Trump: Hancurkan Iran Habis-Habisan atau Buat Kesepakatan

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap tak konsisten dalam menghadapi konflik Iran. Di satu sisi, ia membuka opsi serangan militer besar-besaran, namun di sisi lain tetap mempertimbangkan jalur diplomasi—meski baru saja menolak proposal negosiasi terbaru dari Teheran.
Dalam pernyataan di Gedung Putih pada Jumat, Trump secara terbuka mengungkap dua pilihan ekstrem yang sedang dipertimbangkan Washington. “Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka dan mengakhirinya selamanya? Atau kita ingin mencoba membuat kesepakatan?” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan kebuntuan yang masih membayangi konflik Iran yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Di tengah tekanan domestik yang meningkat agar perang segera diakhiri, arah kebijakan AS dinilai masih belum jelas.
Trump juga menegaskan ketidakpuasannya terhadap tawaran terbaru Iran. Ia menyebut proposal tersebut tidak dapat diterima. “Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas. Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui,” katanya, seraya menilai kepemimpinan Iran saat ini terpecah.
Meski begitu, jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup. Trump mengonfirmasi bahwa pembicaraan masih berlangsung melalui sambungan telepon. Namun, belum ada kejelasan terkait kelanjutan pertemuan langsung setelah pertemuan singkat sebelumnya di Islamabad.
Di pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan negaranya tetap terbuka untuk diplomasi, dengan syarat Washington mengubah pendekatan yang dianggap terlalu agresif.
“Iran siap untuk jalur diplomasi jika AS menghentikan retorika mengancam dan tindakan provokatif,” ujarnya. Namun ia juga menegaskan bahwa militer Iran siap merespons jika terjadi serangan.
Retaknya Hubungan dengan Sekutu
Ketegangan ini turut merembet ke hubungan AS dengan sekutu Eropa. Washington memutuskan menarik sekitar 5.000 tentara dari Jerman, menyusul perselisihan dengan Kanselir Friedrich Merz.
Merz sebelumnya mengkritik strategi AS terhadap Iran dan mempertanyakan arah kebijakan Washington. Seorang pejabat Pentagon menyebut kritik tersebut tidak membantu, dan menegaskan bahwa respons Trump dinilai tepat.
Langkah penarikan pasukan ini memperlihatkan semakin lebarnya jurang perbedaan antara AS dan sekutu NATO dalam menangani Iran, di tengah tekanan ekonomi yang juga dirasakan negara-negara Eropa.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Salah satu sumber utama ketegangan adalah kontrol atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Meski gencatan senjata sejak 8 April menghentikan pertempuran langsung, konflik mendasar belum terselesaikan—terutama terkait program nuklir Iran dan akses ke jalur energi tersebut.
Iran dilaporkan membatasi akses ke selat, sementara Angkatan Laut AS melakukan operasi pengawasan dan penegakan terhadap ekspor minyak Iran. Sejumlah kapal komersial bahkan telah dihentikan dalam operasi tersebut.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir. Ia juga menolak mengakhiri konflik terlalu cepat jika hanya akan memicu ancaman baru di masa depan.
Di tengah upaya diplomasi yang tersendat, ancaman eskalasi tetap membayangi. Iran dilaporkan telah meningkatkan kesiapan pertahanan udara, mengantisipasi kemungkinan serangan AS yang cepat namun intens—yang bisa memicu keterlibatan Israel.
Meski masih membuka opsi militer, Trump mengisyaratkan kehati-hatian. Ia menyebut pertimbangan kemanusiaan menjadi salah satu alasan untuk tidak segera melakukan eskalasi.
Sumber: Indiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







