak hanya menjadi ujian geopolitik, tetapi juga pertaruhan politik bagi Presiden Donald Trump di dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini







