Akurat Logo

Tanker Dihantam Proyektil Misterius, Iran: Selat Hormuz Tidak Bisa Diatur Unggahan Delusional Trump

Fitra Iskandar | 4 Mei 2026, 12:46 WIB
Tanker Dihantam Proyektil Misterius, Iran: Selat Hormuz Tidak Bisa Diatur Unggahan Delusional Trump
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Peta Adobe Stock

AKURAT.CO Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana operasi untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di jalur pelayaran vital tersebut.

Laporan insiden ini muncul di tengah perang pernyataan antara Washington dan Teheran. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyebut rencana Trump sebagai bagian dari “delusi”, sementara Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan bahwa setiap intervensi di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan diatur oleh unggahan delusional Trump!” tulis Azizi di platform X.

AS Luncurkan “Project Freedom”

Trump menyebut operasi yang diberi nama “Project Freedom” akan dimulai Senin waktu Timur Tengah. Namun, ia tidak merinci teknis pelaksanaannya.

Menurut Trump, misi ini bertujuan membantu kapal-kapal dan awaknya yang “terkunci” di perairan tersebut dan mulai kehabisan pasokan makanan serta logistik.

“Kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal mereka keluar dengan aman dari jalur air yang dibatasi, sehingga mereka dapat kembali menjalankan bisnisnya,” tulis Trump di akun Truth Social.

Ia juga mengklaim bahwa perwakilan AS tengah melakukan pembicaraan dengan Iran yang berpotensi menghasilkan perkembangan “sangat positif”.

Ribuan Pelaut Terjebak

Organisasi Maritim Internasional menyebut ratusan kapal dan hingga 20.000 pelaut tidak dapat melintasi Selat Hormuz akibat konflik yang berlangsung.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan akan mendukung operasi ini dengan kekuatan besar, termasuk 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, serta kapal perang dan drone.

Operasi tersebut disebut bertujuan “memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial” di kawasan strategis itu.

“Dukungan kami untuk misi defensif ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global,” ujar Laksamana Brad Cooper.

Tanker Diserang, Awak Selamat

Tak lama setelah pengumuman Trump, badan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah tanker terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz.

Insiden itu terjadi sekitar 140 kilometer di utara Fujairah, Uni Emirat Arab. Seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Selama lebih dari dua bulan terakhir, Iran disebut memblokir hampir seluruh pelayaran dari Teluk, kecuali kapal miliknya sendiri. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi global.

Sejumlah kapal yang mencoba melintas dilaporkan ditembaki, bahkan beberapa di antaranya disita oleh Iran.

Ketegangan AS-Iran Memanas

Pada April lalu, AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal dari pelabuhan Iran. Trump bahkan mengancam akan merespons dengan kekuatan jika ada pihak yang mengganggu operasi barunya.

Di sisi lain, Iran mengonfirmasi telah menerima respons AS atas proposal damai terbaru yang diajukan Teheran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa proposal 14 poin tersebut mencakup penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar, pencabutan blokade, pembebasan aset yang dibekukan, kompensasi, hingga pengakhiran konflik di berbagai front termasuk Lebanon.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa saat ini belum ada negosiasi nuklir yang berlangsung.

Sementara itu, Trump menyatakan pembicaraan berjalan “sangat baik”, meski sebelumnya ia mengindikasikan kemungkinan menolak proposal Iran karena dinilai belum memenuhi syarat.

Situasi di Selat Hormuz kini menjadi sorotan dunia, mengingat perannya sebagai jalur utama distribusi energi global dan potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi internasional.

 Sumber: Thenewdaily

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.