Kemungkinan Lebih Banyak Kasus akan Dilaporkan, WHO Perkirakan Penyebaran Hantavirus Bersifat Terbatas

AKURAT.CO Dunia internasional bergerak cepat menahan penyebaran hantavirus setelah wabah mematikan terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius. Sejumlah negara kini melacak para penumpang yang sudah turun dari kapal sebelum infeksi terungkap, termasuk orang-orang yang sempat melakukan kontak dekat dengan mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi sedikitnya lima kasus hantavirus dan tiga kasus suspek terkait wabah di kapal tersebut. Tiga korban meninggal dunia terdiri dari pasangan asal Belanda dan seorang warga Jerman.
Kapal pesiar MV Hondius menjadi sorotan internasional setelah wabah itu memicu kekhawatiran akan penyebaran virus Andes, salah satu jenis hantavirus langka yang diketahui dapat menular antar manusia. Meski demikian, WHO menegaskan situasi ini belum mengarah pada pandemi global seperti Covid-19.
Baca Juga: Wabah Misterius di Kapal Pesiar Atlantik: 3 Tewas, WHO Konfirmasi Hantavirus Mematikan
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan masa inkubasi virus Andes dapat berlangsung hingga enam minggu sehingga kemungkinan munculnya kasus tambahan masih terbuka.
“Dengan masa inkubasi virus Andes yang bisa mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jenewa.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, Pusat Medis Universitas Leiden di Belanda mengumumkan satu pasien tambahan dinyatakan positif hantavirus.
WHO Tegaskan Bukan Awal Pandemi Baru
Meski wabah ini memicu kekhawatiran lintas negara, WHO mencoba meredam kepanikan publik. Direktur kesiapsiagaan epidemi dan pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menegaskan wabah di MV Hondius tidak sama dengan Covid-19.
“Ini bukan awal epidemi. Ini bukan awal pandemi. Ini bukan Covid,” katanya.
WHO menilai wabah masih dapat dikendalikan apabila negara-negara menerapkan langkah kesehatan publik secara ketat dan melakukan pelacakan kontak secara menyeluruh.
Saat ini, sejumlah penumpang yang diduga terpapar virus tengah menjalani perawatan atau isolasi di Inggris, Jerman, Belanda, Swiss, dan Afrika Selatan.
Penumpang Diduga Terinfeksi Sebelum Naik Kapal
Pihak berwenang menduga salah satu penumpang telah terinfeksi sebelum menaiki kapal di Argentina. Penumpang tersebut diyakini kemudian menularkan virus kepada orang lain selama pelayaran melintasi Samudra Atlantik.
Kasus pertama melibatkan seorang pria asal Belanda yang naik kapal bersama istrinya dari Kota Ushuaia, Argentina. Ia meninggal dunia di atas kapal pada 11 April lalu.
Jenazah korban kemudian diturunkan di Pulau Saint Helena pada 24 April, lokasi di mana 29 penumpang lainnya ikut turun dari kapal.
Tragedi berlanjut ketika sang istri yang mengantar jenazah ke Afrika Selatan ikut meninggal dunia 15 hari kemudian setelah dinyatakan positif hantavirus pada 4 Mei.
Pejabat Argentina mengungkap pasangan tersebut sempat mengunjungi Chile, Uruguay, dan Argentina sebelum bergabung dalam pelayaran MV Hondius.
Penumpang dan Kru Dilacak di Berbagai Negara
Kondisi semakin mengkhawatirkan setelah perempuan Belanda tersebut diketahui sempat menaiki penerbangan komersial dari Saint Helena menuju Johannesburg saat sudah menunjukkan gejala.
Maskapai Airlink menyatakan penerbangan tersebut membawa 82 penumpang dan enam awak kabin. Kini, otoritas kesehatan sedang melacak seluruh orang yang berada dalam penerbangan itu.
Sementara itu, seorang penumpang asal Jerman juga dilaporkan meninggal dunia pada 2 Mei dan jenazahnya masih berada di kapal.
Operator kapal asal Belanda, Oceanwide Expeditions, menyebut tidak ada lagi individu bergejala di atas kapal saat ini. MV Hondius sendiri tengah menuju Pulau Tenerife di Spanyol.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan penyakit langka yang umumnya menyebar melalui hewan pengerat seperti tikus. Virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat, gangguan jantung, hingga demam berdarah.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk hantavirus. Penanganan medis difokuskan pada meredakan gejala dan menjaga kondisi pasien tetap stabil.
Pemerintah Argentina juga berencana melakukan pengujian terhadap populasi tikus di wilayah pesisir Ushuaia guna mencari sumber penyebaran virus sebelum kapal berangkat pada 1 April lalu.
Sumber: France24
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







