Biaya Operasi AS Lawan Iran Tembus Rp1.000 Triliun!

AKURAT.CO Operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran dilaporkan telah menghabiskan biaya yang sangat besar hingga menembus Rp1.000 triliun.
Angka tersebut setara dengan sekitar 61 miliar dolar AS, mencerminkan skala konflik yang tidak hanya intens secara militer, tetapi juga sangat membebani secara ekonomi.
Menurut laporan The Guardian yang dikutip pada Sabtu (25/4/2026), lonjakan biaya ini dipicu oleh mobilisasi besar-besaran pasukan serta pengerahan armada laut, termasuk kapal induk seperti USS Gerald R. Ford. Operasi militer dilakukan secara intensif sejak awal konflik, dengan pengeluaran harian yang mencapai belasan triliun rupiah.
Data tersebut disebut berasal dari laporan resmi Pentagon yang disampaikan kepada Kongres AS, dan juga dipantau melalui sistem “Iran War Cost Tracker” yang mencatat pergerakan dana secara real-time.
Selain biaya operasional, pengeluaran besar juga dipengaruhi oleh serangan gabungan Amerika Serikat bersama Israel yang menghantam berbagai fasilitas penting di Iran sejak akhir Februari lalu. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur vital dan dilaporkan menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil.
Setelah eskalasi memuncak, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama 14 hari. Namun, proses diplomasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan kesepakatan permanen. Hingga kini, situasi masih berada dalam kondisi tidak pasti, dengan ketegangan yang sewaktu-waktu bisa kembali meningkat.
Di tengah kebuntuan negosiasi, pemerintahan Donald Trump memilih tetap menjalankan strategi tekanan dengan memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Kebijakan ini ditujukan untuk membatasi pergerakan logistik Teheran, meskipun konsekuensinya adalah meningkatnya biaya operasional militer Amerika Serikat.
Trump juga mengisyaratkan bahwa peluang pembicaraan damai masih terbuka dan dapat terjadi dalam waktu dekat. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian apakah jalur diplomasi tersebut benar-benar akan menghasilkan penyelesaian konflik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya menguras sumber daya ekonomi dalam jumlah besar, tetapi juga menyisakan ketidakpastian geopolitik yang panjang bagi kedua negara dan kawasan sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









