Serangan Israel di Gaza Tewaskan Anak 9 Tahun, Gencatan Senjata Kembali Dipertanyakan

AKURAT.CO Serangan terbaru militer Israel di Gaza kembali memakan korban jiwa. Seorang anak Palestina berusia 9 tahun dilaporkan tewas, sementara dua warga lainnya mengalami luka-luka dalam insiden yang terjadi pada Selasa (28/4/2026).
Menurut sumber medis setempat, korban tewas bernama Adel Lafi al-Najjar. Ia meninggal akibat serangan di wilayah Khan Younis, Gaza selatan. Seorang pria berusia 30 tahun juga dilaporkan terluka dalam serangan yang sama.
Drone dan Tembakan Picu Korban
Saksi mata menyebut serangan dilakukan menggunakan drone yang menembakkan rudal di sekitar bundaran Abu Hamid, kawasan pusat Khan Younis. Lokasi tersebut disebut berada di luar area penempatan resmi militer Israel.
Di wilayah utara Gaza, seorang perempuan berusia 49 tahun dilaporkan mengalami luka serius setelah terkena tembakan pasukan Israel di kawasan al-Twam.
Saksi juga menyebut pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah kamp al-Masri yang berada di sekitar wilayah tersebut.
Artileri Gempur Kamp Pengungsi
Serangan tidak hanya terjadi di satu titik. Warga melaporkan adanya tembakan artileri intensif yang menghantam wilayah timur kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara, disertai rentetan tembakan senjata.
Situasi ini memperlihatkan meningkatnya kembali eskalasi kekerasan di tengah gencatan senjata yang masih berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Ratusan Tewas Sejak Gencatan Senjata
Data dari otoritas kesehatan Gaza mencatat, sedikitnya 818 warga Palestina tewas dan 2.301 lainnya terluka sejak gencatan senjata diberlakukan.
Kesepakatan tersebut tercapai setelah konflik panjang yang dimulai pada Oktober 2023, yang telah menewaskan lebih dari 72.600 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.400 orang.
Selain korban jiwa, perang tersebut juga menyebabkan kehancuran besar, dengan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza dilaporkan rusak.
Gencatan Senjata Dipertanyakan
Serangan terbaru ini kembali memunculkan pertanyaan terkait efektivitas gencatan senjata yang telah disepakati.
Di tengah meningkatnya korban sipil, tekanan internasional diperkirakan akan kembali menguat untuk menghentikan kekerasan dan memastikan perlindungan terhadap warga sipil di wilayah konflik.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







